Mewaspadai Kesalahan Makna Makan, Minum, dan Tidur dalam Bulan Ramadhan



Oleh: Ali Hasan Assidiqi *)
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,” (QS. al-A’raf: 31).

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang sangat di harapkan oleh semua umat muslim di dunia untuk bisa melaksanakan hal-hal ibadah yang lebih. Hal tersebut terjadi karena pada bulan ini banyak hikmah-hikmah yang bisa diambil untuk melipatgandakan pahala kebaikan dalam beribadah kepada Allah. Kegiatan tersebut seperti: membaca al-Qur’an, shalat sunah, berdoa, sedekah dan lainnya. Namun dibalik itu semua, ada beberapa hal yang sangat jarang orang perhatikan dalam bulan Ramadhan ini. Salah satunya adalah memaknai makan, minum dan tidur pada bulan Ramadhan.

Pada kesalahan makna makan dan minum, tidak jarang dari umat muslim ketika waktunya berbuka atau selesai puasa mereka menyiapkan berbagai macam makanan hingga tidak jarang dari mereka dalam sehari itu pula selalu makan dengan puas hingga lelah. Sementara dalam hal tidur, kita sering menemukan istilah “tidur itu bernilai ibadah” sehingga menyebabkan banyak muslim sering mengartikan dengan tidur dari Dhuhur sampai menjelang buka puasa (waktu Ashar).  Oleh karena itu dalam artikel ini, penulis akan membahas tentang tiga permasalahan di atas dan bagaimana tanggapan Islam dalam menanggapinya.

Makan dan Minum dalam Islam di Bulan Ramadhan
Pada bulan Ramadhan tidak sedikit orang membuat berbagai variasi menu makanan dan minuman mereka. Walau hal itu diperbolehkan, tetapi tidak pula dalam Islam berlebihan dalam memakannya atau membuatnya hingga terdapat sisa yang tidak dimakan atau dihamburkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Makan dan minumlah dan janganlah berbuat israf (berlebihan), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf (berlebihan)” (Al-A’raf ayat 13). Dalam ayat ini menganjurkan agar makan dan minum merupakan kebutuhan manusia namun tidak dianjurkan berlebihan karena berbahaya.

Hal tersebut semakin dijelaskan dan diperkuat oleh hadits Rasulullah Saw dari Abu Hurairah bersabda: “sungguh sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian adalah nafsu yang menggebu dalam perut dan kemaluanmu serta hal-hal yang menyesatkanmu dalam hawa nafsu“ (HR Ahmad). Dari hal tersebut menjelaskan bahwa berlebihan dalam makan dan minum tidak boleh dan dampaknya pun sangat berbahaya seperti banyak tidur, malas melakukan sesuatu baik di waktu malam dan siang. Hal ini pun pernah dicontohkan dalam hadits shahih yaitu “Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia, mereka adalah orang yang paling  lapar di hari kiamat”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya,  dengan tambahan tambahan: Maka Abu Juhaifah tidak pernah makan memenuhi perutnya (kekenyangan) sampai meninggal dunia. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab As-Silasilah As-Shahihah, no 342).

Begitu pula dalam hadits yang menjelaskan tentang pembagian makan minum dan lainnya dalam perut manusia yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw “Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak  ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya." (HR. Tirmizi, no. 2380, Ibnu Majah, no. 3349, dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab shahih Tirmizi, no. 1939). 
Oleh karena itu, dalam makan dan minum terutama bulan Ramadhan selayaknya sesuai kebutuhan dan jika masih banyak sisa alangkah lebih baik di berikan kepada teman atau tetangga sekitar yang membutuhkan agar berdampak baik. Hal ini pun juga disuruh oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya “makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah tanpa disertai berlebihan dan kesombongan” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
                         
Tidur dalam Islam di Bulan Ramadhan
Dalam hal ini banyak ditemukan muslim pada bulan Ramadhan suka tidur siang hari hingga sore hari dan malamnya mereka gunakan untuk bermain atau mengobrol saja sehingga mereka tidak merasa puasa sedikit pun pada waktu itu. Bukan hanya itu kadang juga tidak jarang dari umat muslim sampai lupa shalat karena tertidur pulas. Hal ini jika dikaitkan dengan bulan Ramadhan sangat rugi besar apabila dalam malamnya pun tidur seperti biasa juga, karena mengingat bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan berlipatnya pahala kebaikan.

Sebagai seorang muslim alangkah baiknya dalam hal ini dikurangi sehingga lebih banyak melakukan aktivitas ibadah. Hal ini pun sesuai perintah seperti apa yang diucapkan dari Hasan Al-Basri Ra bahwasanya sesungguhnya Allah Swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai saat untuk berlomba-lomba dalam amal kebaikan dan bersaing dalam melakukan amal shaleh. Yang mana dalam al-Quran terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 148 yaitu: “Dan bagi tiap tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia hadapkan kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Bukan hanya itu, dalam hal tidur juga terdapat beberapa cara yang dianjurkan pada siang dan malamnya. Dalam siang hari, dari hadits Nabi Muhammad Saw bersabda “Tidur sejenaklah kamu sekalian di siang hari, karena sesungguhnya setan tidak tidur siang sejenak” (HR Abu Nu’aim). Sedangkan waktu yang baik tidur siang ini sebagaimana dalam perkataan Imam Ghazali dalam kitab Ihya ulumuddin yang menukil dari beberapa hadits yang merupakan lanjutan dari hadits di atas yaitu “sebaiknya seseorang itu bangun dari tidurnya sebelum sesudah matahari tergelincir untuk menunaikan shalat dhuhur (sebelum dhuhur)”.

Sedangkan dalam hal tidur malam, Allah sudah menyebutkannya dalam al-Qur’an surah Al-Muzammil ayat 1-8 yaitu “Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit darinya yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. 

Dalam hal ini Allah memerintahkan kepada rasulnya untuk meninggalkan selimut yang menutupi dirinya pada malam hari, lalu bangun menunaikan shalat malam / qiyamul lail / tahajjud. Dari itu pula, sebagai umat Nabi Muhammad selayaknya kita semua juga berusaha melaksanakan hal itu agar mendapat pahala dan hikmahnya dibalik shalat malam tersebut. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa alangkah baiknya dalam bulan Ramadhan mengurangi hal-hal tidak bermanfaat seperti tidur berkepanjangan dan lebih baik berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bekal menuju akhirat kelak. Dan tidurlah sedikit sebelum Dhuhur dan tidurlah sedikit pula pada malam hari serta bangunlah pada sebagian malam untuk melaksanakan shalat qiyamul lail (sesudah tidur).

Dari segala pemaparan tentang bentuk makan, minum dan tidur yang diperintahkan agama Islam di atas, maka selayaknya umat Islam pada setiap harinya utama bulan Ramadhan hendak melalukan kebaikan-kebaikan seperti: meninggalkan makan dan minum berlebihan, bersedekah terhadap orang lain, meninggalkan tidur berkepanjangan dan tidurlah sedikit sebelum dhuhur dan bangunlah pula pada tidur malam di sepertiganya untuk melaksanakan shalat qiyamul lail.

Oleh : Zainal Abidin/PAI UIN Malang







Comments