Upaya Memaknai Budaya 'Matur Suwun'


Mengabdi kepada negara, lembaga, masyarakat, orang tua, alih-alih kepada Tuhan adalah kondisi sadar setiap manusia. Bentuk pengabdiannya beragam. Dan tentu berbeda antara pengabdian kepada negara atau lembaga, dengan pengabdian kepada orang tua, guru dan Tuhan.

Mengabdi, asal kata abdi yang berarti hamba. Kawula dalam literatur jawa. Pelayan konotasinya. Berarti mengabdi bisa berarti melayani. Tidak akan mengulas pengabdian kepada Tuhan. Karena sifatnya yang personal, walaupun ada konteks syariat dan hakikat. Tetapi praktisnya berbeda.

Kita ambil satu contoh pengabdian. Mengabdi kepada orang tua. Dikala orang tua sakit, membutuhkan uluran tangan kita. Kita siap siaga. Kita selalu ada. Entah bagaimanapun kondisinya. Biasanya kita puncaki dengan mengatakan "yang terpenting doa kita tidak putus kepada beliau" walaupun hidup serumah dengan orang tua misalnya.

Dengan kata lain, pengabdian atau melayani orang tua disamping itu adalah kewajiban, terkadang kita sebagai anak masih cenderung mengambil enteng maksud pelayanan itu. Hal ini semoga menjadi pengingat selalu bagi penulis.

Kedua, saya ingin bertanya kepada siapapun. Khususnya dalam HIMMABA. Ada istilah ngabdi di HIMMABA sama seperti ngabdi kepada pengasuh. Seperti yang diceritakan oleh para pengurus/para senior, terbentuknya HIMMABA merupakan mandat dari KH. Najib Wahab yang berupa dawuh "jogoen lan ramuten adik-adikmu sing Nang malang". Dawuh tersebut merupakan subtansi dari semua kegiatan yang dilakukan oleh HIMMABA sampai sekarang.

Tetapi beda dengan sekarang, entah kenapa semangat dan makna dari dawuh tersebut semakin lama semakin memudar. Bisa jadi karena kurang bergengsinya riwayat pengalaman dengan HIMMABA yang bisa ditulis di CV, atau ketidaktahuan mereka bahwa HIMMABA adalah organisasi yang sudah terstruktur, atau kemungkinan terburuk adalah karena ketidaktahuan mereka akan sesuatu yang kasat mata, tapi dampaknya nyata: barokah.

Pengabdian secara utuh adalah bentuk terima kasih. Budaya 'matur suwun'. Dan tidak sedikit yang lupa perluasan makna dari 'matur suwun'. Matur suwun disini bisa diimplementasikan dengan memegang teguh dawuh "jogoen lan ramuten adik-adikmu sing nang malang" dan juga tidak lupa bahwa kita adalah santri walaupun sudah menyandang gelar alumni.

Tentu perlu kita tinjau kembali makna dari pengabdian. Tidak harus pintar, cerdas karena yang dibutuhkan bijak. Sehingga pengabdian tidak begitu sempit maknanya. Lebih-lebih praktiknya.

Dengan kata lain, tulisan ini pada akhirnya ingin mendudukkan kembali bagaimana dan apa itu pengabdian. Mengabdi adalah melayani, bukan menyadur sana-sini. Mengabdi berarti berterima kasih, puncak utamanya belajar berterima kasih atas apa yang melekat di dalam diri hari ini. Dan pada akhirnya mengabdi adalah budaya ritus matur suwun kepada Tuhan yang diejawantahkan dengan gerak  langsung kepada sekitar, secara sadar dari kepekaan individutidak diwakili siapapun.

(Panji HSC)

Comments