Puasa Sosmed untuk Kesehatan Mental


Seberapa Peduli Kita terhadap Kesehatan Mental? Halaman 1 ...
Pict source: Google

Perkembangan media sosial di era globalisasi ini berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat dunia dalam berbagai aspek, salah satunya berdampak pada perubahan kebiasaan manusia. Duduk berjam-jam menelusuri linimasa media sosial bukan merupakan kebiasaan yang aneh di zaman sekarang. Namun, kebiasaan ini bukan merupakan kebiasaan yang baik.

Perkembangan media sosial membuat masyarakat di dunia jadi lebih terhubung dari sebelumnya. Namun, ketergantungan media sosial memberikan efek yang tidak baik pada kesehatan mental. Menurut data dari asosiasi dokter anak AS (American Academy of Pediatrics) pada April 2011, anak-anak dan remaja harus mewaspadai potensi efek negatif dari media sosial, seperti perundungan siber dan depresi. Tapi risiko yang sama mungkin bisa juga terjadi pada orang dewasa. Contohnya seperti rentetan foto yang muncul di Instagram, hal itu dapat menjatuhkan kepercayaan diri beberapa orang. Sementara itu, mengecek Twitter secara berlebihan sebelum tidur, berdampak pada kualitas tidur yang buruk. Kondisi ini sering ditemukan oleh mereka para pengguna media sosial.
Ada beberapa alasan mengapa media sosial memengaruhi kesehatan mental penggunanya yang berlebihan. Pertama, mempengaruhi kepercayaan diri, yakni membandingkan diri sendiri dengan orang lain melalui akun media sosialnya. Kedua, berpengaruh terhadap hubungan sosial manusia, penting bagi kita untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan personal dengan orang lain. Namun, ini sulit dilakukan apabila kita selalu terikat dengan layar gadget. Ketiga, ketika kita terlalu fokus mendapatkan foto bagus agar dikagumi followers kita, kita jadi kurang menikmati suasana yang terjadi saat itu. Keempat, dampak terhadap kualitas tidur, tidur cukup merupakan hal yang penting bagi kesehatan. Akan tetapi, banyak orang yang bermain gadget-nya sebelum tidur sehingga sulit terlelap. Sebab, setiap cahaya biru buatan dari gadget menekan hormon melatonin atau perangsang tidur.
Menurut Nurfajri (2013), kecanduan media sosial diartikan sebagai gangguan psikologis dimana seorang pengguna menambah waktu penggunaan media sosial sehingga bisa membangkitkan rasa kesenangan, menimbulkan kecemasan, perubahan mood sampai depresi. Jika sudah depresi, remaja akan kesulitan untuk melakukan konsultan ke para ahli karena takut dengan stigma yang sudah dibangun masyarakat Indonesia ke mental illness. Mental illness atau gangguan kejiwaan merupakan gangguan mental, perilaku dan emosional yang menyulitkan Anda bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas lain.
Dari efek-efek negatif yang telah disebutkan tadi, bukan berarti media sosial tidak memiliki manfaat. Tentu hanya dengan media sosial manusia bisa terhubung dengan siapa saja dan kapan saja. Namun, penggunaan media sosial secara berlebihan merupakan hal yang buruk. Sebuah studi mengemukakan bahwa berhenti menggunakan media sosial untuk sementara waktu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang.
Menurut saya, ada beberapa cara untuk mengurangi kecanduan dalam pemakaian media sosial. Kita harus mencari kesibukan lain yang lebih bermanfaat. Dengan kita memiliki kegiatan lain, waktu luang kita akan semakin sedikit, sehingga hampir tidak ada waktu bermalas-malasan untuk bermain media sosial. Seperti apa kegiatan-kegiatan itu? Ada banyak kok kegiatan yang bermanfaat, seperti olahraga, membaca buku, melakukan hobi atau aktivitas yang disenangi bersama teman-teman, berkumpul bersama keluarga, bisa juga dengan mengikuti beberapa organisasi di sekolah atau kampus. Terkadang, kecanduan media sosial muncul akibat kebutuhan perhatian dan koneksi dengan orang lain. Jika masalahnya berasal dari kebosanan, maka temukanlah hal-hal menyenangkan untuk dilakukan secara offline.
Ketika kita berhadapan dengan seseorang secara langsung, tak ada yang memisahkan kita dan lawan bicara. Dengan begitu, kita berdua bisa berkomunikasi lebih intim, bebas, dan lebih menyenangkan. Fokuskanlah diri kita terhadap teman atau keluarga ketika menghabiskan waktu bersama. Bayangkan saja jika kita sedang berkumpul bersama teman atau keluarga, sedangkan mereka sibuk dengan memainkan media sosial di gadget-nya, pastinya kita akan jengkel bukan. Oleh sebab itu, hargai lawan bicara kita jika kita tidak mau diperlakukan seperti itu juga.
Menggunakan media sosial secara bijak juga bisa mengurangi kecanduan dalam pemakaiannya. Kita harus bisa menimbang penggunaan media sosial itu, apakah itu memang perlu. Jika tidak, segera tinggalkan. Bagaimana media sosial itu berdampak tergantung penggunanya sendiri. Sebenarnya, kita tidak perlu memiliki semua jenis media sosial, cukup satu saja yang menurut kita benar-benar penting atau yang memang kita senangi. Sebab semakin banyak kita memiliki akun media sosial, maka semakin banyak juga waktu yang akan kita habiskan untuk berselancar di dunia maya.
Mulailah membatasi penggunaan media sosial setiap harinya. Misalnya, kita bisa membuka media sosial satu jam per harinya, lalu meningkat 2 hari sekali, meningkat lagi 3 hari sekali, dst. Cobalah mematikan semua notifikasi media sosial. Ini merupakan strategi untuk mengurangi kecanduan media sosial tanpa harus menghapusnya. Sebab biasanya ketika muncul sebuah notifikasi dari sebuah media sosial, kita akan langsung membukanya. Setelah itu, kita bisa bertahan berlama-lama sampai berjam-jam tanpa kita sadari. Oleh karena itu, lebih baik kita menonaktifkan semua notifikasi tersebut.
Hindari juga memposting segala jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan, cobalah untuk menikmati momen-momen yang sedang kita lewati, jangan sampai kita fokus membuat postingan yang bagus untuk mengundang like dari para followers hingga kita terlewatkan dari momen-momen indah itu. Yang terakhir, cobalah untuk tidak membuka gadget sebelum tidur minimal 40 menit sebelum tidur. Kita perlu menjaga kualitas tidur kita agar bisa lebih fokus untuk beraktivitas di esok hari. Jangan meninggalkan pekerjaan hanya untuk sebuah media sosial, kerena itu bisa membuat kita tidak produktif. 
Oleh : Qumi Laila 


Daftar Pustaka

Anonim. 2017. 6 Dampak Media Sosial Bagi Kesehatan Mental Kita (online). (https://kumparan.com, diakses 13 April 2019)

Hutahayan, Benny. 2019. Peran Kepemimpinan Spiritual Dan Media Sosial Pada Rohani Pemuda Di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cililatan. Yogyakarta: Deepublish.

Ide, Pangkalan. 2014. Organic Monter Drinks. Jakarta: PT Gramedia.

Natasha, Maria. 2020. Belum Tahu Apa Itu Mental Illness? Ini Penjelasan Lengkapnya (online). (https://www.sehatq.com, diakses 14 April 2020)

Prasadja, Andreas. 2009. Ayo Bangun dengan Bugar Karena Tidur yang Benar. Jakarta: Penerbit Hikmah.

Comments