Hikayat Wabah Ngutil

Pict source: Google

Sudah delapan hari yik Haidar berdiam diri dirumahnya. Sudah selama itu pula ia tak diperbolehkan keluar dari kamar Sebab kota damai nan permai yang ia tinggali itu, kini berubah muram akibat diselimuti wabah, sebuah wabah yang terdengar sedikit aneh dan lucu: wabah mengutil, yang membuat penderitanya seperti kleptomania, mengutil segala benda yang bukan miliknya, kemudian dibawa pergi entah ke mana. Wabah ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kota dalam waktu singkat. Bahkan kepolisian sampai angkat tangan dengan fenomena ini, akibat berbuntut kerusuhan fatal di mana-mana, yang seluruh penduduknya saling berebutan harta benda di sekitar mereka, tak memandang ras atau jabatan, sehingga banyak bangunan hancur serta hangus terbakar.

Yik Haidar hanya duduk pucat di kursi empuknya, dengan terbungkus baju pelindung dari plastik berwarna biru. Ia menyaksikan berbagai laporan dari para bawahannya yang berada di ruang kamarnya masing-masing dengan panggilan video. Tampak kesemuanya mengenakan pakaian yang sama meski warnanya berbeda-beda, yakni baju pelindung wabah yang terbuat dari plastik.

 Kini seluruh wilayah terkecuali Balai Kota sudah di-cap sebagai zona merah. Praktis, Balai Kota yang sebelumnya hanya dilingkari oleh taman air, kini dikunci oleh meriam dan pagar betis guna menghalau siapa pun yang mencoba masuk. “Perkiraan kami, puncak wabah dimulai pasca kampanye Yik Haidar di Lapangan Kota delapan hari lalu. Satu jam setelah acara itu, sejumlah penduduk mengeluhkan tangan mereka bergerak-gerak sendiri seperti ada yang mengontrol, setelah itu mereka saling berkeliaran di jalanan, dan mencuri benda yang bukan milik mereka. Mereka sendiri tak sadarkan diri. Mereka tampak seperti mayat hidup!” Ujar salah seorang anak buah, Aang, yang merupakan Kepala Dinas Kesehatan Kota.

 “Setelah itu, bagaimana langkahmu selanjutnya?” Tanya Yik Haidar yang berkumis tipis itu. “Kami belum tahu, Yik. Tetapi kami terus mengusahakan untuk mencari tahu siapa penderita pertama wabah ini, karena hampir semua penduduk terinfeksi di waktu yang sama. Dan penyakit ini seperti siklus. Pada hari pertama hingga keempat, penderita merasakan tangannya seperti ada yang mengontrol, dan mulai mengutil benda-benda yang bukan miliknya. Setelah itu, hari kelima hingga ketujuh, penderita sudah seperti mayat hidup, dan mulai berkeliling di mana-mana untuk mencuri dan merusak apa saja...”
Setelah itu, Aang tampak membolak-balik beberapa lembaran yang ia pegang.
“...sehingga kesimpulan kami, penderita pertama ini justru tak merasakan gejala sama sekali Yik, karena ia akan langsung merasakan siklus paling parahnya–pada hari yang kita belum tahu kapan. Sehingga kami sudah siap dengan itu...”

Yik Haidar pun menjeda rapatnya sejenak. Ia tampak marah dan memukul-mukul mejanya. Ia bingung setengah mati. Pasalnya, wabah ini menyebar bersamaan dengan keputusannya untuk memeriksa dan mengadili para koruptor yang telah merampok dana penduduk. Ia sangat ingin mereka bisa dihukum tegas–berupa hukum gantung. Tetapi dengan adanya fenomena ini, Pemerintah menjadi bingung–siapa saja koruptor yang telah terbukti menggasak uang kota, karena hampir seluruh penduduknya telah menjadi maling, termasuk para polisi dan pengadilnya. “Pasti ada salah satu pihak yang menyebarkan wabah ini guna menggagalkan keputusan itu, sehingga menghancurkan reputasi saya, sekaligus menggagalkan pencalonan saya untuk yang kedua kali.

Ini adalah konspirasi yang sangat menjijikkan!” Setelah itu, Yik Haidar memberi instruksi kepada Kepala Polisi Kota. “Pak Kepala Polisi. Cepat telusuri siapa yang membawa virus itu. Jika perlu, gantung dia di tengah Lapangan Kota, agar wabah ini segera mati!” “Siap, yik !” Tak lama kemudian, tiba-tiba saja mata Yik Haidar meruncing. Ia dibuat terkejut dengan pemandangan dari kejauhan yang ia saksikan dari balik jendela kacanya yang super besar: para penduduk telah menyerbu Balai Kota, bahkan sudah merusak satu pagar betisnya. Ia yang panik, kini mencoba melindungi diri dengan berjalan menuju pintu ruangan. Tetapi baru langkahan pertama, tangannya merasakan sesuatu yang aneh. Ia tampak gemetaran, dan seketika menyambar seluruh benda di sekitarnya. Ia kini hanya mampu berteriak. Ia syok–karena ternyata, dialah penderita pertama itu. 

panji nur muhammad sholih (akupengenpentol) 

Comments