Fluktuatif Kehidupan Kita

"Kita menyaksikan orang-orang menghilangkan tatanan kesumpekan di berbagai tempat: mudik ke kampung halaman, silaturahmi ke pesantren, bahkan di cangkruk di warungan kopi. Padahal tatanan kesumpekan seseorang tidak pernah luput dari faktor sebab-musabab intern diri kita. Bagaimana cara kita belajar menata jiwa dan raga?"
Salah satu sifat utama dalam menikmati hidup adalah mampu bersikap ikhlas dan berserah syukur kepada pencipta, diantara ikhlas dan syukur ada sebuah sifat yg cenderung kita lupa. Padahal, sifat tersebut sangatlah realistis apabila kita mampu melaksanakannya dengan tanggung jawab dan bijaksana. Sebaliknya, jika diantara sifat ikhlas dan syukur tersebut jauh dari jiwa dan raga kita maka yang terjadi adalah kesumpekan dengan mudahnya datang tanpa kita nantikan, kegelisahan, kebingungan, kekosongan hati mudah beradaptasi walaupun kita sering introspeksi diri.
Sebelum memahami konteks tatanan ''ikhlas dan syukur" kita perlu mencermati kedua istilahnya agar tidak terjadi ketimpangan dalam pemaknaannya.
Yang pertama Ikhlas, berasal dari kata akhlasha-yakhlushu yg berdefinisi murni dan hilang noda. Manifestasi dari dari ikhlas adalah niat yg baik, murni melakukan tanpa pamrih tanpa mengharap balasan.
Kemudian yang kedua Syukur, sebuah pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, mengandung makna "bertambah dan bertumbuh" sehingga diharapkan segala apapun yg terjadi selalu kita terima dengan perasaan suka, termasuk sebagai sarana Agar kebarohan mampu masuk kedalam jiwa dan raga kita dengan ringan.

Selanjutnya makna terpenting dari ikhlas dan syukur yg perlu kita patenkan pada diri kita adalah Istiqomah. Dalam pemaknaan Istiqomah secerdas apapun pikiran, sehebat bagaimanpun kekuatan, setinggi apapun pendidikan, segalanya masih tetap kalah dalam fase kepribadian seseorang. Karena keistimewaan Istiqomah jarang kita imolementasikan pada diri kita masing-masing.

Berbicara Istiqomah memang tidak mudah seperti berbicara tanpa perlu melakukannya. Namun lebih dari itu, sulitnya sangat ampuh terkhusus bagi kita yg masih relatif bersikap semangat di awal dan rapuh di tengah bahkan ajur di akhir. Dalam aspek pertanyaannya.

Mengapa Istiqomah penting?
Mengapa kita harus beristiqomah pada kebaikan? 

Jawabannya adalah agar kehidupan kita tertata, pola kesumpekan selalu pada tahap balance/imbang dengan tidak mudah sumpek, termasuk kecendrungan penataan jiwa dan raga kita stabil, sehingga dalam melaksanakan perjalanan dalam kehidupan selalu berwarna.
Adapun berbagai macam tahapan yg kita mesti praktekan agar Istiqomah tetap melakat dalam jiwa dan raga kita meliputi:
1. Menata niat kita setulus-tulusnya dengan konteks ihdinash shiratal mustaqim (tunjukkanlah kami jalan yang istiqamah) maksudnya adalan jalan yg lurus, benar dan konsisten.
2. Berkomitmen menata pola kebaikan dan meninggalkan sesuatu yang tidak cocok dengan nurani. Sekalipun sangat sulit harus kita lalui dengan paksaan demi kemaslahatan Istiqomah.
3. Tahdzibul qulub ( berusaha menyadarkan mendidik hati dengan akhlak yg semakin terkontrol)
4. Berdedikasi Al-iqamah (selalu melaksanakan dengan konsisten) pada aspek-aspek menata jiwa dan raga agar kesumpekan tidak melanda kita. Karena kebaikan terkadang tidak perlu meninjau dari kuantitasnya semata, lebih penting dari itu segi kualitas dan kontinuitas sangatlah di wajibkan. 

Wa yaa mushari fal qulubi Tsabit qulubana alaa dzinik wa thaa ati'

Mudah-mudahan kesumpekan yg selalu datang dalam diri kita, yang selalu melanda pada jiwa-jiwa dan raga-raga kita, selalu hilang, pergi dan mudah teratasi dengan cara kita untuk selalu beristiqomah, teasuk menjalankan perintah ikhlas dan syukur. Semuanya harus kita laksanakan dengan dorongan nurani agar berasa indah dan fluktuatif kehidupan kita tertata dengan stabil. Semoga bermanfaat


Warkit
15 Maret 2019
 
Ahmad Mufid, S.Pd


No comments:

Biasakan Berkomentar.
(Komentar Anda Merupakan Kehormatan Bagi Kami) - Terima Kasih

Powered by Blogger.