Hj. Moesjarrofah, Perhatian terhadap Keluarga, Santri, Masyarakat dan Organisatoris Sejati


Hj. Moesjarrofah, Perhatian terhadap Keluarga, Santri, Masyarakat dan Organisatoris Sejati

Hj. Moesjarrofah, Perhatian terhadap Keluarga, Santri, Masyarakat dan Organisatoris Sejati

Hj. Moesjarrofah merupakan putri keempat KH. Bisri Syansuri dan Hj. Chadidjah. Beliau lahir pada 31 Desember 1925 bertepatan dengan 15 Jumadil Akhir 1344 H. Beliau merupakan istri dari KH. Abdul Fattah (Bapak pendidikan Bahrul ‘Ulum). Saat melangsungkan pernikahan yang tepatnya pada tahun 1938 beliau masih berusia 12 tahun, sedangkan KH. Abdul Fattah berusia 25 tahun.

Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai 12 putra dan putri (3 putra dan 9 putri) yaitu: (1) Fatimah; (2) Mu’izah; (3) Nafisah; (4) Hurriyah; (5) Mahsunah; (6) Muthmainnah; (7) Hubbi Syauqi; (8) Lilik Muhibbah; (9) Abdul Nashir; (10) Ahmad Taufiqurrahman; (11) Syafiyah; (12) Bani (meninggal saat kecil).

Hj. Moesjarrofah merupakan sosok yang sangat memperhatikan pendidikan putra-putrinya. Dalam banyak hal, Hj. Moesjarrofah juga tauladan yang dapat dijadikan uswah bagi putra-putrinya dan para santri khususnya perihal ubudiyah. Beliau juga dikenal sebagai seseorang yang istiqomah dalam mengasuh pondok pesantrennya. Setelah wafatnya KH. Abdul Fattah, keistiqomahan Hj. Moesjarrofah tersebut tampak dengan lebih memperhatikan dan selalu menyampaikan perkataan-perkataan KH. Abdul Fattah kepada para santri.

Bagi para santri, Hj. Moesjarrofah adalah figur yang sangat perhatian dan peduli. Hal ini ditunjukkan tatkala para santri mendapat sebuah masalah, sikapnya sangat tenang dalam memberikan solusi terbaik untuk para santri. Santri merupakan suatu bagian dari hidup dan keluarga Hj. Moesjarrofah, karena para santri dianggap sebagai anak sendiri.

Kecintaannya kepada para santri sudah tidak perlu diragukan lagi, kecintaan itu terwujud ketika Hj. Moesjarrofah mendirikan pondok pesantren khusus bagi mereka yang yatim piatu. Kegiatan khusus beliau lakukan pada setiap tanggal 10 Muharram dengan mengundang anak yatim piatu dan mengajak makan bersama dengan keluarga. Konsistensi beliau tercermin dalam dedikasi beliau pada pendidikan, utamanya pondok pesantren.

Disiplin, komitmen, konsekuen Hj. Moesjarrofah dalam masalah Al-Qur’an dan urusan ubudiyah juga terbilang sangat tinggi. Ada suatu hal yang selalu menjadi ciri khusus Hj. Moesjarrofah ketika menghadapi KH. Abdul Fattah untuk berdiskusi, beliau selalu melibatkan orang tengah sebagai penengah dan mediator. Seseorang yang selalu menjadi pihak ketiga tersebut adalah KH. M.A Sahal Mahfudz, yang juga menantu KH. Abdul Fattah.

Hj. Moesjarrofah merupakan tokoh yang aktif dalam organisasi dan masyarakat. Diantara yang pernah diikuti beliau adalah Muslimat. Beliau sangat aktif dalam mengikuti setiap kegiatan yang diadakan Muslimat, seperti pengajian rutin di masyarakat. Hal ini dilakukan dikala Hj. Moesjarrofah sudah berusia lanjut. Meski demikian, beliau selalu bersemangat mengikuti pengajian-pengajian. Kecintaan beliau juga terwujud dalam pengabdian ke masyarakat sekitar. Walaupun Hj. Moesjarrofah merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren besar, namun beliau tetap menjaga keharmonisan hubungan dengan masyarakat sekitar.

Tepat pada tanggal 23 Juli 2009, pukul 02.15 WIB beliau pulang ke rahmatullah. Beliau berpulang dengan penuh keistimewaan. Pasalnya, beliau pulang ketika sedang membaca Al-Quran.

Mungkin memang benar, seseorang itu akan meninggal seperti kebiasaannya. Dan mungkin juga karena kebiasaan Hj. Moesjarrofah membaca Al-Qur’an itu, yang membuat beliau wafat saat beliau membaca Al-Quran.

Oleh: Mohammad Dendi Abdul Nasir
(Santri Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang)

Sumber: Abdussalam Shohib, dkk. (2015). Kiai Bisri Syansuri Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap, Pustaka Idea, Surabaya.

No comments:

Biasakan Berkomentar.
(Komentar Anda Merupakan Kehormatan Bagi Kami) - Terima Kasih

Powered by Blogger.