Damai Itu Bisa Kok


Persatuan adalah sebuah iktikad baik bagi bangsa Indonesia, tentunya bagi seluruh elemen bangsa dan negara menginginkan kehidupan yang damai, sejahtera, adil, dan makmur. Bangsa ini mengharapkan kehidupan yang tenang, saling menghargai, tolong menolong, juga gotong royong yang menjadi pedoman hidup bersama.
Sebagai penerapan bangsa yang merdeka, maka bangsa yang berdaulat harus dalam kebebasan, keadilan, kebaikan, kecerdasan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang menciptakan orang-orang optimis untuk keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja akhir-akhir ini sepertinya usaha untuk menjadi bangsa yang merdeka sedikit mengalami kendala. Saya pikir, kendala ini cukup mengejutkan. Sudah lama sekali kejadian yang melibatkan pelecehan ras tidak terjadi. Tapi, semenjak kasus Papua mencuat melalui video yang tersebar, dan akhirnya berjung pada demonstrasi massa di Malang, Surabaya, juga di Papua sendiri. Ini jelas sangat merugikan semua pihak. Apalagi, terjadi pada momentum hari kemerdekaan Indonesia.
Perihal kebenarannya bagaimana, banyak sekali yang kemudian berspekulasi. Ada yang mengira ini adalah adu domba semata, yang pasti dengan kejadian itu berdampak pada pecah belahnya warga Indonesia.

Saya teringat tulisan Andi Sitti Rohadatul Aisy dalam sebuah makalah, "Perdamaian dunia itu bagaikan utopia, semuanya bahagia dan segalanya sempurna". Sayangnya, dalam menjalani kehidupan, terlihat jelas masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas, terus fokus pada perbedaan, dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Ada pula yang bahkan bertindak lebih jauh dengan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Bahkan, hingga hari ini senjata-senjata yang menjadi alat pertempuran utama masih terus diproduksi bahkan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.
"Make love not war", slogan yang kencang dikumandangkan di akhir tahun 60an sampai awal 70an ketika Amerika memutuskan perang terhadap Vietnam, lalu ada pula slogan peace on earth, akhirnya berhenti hanya sebatas slogan dan harapan yang tidak akan pernah bisa diwujudkan. Lantas, masih percayakah kita pada perdamaian? Bukankah perdamaian itu tidak sulit dan lebih memberikan harapan? Mengapa harus kita persulit? Dan 1001 pertanyaan lainnya yang membuat kita semakin dengan skeptis dengan perdamaian itu sendiri.

Bagaimanapun, di Indonesia telah ada satu pondasi bernama Pancasila dengan jargon Bhinneka Tunggal Ika. Seperti dawuhnya Almaghfurllah Alm. KH. Hasyim Muzadi "Pancasila bukan agama, tapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan, tapi titik temu dari banyaknya perbedaan jalan. Berbeda agama, suku, budaya, dan bahasa, hanya pancasila yang mampu menyatukannya."
Jadi apabila kita semua meyakini bahwa kita bisa membangun perdamaian, maka kita amalkan setiap butir-butir Pancasila. Kita sudah lama hidup dalam perbedaan. Setidaknya kita berusaha untuk saling menghargai dalam setiap perbedaan. Kita adalah satu, kitalah Indonesia. Jangan sampai kita menjadi benalu permusuhan di negeri sendiri dengan cara menyebarkan ujaran kebencian di mana-mana. 

Sekian.

Mojokerto, 2019
Muhammad Zaim Affan (Wakil Ketua HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang Periode 2012)

No comments:

Biasakan Berkomentar.
(Komentar Anda Merupakan Kehormatan Bagi Kami) - Terima Kasih

Powered by Blogger.