Santri, Kopi dan Adab Meminumnya



Kebiasaan minum kopi dan nongkrong di kafe maupun warung kopi sedang digandrungi masyarakat Indonesia saat ini. Kafe atau warkop tidak pernah sepi dari pengunjung, mulai dari yang tua, muda, laki-laki, perempuan, mahasiswa, santri, guru, karyawan, dan dari beberapa kalangan lain. Konon kebiasaan minum kopi juga memiliki beberapa manfaat, selain membuat mata melek mulai malam hingga pagi, minum kopi dapat mengurangi resiko kanker kulit, sumber metabolisme tubuh yang baik, meningkatkan stamina dan membuat otak lebih segar dan pintar, makanya beberapa ilmuwan dan ulama dalam sejarahnya mempunyai kebiasaan minum kopi saat menelaah atau mempelajari suatu ilmu.

Meskipun demikian kebanyakan minum kopi atau ngopi juga meliki efek samping, semisal naiknya asam lambung dan membuat kanker alias kantong kering, apalagi bagi mereka yang masih mahasiswa atau santri, yang notabanenya belum punya pekerjaan. Bagi mahasiswa dan santri akhir bulan benar-benar mereka maknai sebagai masa kini (berasal dari bahasa arab: jama‘ dari lafadz miskinun).

Beberapa hari yang lalu, Bapak Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan keterkaitan antara kopi, santri dan literasi dalam orasi budaya pada Malam Kebudayaan Pesantren. Acara yang menjadi serangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2018 di Panggung Krapyak, Yogyakarta.
Santri yang malas dan tidak produktif dianggap kurang ngopi, santri yang emosional dan gampang dibohongi pertanda ngopinya kurang pahit, santri yang kuper dan kudet berarti ngopinya kurang jauh, santri yang suka ngeyel dan menyalahkan orang lain, itu tandanya belum pernah menyeduh kopi. Adapun santri yang mementingkan diri sendiri, itu jelas sukanya kopi gratisan ,tapi kalau ada santri jam segini tak kunjung ngopi, itu mungkin belum dapat rejeki.” tutur Bapak Lukman Hakim Saifuddin.
Kemudian Bapak Menteri Agama juga menjelaskan, bahwa sejarah kopi bukan hanya minuman para kolonial penjajah bangsa Indonesia, tetapi lama sebelum itu, para ulama terdahulu juga mempunyai tradisi minum kopi, guna meningkatkan konsentrasi dan mempertajam intuisi.
"Disebutkan, kopi adalah minuman para ulama karena bisa meningkatkan konsentrasi dan mempertajam intuisi. Diulas pula perdebatan fikih tentang hukum menyeruput kopi. Maklum, kopi sudah terlalu jauh masuk ke wilayah pesantren. Sampai ada adagium bahwa penggerak utama pesantren itu sesungguhnya terdiri dari: kiai, santri, ngaji, dan kopi," lanjutnya
Oleh karena itu, sebagai santri yang meneladani para kiai dan ulama salaf. Perlu diketahui bahwa meminum kopi atau ngopi pun ada adab dan tata caranya, salah satunya yakni sebelum minum kopi atau ngopi, dianjurkan untuk membaca tawasul terlebih dahulu, agar ngopi juga bernilai ibadah sekaligus memperoleh berkah. Akhirnya, Selamat Memperingati Hari Santri Ngopi Nasional 2018. Bersama Santri, Ayo Lur Ngopi. Akhir Bulan, Tumbas Indomie..
Tawasul sebelum nyeruput Qohwa lur.
الفَاتِحةَ , لِمَشَايِخِ القَهْوَةِ الْبُنِّيَة ,خُصُوْصًا اِلَى قُطْبِ الأَوْلِيَاء شَيخْ عَلِى بن عُمَر الشَّاذِيلِى وَاِلَى اَبِى بَكْر العِيدْرُوْس , وَمَنْ شَرِبَهَا بِنِيةْ , مِنْ صَالِحِى الصُّوفِيَّةْ , أَنَّ اللّهَ يَتَغَشَّاهُمْ بِالرَّمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَأَنَّهُ بِجَاهِهِمْ يُبَلِّغُنَا كُلَّ أُمْنِيَّةْ , وَيَحْفَظُنَا مِنْ كُلِّ أَذِيَّةٍ وَبَلِيَّةْ , وَيُسَهِّلُ أَرْزَاقَنَا الْحِسِّيَّةَ وَالْمَعْنَوِّيَّةْ , وَيُصْلِحُ جِهَاتِنَا الْنْدُوْنِسِيَّة , وَغَيْرِهَا مِنَ الْبُلْدَانِ الإِسْلاَمِيَّةِ وَيُصْلِحُ العَمَلَ والنِّيَّةْ , وَالْعَاقِبةَ الذُّرِّيَّةْ , بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْبَرِيَّةْ , صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ , وَاِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ , الْفَاتِحَةْ....

Oleh: M.Rofiul Hamim

No comments:

Biasakan Berkomentar.
(Komentar Anda Merupakan Kehormatan Bagi Kami) - Terima Kasih

Powered by Blogger.