Kajian Fikih Dalam Menanggapi Hukum Sewa Rahim



Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, yang salah satu hikmahnya adalah supaya manusia itu hidup berpasang-pasang membangun rumah tangga/pernikahan yang damai dan teratur. Salah satu tujuan dari pernikahan tersebut adalah untuk memperoleh keturunan demi untuk mewujudkan keturunan yang  sah. Dengan demikian setiap keluarga saling mengenal antara anak dengan bapak dan ibunya, terhindar dari orang lain yang mengakibatkan perpecahan dalam rumah tangga tersebut.


Meski begitu tidak semua pasangan suami istri bisa mendapatkan keturunan sebagaimana yang di harapkan, hal itu di sebabkan banyak faktor, baik dari pihak suami maupun dari istri. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari jalan supaya bisa mendapat keturunan sebagaimana yang mereka inginkan, baik dengan berobat maupun dengan cara memanfaatkan teknologi sains modern.

Salah satu dari penemuan teknologi sains modern yang sangat populer saat ini adalah inseminasi buatan pada manusia. Inseminasi buatan yang di maksud adalah penghamilan buatan yang di lakukan terhadap seorang wanita tanpa melalui cara alami, melainkan dengan cara memasukkan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter. Istilah lainnya adalah kawin suntik.  Penemuan ini sangat bermanfaat bagi manusia, terutama bagi pasangan suami istri yang tidak bisa mendapatkan anak dengan cara alami.

Untuk menanggapi hal tersebut banyak perbedaan pendapat yang muncul  untuk membahasnya. Beberapa ulama berpendapat ada yang mengatakan bahwa itu haram dan ada pula yang mengatakan diperbolehkan.

a. Pendapat yang mengharamkan


1. Menurut Syekh Mahmud Syaltut

Jika inseminasi itu dari sperma laki-laki lain yang tidak terikat akad perkawinan dengan wanita maka sesungguhnya tidak dapat di ragukan lagi, hal itu akan mendorong manusia ketaraf kehidupan hewan dan tumbuh-tumbuhan dan mengeluarkannya dari harkat kemanusiaan, yaitu harkat kemasyarakatan yang luhur yang dipertautkan dalam jalinan perkawinan yang telah disebar luaskan. Dan bilamana inseminasi buatan untuk manusia itu bukan dari sperma suami, maka hal seperti ini statusnya tidak dapat diragukan lagi adalah suatu perbuatan yang sangat buruk sekali dan suatu kejahatan yang lebih munkar dari memungut anak.
       
2. Menurut Mu’tamar Tarjih Muhammadiyah tahun 1980

Tidak dibenarkan menurut hukum Islam, sebab menanam benih pada rahim wanita lain haram hukumnya sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

" لا يحل لإمرىء يؤمن بالله واليوم الأخر ان يسقى ماءه زرع غيره "

Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat menyirami airnya ke ladang orang lain”.

Demikian pula di haramkan karena (1) Pembuahan semacam itu termasuk kejahatan yang menurunkan martabat manusia, dan (2) Merusak tata hukum yang telah di bina dalam kehidupan masyarakat.

3.      Pendapat Munas Alim Ulama’ (NU) Di Sukorejo Situbondo Tahun 1983
Tidak sah dan haram hukumnya menyewakan rahim bagi suami istri yang cukup subur dan sehat menghendaki seorang anak. Namun kondisi rahim sang istri tidak cukup siap untuk mengandung seorang bayi. Selain hadis di atas para ulama’ peserta munas berdasarkan hadis Nabi yang terdapat pada Tafsir Ibnu Katsir Juz 3/326

وقال ابوبكر بن ابي الدّنيا حدّثنا عمّار بن نصر حدّثنا بقيّة عن ابي بكر بن ابي مريمَ عن الهثيم بن مالك الطَّائيِّ عن النّبيّ صلى الله عليه وسلّم : ما من ذنبٍ بعد الشرك اعظمُ من نطفة وضعها رجل فى رحمٍ لايحلّ له.

Rasulullah bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik di bandingkan seseorang yang menaruh spermanya di rahim wanita yang tidak halal baginya”.

4.      DR. Yusuf Qardawi, berpendapat bahwa penyewaan rahim tidak diperbolehkan, larangan ini dikarenakan cara ini akan menimbulkan sebuah pertanyaan yang membingungkan, “siapakah sang ibu dari bayi tersebut, apakah si pemilik sel telur yang membawa karakteristik keturunan, ataukah yang menderita dan menanggung rasa sakit karena hamil dan melahirkan?” padahal, ia hamil dan melahirkan bukan atas kemauannya sendiri.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum haram yang terdapat dalam sewa rahim dapat ditinjau dari beberapa segi, diantaranya adalah dari segi sosial, dapat menarik ketaraf kehidupan seperti hewan dan pencapuran nasab. Segi etika, bahwa memasukkan benih kedalam rahim perempuan lain hukumnya haram berdasarkan hadis Nabi serta bagi seorang wanita bisa menimbulkan hilangnya sifat keibuan dan merusak tatanan kehidupan masyarakat.

b. Pendapat yang memperbolehkan.

1. Prof. Dr. Jurnalis Udin, PAK. berpendapat apabila rahim milik istri peserta program fertilisasi in vitriol transfers embrio itu memenuhi syarat untuk mengandung embrio itu hingga lahir, penyelenggaraan reproduksi bayi tabung yang proses kehamilannya di dalam rahim wanita lain hukumnya haram. Sebaliknya apabila; 
(a) rahim istrinya rusak dan tidak dapat mengandungkan embrio itu
(b) belum di temukan teknologi yang dapat mengandungkan embrio itu di dalam tabung hingga lahir 
(c) dan karena itu satu-satunya jalan untuk mendapatkan anak dari benihnya sendiri hanyalah melalui jalan  surrogate mother maka hukum menyelenggarakan reproduksi bayi tabung dengan menggunakan rahim wanita lain  hukumnya mubah, karena hal itu dilakukan selain dalam keadaan darurat juga karena keinginan mempunyai anak sangat besar.

2.  H. Ali Akbar, menyatakan bahwa: Menitipkan bayi tabung pada wanita yang bukan ibunya boleh, karena si ibu tidak bisa menghamilkannya, disebabkan karena rahimnya mengalami gangguan, sedang menyusukan anak kepada wanita lain di perbolehkan dalam islam, malah boleh di upahkan. Maka boleh pulalah memberikan upah kepada wanita yang meminjamkan rahimnya.

3. H. Salim Dimyati berpendapat; Bayi tabung yang menggunakan sel telur dan sperma dari suami yang sah, lalu embrionya di titipkan kepada ibu yang lain (ibu pengganti), maka apa yang di lahirkannya tidak lebih hanya anak angkat belaka, tidak ada hak mewarisi dan di warisi, karena anak angkat bukanlah anak sendiri, tidak boleh di samakan dengan anak kandung.

Pendapat pertama lebih menekankan pada konsep darurat, yaitu keadaan dimana keinginan memperoleh keturunan sangat besar, sedangkan belum ditemukan cara selain menyewa rahim. Pendapat kedua diperbolehkannya karena kandungan sang istri tidak bisa mengandung, pendapat ini menyamakan dengan diperbolehk annya menyusukan anak kepada perempuan lain, bahkan dengan memberikan upah. Sedangkan pendapat terakhir menyatakan bahwa boleh melakukan sewa rahim, namun anak yang dihasilkan tetap tidak seperti anak kandung, bahkan statusnya seperti anak angkat.

c. Tinjauan Fikih Kontemporer

Dalam masalah sewa rahim ada beberapa hal yang perlu di cermati untuk menentukan hukum yang sesuai dengan tujuan dan maksud syari’at, memperhatikan kemaslahatan serta mempertimbangkan dampak buruknya karena dalam prosesnya sewa rahim melibatkan beberapa pihak yang saling berhubungan, mereka yaitu pemilik sperma, pemilik ovum (pemilik sel telur) dan pemilik rahim, di samping itu kata sewa dalam hal tersebut merupakan akad muamalah yang perlu pula ditinjau lagi segi ke legalannya, bahkan jika tetap dilakukan memberikan dampak yang buruk dan rumit, khususnya pada status anak yang dihasilkannya.

Islam mengatur bagaimana seorang wanita dapat disebut sebagai ibu sejati, karena dalam Al-Qur’an telah di tegaskan, anatara lain dalam:

QS Al-Baqarah ayat 233

ولوالدت يرضعن اولدهن حولين كاملين, لمن اراد ان يتم الرضاعة, وعلى المولود له  رزقهنّ وكسوتهنّ بالمعروف,

para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yakni bagi ibu yang ingin menyempurnakan penyusuannya

QS An-Nahl ayat 78
والله اخرجكم من بطون امّهاتكم  لاتعلمون شئا وجعل لكم السمع والابصار والافئدة لعلكم تشكرون.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur”.

QS Luqman ayat 14
ووصينا الانسان بوالديه حملته امه وهنا على وهن وفصاله فى عامين ان اشكر لي ولوالديك اليّ المصير

dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada aku kembalimu”.

QS Al-Mujadalah ayat 2.
الذين يظاهرون منكم من نسائهم ماهنّ امهاتهم, ام امّهتهم الا التى ولدنهم, وانّهم ليقولون منكرا من القول وزورا, وانّ الله لعفوّ غفور.

Orang-orang diantara kamu yang mendzihar isterinya, (menganggap isterinya sebagai ibunya), padal isterinya itu bukanlah ibunya, ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan. Dan sesungguhnya mereka mengatakan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah maaf pemaaf, Maha pengampun”.

Berkaitan dengan beberapa pendapat yang mengatakan tentang sewa rahim di atas, maka dapat di simpulkan bahwa hukum sewa rahim baik dengan sperma dan ovum dari suami istri yang sah kemudian di tanam dalam rahim wanita lain di tinjau dalam fikih kontemporer adalah haram, karena dalam pelaksanaannya sama dengan zina, karena terjadi percampuran sperma pria dan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah, meskipun bukan zina yang hakiki (memasukkan kelamin ke dalam lubang vagina).

Selain itu, sewa rahim akan menimbulkan kemudaratan yang jauh lebih banyak dari pada manfaat yang di dapat. Juga akan memunculkan problematika baru dalam rumah tangga dan merugikan kedua belah fihak dan anak yang di lahirkan, terutama bagi bayi yang diserahkan kepada pasangan suami istri yang menyewa sesuai dengan kontrak, tidak akan terjalin hubungan keibuan secara alami. Dipandang dari segi akadnya pula, sewa rahim merupakan akad yang tidak sah, karena rahim merupakan organ tubuh manusia, sedangkan organ tubuh manusia bukan barang untuk dipersewakan dan diperjual belikan.


Nuzulul Furqon/PAI UIN Malang

Comments