Prekspetif Iman dan Kufur Imam Al-Ghazali



Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Rasanya aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam hal ini, pasti tidak akan luput dengan yang namanya ilmu teologi, teologi sendiri adalah dari segi etimologi berasal dari bahsa yunani yaitu theologia. Yang terdiri dari kata theos yang berarti tuhan atau dewa, dan logos yang artinya ilmu. Sehingga teologi adalah pengetahuan ketuhanan .Menurut William L. Resse, Teologi berasal dari bahasa Inggris yaitu theology yang artinya discourse or reason concerning god (diskursus atau pemikiran tentang tuhan) dengan kata-kata ini Reese lebih jauh mengatakan, “teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan.Gove mengatkan bahwa teologi merupakan penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan pengalaman agama secara rasional.[1]

Secara garis besar, ilmu teologi Adalah ilmu yang membahas pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Ilmu teologi ini sudah sepantasnya  kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi Idealnya orang Muslim yang beragama.Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Perlu kita mengingat apa yang pernah di katakan oleh Rasulullah bahwa “umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.” Perbedaan pemikiran tersebut membuat mereka saling menyalahkan dan mudah mengkufurkan diantara satu golongan dengan golongan yang lain dan mengimankan golongannya sendiri, diantara golongan-golongan (aliran-aliran) yang sering kita dengar memiliki perbedaan pendapat antara lain adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah, Qodariyah, Asy’ariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang Tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan.Dan kita sebagai orang yang memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dan yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist.

Jika kita sedikit berfikir, pasti akan timbul sebuah pertanyaan “Lalu bagaimana cara kita menanggapi orang yang fanatic terhadap kufur atau imannya seseorang?Membahas tentang teologi mengingatkan kita kepada seorang sufisme ahli ilmu teologi dan filsafat yaitu imam Al-Ghazali disini imam Al-Ghazali akan mengajak kita berfikir bagaimana kita menanggapi orang-orang yang fanatic terhadap konsep-konsep aliran mereka. Ketika anda mendengar caican sekelompok orang-orang yang dengki terhadap sebagian buku-buku yang kami tulis, yang menjelaskan tentang rahasia-rahasia yang berkaitan dengan mu’amalah agama, dimana mereka telah mengira bahwa dalam buku yang kami tulis telah menyalahi madzhab-mazhab ulama-ulama salaf dan para teolog.Mereka juga mengklaim bahwa menyimpang dari madzhab Asy’ariyah sekalipun hanya sejengkal telah dianggap kafir, demikian pula orang yang berbeda dengan madzhab Asy’ariyah sekalipun hanya pada sesuatu yang tidak prinsipil, juga telah dianggap sesat.[2]

Imam Al-Ghazali menghimbau bahwasannya kita jangan tergesa-gesa dangan apa yang telah mereka kemukakan. Anggap yang telah mereka kemukakan itu anggap saja tidak menyita beban pikiran kita, Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk menghengkang dari mereka jauh-jauh dengan cara terbaik. Dengan cara jangan menganggap berat orang yang dengki dan telah menunduh jelek, anggaplah meraka tidak mengerti tentang definisi dan batas-batas sesat dan kekufuran.Imam Al-Ghazali menganalogikan tentang seorang da’i mana yang lebih sempurna dan lebih bisa berfikir secara rasional dari pada Nabi SAW, yang menjadi terhormat di kalangan para Rasul Allah, sementara para musuhnya telah mengklaim, bahwa dia adalah orang gila.Ucapan atau pendapat mana yang lebih sempurna dan lebih benar daripada Kalam Tuhan semesta alam, sementara mereka (musuh-musuh Rasulluah SAW) telah menuduh bahwa Alqur’an itu hanyalah mitos dan cerita-cerita orang terdahulu.

Janganlah kita disibukkan dengan berdebat untuk memusuhi mereka dan punya keinginan untuk bisa mengalahkan mereka. Akibat dari itu semua, keinginankita hanya suatu keinginan yang tidak akan terwujud dan hanya menyuarakan isi hati kita kepada orang yang tidak bisa mendengar.[3] Dalam hal ini imam Al-Ghazali mengemukakan sebuah syair dan Ayat Al-qur’an surat Al-An’aam ayat 35, terkait persoalan tersebut yang berbunyi :

Permusuhan diharapkan selamat dari ancaman bahaya, kecuali permusuhan kerena dengki dan sentimen”

 “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa Amat berat bagimu, Maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah) kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang bodoh (jahiliyah)”(Q.S Al-An’am:35).

            Perlu kita ketahui, menurut imam Al-Ghazali batas-batas kufur dan iman, rahasia tentang sesat dan kebenaran itu tidak akan bisa dipahami dengan jelas oleh hati orang-orang yang berlumuran dengan kotoran akibat mencari dan tergiur dengan jabatan, pangkat dan harta. Akan tetapi itu hanya dapat tersingkap dengan jelas bagi orang yang tidak memiliki sifat-sifat tercela tersebut; memiliki hati yang bersih dari noda kotoran duniawi, yang kemudian dibersihkan dan digosok dengan cara berfikir yang benar dan lurus, dihiasi dengan selalu konsisten terhadap batas-batas dan ketentuan hukum syariat, sehingga hatinya diterangi oleh terangnya sinar lentera nubuwah (kenabian), akhirnya ia seperti cermin yang terang dan bersinar. Lentera keimanan yang berada dalam kaca hati nuraninya akhirnya menyinar cahaya terang. Karena sangat terangnya, minyak bahan bakar hampir bersinar terang sekalipun sumbunya tidak tersulut oleh api.[4]

            Hakikat dari kufur dan iman menurut imam Al-Ghazali, ketika Kita berbicara tentang batas-batas kekufuran itu adalah yang menyalahi akidah adzhab Asy’riyah atau Mu’tazilah atau Hanabilah atau madzhab-madzhab yang lain, yang maka kita perlu tahu bahwa ia bukan orang yang bodoh yanag telah terikat taklid, akan tetapi ia buta.

Ia mengira bahwa orang yang tidak sama dengan madzhabnya dalam visi dan pengambilan sumber hukum telah dianggap kafir yang jelas dan tidak diragukan (kufur jaliy). Maka sekarang yang perlu ditanyakan, dari mana ia bisa menetapkan bahwa pihaknya adalah yang benar, sehingga ia berani mengkafirkan orang-orang al-Baqilani, hanya karena mereka telah berbeda pendapat dengan orang-orang Asy’ariyah tentang sifat Baqa’ (kekekalan) Allah SWT, sebagi sifat tambahan bagi Dzat.Lalu mengapa al-Baqilani di klaim lebih berhak mendapat predikat kafir, karena berbeda pendapat dengan Asy’ariyah daripada Asy’ariyah yang berbeda pendapat dengan al-Baqilani?Dan mengapa pihak yang benar hanya pada salah satu pihak saja?Apakah karena factor perbedaan waktu saja?Sebab madzhab Asy’ariyah berkembang lebih awal?!Atau karena factor perbedaan dalam keilmuan dan kelabihan yang dimiliki masing-masing? Maka dengan pertimbangan dan standar apa untuk mengukur derajat keutamaan sehingga muncul pendapat bahwa seluruh isi jaga raya ini tidak ada yang lebih baik dan lebih utama dari pada orang-orang yang mengikuti madzhabnya? Kalau al-Baqilani diberi dispensasi atau kewenangan untuk berbeda pendapat dengannya, lalu mengapa yang lain dilarang?Apa yang membedakan antara al-Baqilani dengan al-Karabisi, al-Qalanisi dan aliran-aliran yang lain? Pemahaman dari sudut mana yang mewenangkan untuk memberikan kelonggaran (dispensasi) ini?[5]

Menurut imam Al-Ghazali jikalau orang tersebut sudah terbata-bata meraba-raba untuk memberikan jawaban atau tidak mampu untuk menyingkap ataupun mengungkap tabir yang menutupi, maka perlu Kita Ketahui bahwa ia bukanlah orang ahli dalam berkontemplasi dan menalar, ia hanyalah orang yang taklid. Sedangkan syarat orang yang taklid adalah harus diam dan tidak membicarakan tentang masalah ini, karena ia tidak mampu menempuh cara-cara yang telah ditempuh oleh orang-orang yang ahli dalam berpolemik. Mereka semua masih tetap muslim sekalipun mereka berbeda madzab (aliran) selama masih berpegang teguh pada kalimat tauhid, “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulluallaah” (Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), serta masih membenarkan dan tidak menentang kalimat tersebut.

Mengkaji lebih dalam dari seorang Al-Ghazali, beliau menegaskan bahwa kufur itu adalah mendustakan Rasulluallah SAW, dalam segala ajaran yang beliau bawa.Sedangkan Iman adalah Membenarkan (tashdiq) kepada seluruh ajaran yang beliau sampaikan.[6]Imam Al-Ghazali mencontohkan dalam hal ini yaitu orang-orangYahudi dan nasrani yang beliau anggap kafir, dikarenakan mereka telah mendustakan Rasulluaah SAW. Demikian pula dengan para pengikut Brahmana, bahkan Al-Ghazali menganggap lebih pantas jika pada pengikut Brahmana mendapat predikat kafir, dikarenakan pengikut Brahmana selain telah Mendustakan Rasulluallah SAW, meraka juga mendustakan para Rasul Terdahulu.

Definisi tersebut menurut Al-Ghazali, karena kufur itu adalah ketentuan hukum syariat seperti masalah perbudakan dan kemerdekaan.Sebab dengan makna tersebut berarti menghalalkan darah mereka dan menghukumi mereka kekal dineraka. Al-Ghazali juga menegaskan karena hukum tersebut termasuk kedalam hukum syariat, maka melihat hukum tersebut juga harus secara hukum syariat dengan cara melihat pada nash (statemen) yang ada dalam Al-Qur’an atau Hadist Rasulullah, atau dengan cara mengiaskan dengan statemen yang sudah ada dalam nash. Sementara beliau juga menegaskan sudah cukup banyak nash (statemen) Al-Qur’an yang menyatakan tentang kekafiran orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian Brahmanaisme, Peganisme dan Atheisme adalah lebih patut untuk disamakan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, dikarenakan mereka telah mendustakan para Rasul Allah.Maka setiap orang yang kafir adalah orang-orang yang mendustakan Rasul.

Al-Ghazali juga membubuhkan realita yang terjadi pada kelompok Hanabilah berusaha mangkafirkan kelompok Asy’ariyah dengan anggapan bahwa Asy’ariyah telah mendustakan Rasulallah SAW. Sementara Asy’ariyah telah mengafirkan Hanabilah dengan dalih bahwa mereka menyerupakan Allah dengan makhluk atau disebut aliran antropomorfisme dan mereka telah mendustakan Rasullah SAW, yang telah memberikan ajaran bahwa tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah SWT. Asy’ariyah juga telah mengafirkan Mu’tazilah dengan anggapan bahwa mereka telah mengkafirkan Mu’tazilah dengan Anggapan bahwa mereka telah mendustakan Rasullah SAW, tentang kemungkinan bias melihat Allah dan dalam menetapkan sifat-sifat Allah SWT, seperti sifat ilmu dan qudrat. Begitu juga orang-orang Mu’tazilah telah mengafirkan Asy’ariyah dengan anggapan bahwa dengan menetapkan sifat-sifat itu akan bias menghilangkan keqadiman Dzat Allah, karena banyaknya sifat-sifat itu akan bias menghilangkan keqadiman Dzat Allah, karena banyaknya sifat-sifat Allah yang Qadim dan telah mendustakan Rasullah dalam konsep tauhidullah (kemahaesaan Allah).[7]

Dari sini jika kita masih berfikir, siapa yang iman dan siapa yang kufur?Menurut imam Al-Ghazali kita harus mengetahui tentang batas-batas dan hakikat mendustakan dan membenarkan Rasullah SAW. Sehingga kita dapat membuka cara pandang kita yang luas dan lebih tinggi dari kelompok-kelompok yang berbeda diantara satu dengan yang lain yang sudah saling mengkafirkan. Menurut Al-Ghazali dalam karyanya Majemu’ah Rassail hakikat membenarkan itu adalah mengakui aspek yang diberitahukan oleh Rasulullah SAW, tentang wujud sesuatu tersebut. Hanya saja wujud atau ekstensi segala sesuatu itu memiliki lima tingkat. Karena mereka lupa dengan tingkat eksistensi itu, sehingga masing-masing kelompok aliran berusaha mengklaim kelompok lain yang tiadak sealiran, dengan tuduhan telah mendustakan Rasulullah.[8]

Berdasarkan semua uraian-uraian (unkapan-ungakapan) yang telah di lontarkan oleh imam Al-Ghazali ini, jika dipandang beliau lebih cenderung untuk mengkokohkan akidah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah dengan argument-argument yang detail dan menggugat, yang dalam hal ini Ahli sunnah wal jama’ah memandang kufur adalah tak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dengan mendustakannya atau tak mendustakannya.[9]Orang yang melakukan kekufuran, tak beriman kepada Allah & Rasul- Nya disebut kafir.


Referensi:
[1] Abdur Razak dan Rosihan Anwar, Ilmu kalan, Pustaka Setia, bandung, 2006, Cet II, hlm. 14.
[2] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, hlm 173.
[3] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, halm 174.
[4] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, halm 175.
[5] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, hlm 177.
[6] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, hlm 181.
[7] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, hlm 182-183.
[8] Imam Al-Ghazali, Tauhidullah, Risalah Suci Hujjatul Islam, hlm 183.
[9] Majmu' Fatawa' ‘ (XII/335), & lihat ‘Aqidatut-Tauhid, Syaikh Shalih al-Fauzan, halaman 81.

By : Siti Na’imatun Niswah (Anggota Div Humas HIMMABA UIN Periode 2012)

1 comment:

Biasakan Berkomentar.
(Komentar Anda Merupakan Kehormatan Bagi Kami) - Terima Kasih

Powered by Blogger.