Adminstrasi, himmmaba, formabu

Wednesday, 30 December 2015

LIGKUNGAN SOSIAL PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan hal yang urgent kehadirannya bagi suatu bangsa, hal ini dikarenakan pendidikan mempunyai peranan yang besar dalam membangun suatu bangsa kearah yang lebih baik. Dalam sistem sosial, pendidikan memiliki peran sebagai fasilitator dalam mengantarkan suatu individu menemukan posisinya di lingkungan sosial, mengingat pengelompokan status sosial, kelas sosial, serta stratifikasi sosial juga dipengaruhi oleh suatu pendidikan yang telah ditempuh oleh seseorang.

Bagi bangsa Indonesia, Pendidikan merupakan alat untuk merealisasikan tujuan bangsa Indonesia sebagaimana tertera dalam pembukaan undang-undang dasar (UUD) Republik Indonesia tahun 1945, disana dikatakan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan menciptakan ketertiban umum. Dengan demikian satu cara alternatif yang dapat dilakukan pemerintah khususnya, dan umumnya seluruh rakyat Indonesia untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah pengelolaan pendidikan. Pendidikan merupakan jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga melalui kualitas SDM yang tinggi, diharapkan mampu menciptakan ketertiban umum dalam bangsa Indonesia sebagaimana disebut dalam pembukaan UUD 1945.

Paparan diatas memberikan isyarat pada kita semua bahwasahnya pengelolaan pendidikan merupakan hal yang vital bagi suatu bangsa, oleh karenanya sesungguhnya suatu pendidikan bukanlah tanggungjawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab segenap warga Indonesia. Dengan demikian nantinya diharapkan akan muncul budaya pendidikan dikalangan warga Negara Indonesia, mengingat pendidikan merupakan suatu hak yang melekat pada seluruh masyarakat Republik Indonesia. segenap warga republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk menerima suatu pendidikan, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, pihak pemerintah pun berusaha semaksimal mungkin mengikutkan serta melibatkan masyarakat dalam sebuah pendidikan, baik itu menyangkut sistem atau pun yang lain. Salah satu bukti yang megafirmasi argument tersebut adalah peraturan Departemen Pendidikan Nasional  (Sekarang: Kementerian Pendidikan dan Budaya) tentang guru dan dosen. Dalam peraturan peraturan tersebut dikatakan bahwa sebagai sebuah profesi, seorang guru dituntut untuk menguasai empat kompetensi antara lain: Pertama Kompetensi Pedagogig, kompetensi ini mengharuskan seorang guru untuk memiliki kemampuan-kemampuan yang berkenaan dengan metode, strategi, serta pendekatan dalam hal mengelola sebuah pembelajaran. Dengan demikian nantinya diharapkan akan tercipta sebuah pembelajaran yang efektif, efisien, serta berkembang, baik itu berlaku bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Kedua Kompetesi Kepribadian, kompetensi ini wajib hukumnya untuk dikuasai oleh seorang guru, meningat seorang guru sejatinya merupakan sebuah “uswah”, panutan, rujukan, serta suri tauladan yang menjadi contoh bagi para murid-muridnya. Ketiga Kompetensi Profesional, kompetensi ini mengharuskan seorang guru memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi, intelektual, serta sumber daya mereka , sehingga nantinya hal ini akan menjadi sebuah modal bagi seorang guru dalam mengarungi lautan pendidikan. Dan keempat kompetensi Sosial, kompetensi ini menghruskan seorang guru untuk dapat berinterkaksi dan berkomunikasi secara baik dengan segala hal yang berkenaan dengan lingkungan sosial, seperti dengan murid ketika dikelas, dengan kepala sekolah sebgai seorang pimpinan, atau bahkan dengan warga masyarakat selaku objek utama pendidikan. Kompetensi terakhir inilah yang menjadi sebuah wujud konkret bahwasahnya pendidikan mempunyai kaitan yang erat dengan sebuah sistem sosial masyarakat, mengingat sistem pendidikan dibangun berdasarkan pada kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.

Sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan khusus dalam hal mengelola sistem pendidikan. diantaranya adalah peraturan Menteri pendidikan nasional nomor 09 tahun 2010 tentang pengadaan program pelatihan profesi guru dalam jabatan. Diberlakukannya PPG merupakan sebuah media sertifikasi yang ditujukan pada para guru, kebijakan tersebut tiada lain bertujuan untuk meningkatkan keprofesionalan guru. Mengingat dizaman globalisasi ini sangatlah kompleks akan tantangan-tantangan baik yang bersifat inter ataupun ekstern.

Sebagaimana tertera dalam peraturan tersebut pada pasal 1 nomor 1 dikatakan bahwa Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian seorang guru dikatakan benar-benar menjadi guru yang legal jika ia sudah mendapatkan sertifikat kependidikan yang ia dapatkan dari pendidikan profesi guru (PPG), jadi lulusan Strata 1 program pendidikan tidalah cukup untuk menjadi seorang guru yang dilegalkan Negara. Kebijakan pemerintah tersebut tiada lain bertujuan untuk  meningkatkan keprofesioanalisme guru yang nantinya diharapkan akan mampu membangun pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah sebenarnya tidak hanya menitik beratkan pembenahan  pada para guru, pembenahan juga perlu dilakukan pada sektor kepala sekolah sebagai seorang yang memimpin sekolah. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu para kepala sekolah adalah mengelurkan  undang-undang nomor 13 thun 2007 tentng standar kepala sekolah/ madrasah yang dikeluarkan oleh pihak kementerian pendidikan. Dalam peraturan yang ditandatangani oleh Bambang Sudibyo selaku ketua kementerian pendidikan pada saat itu, terdapat beberapa hal yang menjadi titik perhatian bagi para kepala sekolah, dimana seorang kepala sekolah juga dituntut harus memiliki kompetensi-kompetensi pokok, sepertihalnya seorang guru. Kompetensi-kompetensi tersebut terdiri atas lima hal. Pertama yakni Kompetensi Kepribadian, kompetensi ini diikutsertakan mengingat kepala sekolah merupakan seorang leader yang menjadi uswah dalam suatu lembaga pendidikan. Kedua Kompetensi Manajerial, melalui kompetensi ini diharapkan agar seorang Leader di suatu lembaga pendidikan mampu menjadi seorang manager yang mampu mengelola sistem sosial masyarakat,. Ketiga Kompetensi Kewirausahaan, dengan adanya kompetensi ini diharapkan seorang kepala sekolah melakukan inovasi-inovasi bagi keberlangsungan suatu lembaga pendidikan, sehingga nantinya suatu lembaga tersebut akan mapan baik finansial, akademik, maupun sarana prasarana. Keempat Kompetensi Supervisi, adanya kompetensi ini memberikan tambahan tugas  untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi kinerja para pendidik dilembaga tersebut, sehingga nantinya diharapkan akan meningkatakan keprofesionalitas para pendidik dalam lembaga tersebut. Kelima Kompetensi Sosial, Kompetensi ini hukumnya wajib untuk  mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan sebaik-baiknya dengan stekholder-stekholder suatu organisasi, termasuk dalam organisasi pendidikan

Tuesday, 29 December 2015

NOSTALGIA: DIKJUR HIMMABA UIN 2013, STAMINA MENULIS MUNCUL DI HIMMABA

NOSTALGIA: DIKJUR HIMMABA UIN 2013, STAMINA MENULIS MUNCUL DI HIMMABA
FOKUS: Peserta Diklat Jurnalistik mendengarkan materi yang disampaikan jurnalis Radar Malang
HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum) merupakan salah satu dari organisasi mahasiswa ekstra kampus UIN Maliki Malang, Organisasi ini berdiri pada tanggal 13 Desember 1983. Sebagai organisasi alumni tujuan organisasi ini tiada lain yakni demi mempererat tali ukhuwah antar alumni. Akan tetapi sejatinya dibalik itu, adanya organisasi bernama HIMMABA mempunyai nilai kesakralan tersendiri. HIMMABA berdiri atas dawuh pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, “KH. Najib Wahab”, agar membimbing para adik-adik alumni yang meneruskan jenjang pendidikan di luar bumi Bahrul ‘Ulum.  Uniknya mereka dalam kesehariannya menggunakan “Sedulur-seduluri” sebagai panggilan khusus anggotanya. 

Perjuangan dalam mengembangkan dan memajukan organisasi ini dari seumur jagung hingga dewasa ini tidak lepas dari jerih payah pengurusnya. Kemarin, tanggal 30 November 2013, dilaksanakanlah sebuah event menarik sebagai bukti adanya keaktifan sebuah organisasi, yang cukup menyedot rasa keingintahuan para anggota. Event yang diberi nama “Diklat Jurnalistik” tersebut dilaksanakan di Wisma Café Metro.

Suasana diklat semakin lengkap dengan kehadiran pemateri yakni Abdul Mutholib sang redaktur Pelaksana Jawa Pos, Radar Malang. Kunjungannya selain memberi motivasi dan kiat-kiatnya dalam hal tulis-menulis, beliau juga ingin bertatap langsung dengan wajah-wajah anggota HIMMABA Angkatan 2013, serta dalam rangka reuni (temu kangen) dengan para pengurus karena memang sang redaktur dahulunya merupakan anggota HIMMABA angkatan ’90-an, dapat dikatakan pula sebagai saksi bisu perjuangan HIMMABA.

Event tersebut dilakukan selama dua hari yang meliputi ceramah motivasi, dialog santai seraya mengajak anggota untuk giat dan membangun budaya menulis.

Salah satu ungkapan bapak. Abdul bahwa “Sebuah tulisan itu layaknya penceramah abadi yang tak lekang oleh zaman. Seorang tokoh Al-Ghozali pun dapat tersohor namanya dengan karya-karya tulisnya yang membumi melintang di seluruh dunia dan dijadikan panutan setiap orang sampai saat ini.” Begitulah ungkapan motivasi yang terngiang-ngiang di telinga pendengar.

Ia pun mengatakan, pada dasarnya kunci keberhasilan menulis itu terletak dari dalam diri manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, menulis sangatlah membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra serta seringnya latihan. Dengan itu, kita dapat terbiasa melakukan tulis-menulis hingga lancar. 

“Menulis itu seni, gabungan dari otak, tangan, dan perasaan yang harus terus menerus diasah kemampuannya” tutur sedulur Abdul Mutholib. Inilah uniknya sebuah tulisan, setiap patah katanya dipenuhi dengan sastra, ungkapnya lagi. Ungkapan-ungkapanya itu menyihir anggota untuk terus mengikuti setiap kata yang diucapkan sang Redaktur. Munculah kesadaran dari para anggota bahwa menulis itu sesuatu yang sangat unik, menarik, dan patut dicoba.

Menurutnya, hal pertama kali yang harus diperhatikan saat memulai menulis adalah dalam pemilhan kata (diksi) pertama. “Mengapa bisa demikian??” Karena disitulah letak “Angel” seorang penulis. Angel merupakan sisi atau sudut pandang seseorang yang membedakan sebuah tulisan dengan penulis lain. Dapat dikatakan pula kalimat pertama sebagai mutiara yang paling berharga dalam sebuah tulisan.

Beliau melanjutkan, “Adapun perihal pemilihan kata bagi seorang jurnalis terletak dari segi bahasanya. Diantaranya; keefektifan, simpel, lugas, dan mudah dipahami ” Ujarnya.

Menurutnya prinsip seorang pembaca tiada lain ingin paham dengan tulisan anda, maka dari itu penulis tidak boleh egois. Dalam artian penulis jangan mentang-mentang seorang yang akademis sehingga penggunaan katanya begitu tinggi. Justru, gunakanlah pilihan kata yang sekiranya dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Setelah materi dipaparkan, diklat ini menjadi lebih efektif yaitu dengan adanya praktek langsung di lapangan. Karena sebuah materi saja tidaklah cukup, apalagi dilihat dari pendengarnya sebagian besar berasal dari mahasiswa baru yang tentu saja masih pemula dan awam dalam perihal tulis-menulis. 

Dengan sistem yang sangat menggelitik ini, para anggota mencoba menumpahkan segala idenya dalam sebuah tulisan yang hanya diberi waktu sekitar setengah jam saja. Ternyata hal ini cukup mengasah kemampuan anggota. Setiap kesalahan hasil tulisan anggota, sedulur Abdul Mutholib mencarikan solusi-solusi jitu beserta kiat-kiat yang menjadikan tulisan benar-benar menggambarkan jati diri seorang jurnalis. Ia juga menyampaikan trik-trik tulisan agar layak dimuat di media massa..

“Banyaknya kesalahan-kesalahan dalam tulisan itu tidak menjadi penghalang untuk terus melanjutkan sebuah karya-karya cemerlang selanjutnya”. Kata ini menutup pembicaraan sang Redaktur itu.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penyerahan cenderamata dari pengurus HIMMABA sebagai ucapan terima kasih kepada sang redaktur. Dilengkapi pula dengan makan dan berfoto bersama yang sangat meriah serta penuh dengan rasa kekompakan.  

Oleh: Siti Wahyuni - Istimewa HIMMABA 2013
(Tulian pernah dimuat di newsletter Lensa HIMMABA Komisariat UIn Maliki 2013 bulan November 2013)

Sunday, 20 December 2015

REFLEKSI: Antusiasme Anggota HIMMABA UM

      Memang tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan pergerakan organisasi kemahasiswaan semakin marak pasca reformasi 1998, hal ini dibuktikan dengan menjamurnya organisasi bersifat kemahasiswaan diberbagai lembaga pendidikan tingkat tinggi, mulai dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang terlahir dari rahim Nahdlatul ‘Ulama, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah) yang menjadi tombak organisasi Muhammadiyyah, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslaim Indonesia), hingga GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Organisasi mahasiswa sebagaimana diatas merupakan organisasi yang membudayakan diri dalam rana “pergerakan nasional”. Selain maraknya organisasi pergerakan, di era reformasi kini juga semakin marak organisasi kemahasiswaan dalam rana yang berbeda, sebut saja MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) yang memfokuskan diri dalam rana pelestarian alam, KOMMUS (Komunitas Mahasiswa Musik) dalam bidang pengembangan musik, hingga menjamurnya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)  di berbagai lini kehidupan mahasiswa.

Menjamurnya eksistensi organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi pasca reformasi juga berimbas pada HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum) yang sudah berdiri sebelum reformasi 1998. Menghadapi pergolakan organisasi kemahasiswaan pada akhirnya menuntut HIMMABA mengembangkan diri kearah yang lebih progresif, sepetihalnya pembentukan pengurus FK-2 (Forum komunikasi Komisariat) sebagai cikal bakal HIMMABA Cabang, hingga pembentukan pengurus Komisariat di berbagai perguruan tinggi Malang Raya, hingga berkontribusi dalam pembentukan IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul ‘Ulum) di tahun 2004.

Pembentukan Komisariat HIMMABA UM pada bulan April 2001 merupakan salah satu langkah konkrit kepengurusan HIMMABA Cabang periode pertama untuk mengembangkan nilai sosial kemasyarakatan di kampus Universitas Negeri Malang (UM) yang berjuluk “the learning university”. Mengingat di kampus yang sebelumnya dikenal dengan nama IKIP (Institut Kegurusan Ilmu Pendidikan) Malang  tersebut semakin marak akan organisasi kategori intra kampus (OMIK) dan organisasi ekstra kampus (OMEK).

Organisasi intra kampus seperti UKM, HMJ, DMF, DPM, BEM di tingkat Fakultas ataupun tingkat Universitas, selama ini di pandang negatif dikarenakan dalam pencarian keanggotaan hanya selalu mengambil anggota yang hanya dalam oposisi pengkaderan perpolitikannya, sebut saja OMEK, sehingga posisi OMEK disini seakan di pandang sebuah organisasi yang asing tanpa identitas yang jelas bagi kalangan netral, yang di pandang juga hanya memiliki sebuah visi misi dalam perpolitikan kampus yang hanya mementingkan kelompoknya, namun lain halnya dengan HIMMABA yang masih hanya terdengar dikalangan “teman sekelas” atau kalangan organisasi ke-Al Quranan dan  kerohanian islam kampus. Sehingga kiprah HIMMABA Komisariat UM seakan-akan kurang menonjol.

Tidak luput dari itu HIMMABA termasuk Komisariat UM sendiri dalam perkembangannya memang selalu mengalami pasang surut seperti laut, ketika malam akan pasang dan ketika pagi mengalami surut, tetapi pasang surutnya HIMMABA bukan dilihat dari malam dan paginya melainkan dilihat dari siapa yang memimpin? Bagaimana cara menjalankan program kerjanya?, bagaimana dalam mengkader / mejaga adik adiknya? Serta bagaimana ketertarikan anggota terhadap ketua?. Dalam konteks pemimpin di HIMMABA sendiri  kita mendengar dua istilah yakni ketua cabang yang membawahi komisariat dan ketua komisariat yang merupakan bagian dari cabang.

Melihat dari sisi ketua komisariat, contoh ketua HIMMABA Komisariat UM di tahun 2015 ini, sedulur Ahmad Mufid yang merupakan ketua putra pertama yang sempat beberapa tahun selama 2 periode kepengurusan di ketuai oleh putri, yaitu seduluri Imroatus Sholihah ditahun 2013-2014 dan seduluri Rahma Fitriana ditahun 2014-2015. Dalam perkembangan setiap periode memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Menginjak ke tahun 2015 ketika pertama kalinya di ketuai oleh sedulur Ahmad Mufid yang memiliki watak pendiam tanpa banyak bicara, santai terkadang bertindak cepat, tidak mudah (sulit) dalam bercanda, sehingga memiliki kekurangan diantaranya antara lain:
  1. Kesulitan dalam mengkader anggota sesama alumni Bahrul ‘Ulum yang berada di UM (HIMMABA UM)
  2. Kurang memiliki kemampuan dalam hal ketegasan ketika sebuah organisasinya mengalami masalah tertentu.
  3. Disisi lain juga kurang komunikasi yang nyata dalam interaksi keakraban sehingga di khawatirkan banyak anggota yang sudah tidak aktif.
  4. Serta kurang tanggap terhadap proker proker yang besar sehingga dalam program kerjanya masih relatif level menengah kebawah.

       Namun, tidak lepas dari kelemahan pasti memiliki sebuah kelebihan walaupun kurang menonjol di tingkat cabang atau komisariat lain, HIMMABA Komisariat UM yang dipimpin oleh sedulur Ahamd Mufid memiliki beberapa kelebihan antara lain :
  1. Mudah diingat oleh anggota HIMMABA UM baik dari segi penampilan ataupun gaya kepribadiannya sehingga bisa menjadi sedikit panutan dalam berorganisasi
  2. Ketika menyandang kurang gaya serta sedikit bicara pasti tidak lepas pula kecakapan dalam bertindak, sehingga memiliki ketangkasan bagaimana dan apa yang harus dilakukan sekarang tanpa harus berpikir panjang dan berlama lama berfikir.
  3. Dalam hal proker, memiliki hal tingkat keaktifan dan peningkatan yang lebih jelas semisal dalam ke-Istiqomahan rutinan yang dilakukan setiap malam jumat, bisa dilihat di periode periode yang lalu ketika dalam rutinan anggota yang datang masih di kisaran 5-8 anggota yang hadir, tetapi di kepemimpinan yang saat ini bisa lebih dari 8 anggota yang hadir bahkan 10 keatas yang terdiri dari beberapa angkatan.
  4. Keefisienan waktu dalam melaksanakan program kerja lebih tertata sehingga istilah “jam karet” yang seringkali dijumpai pada beberapa organisasi perlahan lahan mulai terkikis.

        Terlepas dari kelemahan dan kelebihan sebenarnya masih banyak program kerja yang memang harus terealisasikan untuk kalangan umum ataupun kalangan sesama anggota HIMMABA se Malang raya, sehingga yang menjadi harapan bagi pribadi adalah perlu adanya dukungan dari pengurus, anggota, ataupun dari yang lebih tinggi di tingkat cabang agar terjadi istilah mlaku ‘’bareng, maju bareng’’ bisa berjalan sebagaimana tujuan yang di harapkan. 

Thursday, 17 December 2015

CERPEN: Aku Tidak Gila

Semua menjadi berubah setelah kejadian yang mengenaskan itu. Peristiwa naas itu merenggut segalanya dari hidupku, perusahaanku, kebun, villa dan semuanya. Entah bagaimana seolah lepas dari anganku, bukan hanya itu keluargaku tak ada satupun yang peduli diriku lagi. Kini tinggal hanya diriku disebuah rumah besar dengan taman yang luas dan teman cewek yang bernama Cantika.

Orang-orang disekitarku nampak aneh, jarang yang mengajakku bicara bahkan kuajak bicarapun tidak ada yang merespon, aku sendiri tidak mengerti mungkin karena sekarang aku sudah tidak berdasi dan sudah tidak naik mersi lagi. Terkadang yang membuat aku sebel tak seorangpun yang menjawab ketika kutanya tentang keadaan kekasihku Inay, ada yang seperti sedih, murung, manangis lalu pergi, bahkan ada yang seperti mentertawakanku. Aku tinggal sendiri didunia ini, temanku hanya rumah, tempat tidur, kursi, taman, kamar mandi dan semua benda mati, hingga hanya pada mereka aku berbagi, aku selalu menumpahkan segalanya dengan Cantika, sebab hanya gadis itu yang setia mendengarku, namun ia juga tidak mau cerita kemana kekasihku Inay pergi, dan selalu bilang besok ia pasti datang tapi hari demi hari kutunggu Inay tidak kunjung datang.

Suatau hari akau tak mampu lagi menahan rasa riduku padanya, sebab sudah berhari-hari aku tidak nyenyak tidur dan makanpun tak enak, selalu teringat Inay. Karnanya pagi hari sebelum subuh saat semua masih terlelap dalam mimpinya, aku mengendap-endap meninggalkan rumah, tak tahu akan kemana yang jelas ku telusuri jalan menurutkan langkah kaki untuk mencari pujaan hati, sampailah aku disuatu tempat yang banyak kerumunan orang entah dimana yang jelas semua melihat kearahku mungkin karena aku memakai kaos oblong putih celana pendek dan tanpa alas kaki, hingga mereka merasa aku tidak layak disekitar mereka, maka dengan pura-pura cuek dengan keadaan. Aku menuju kamar mandi umum dan menukar baju disana, ketika aku keluar dari kamarmandi tiba-tiba orang-orang ramai-ramai mendatangiku dan tanpa banyak bicara semua mengayunkan tinjunya padaku, entah mengapa mereka begitu jahat padaku, tapi karena tidak merasa bersalah aku hanya tersenyum-senyum saja, mungkin karena melihatku yang seperti tidak kesakitan sama sekali mereka berhenti memukuliku, kemudian mundur satu persatu dan salah satu dari mereka melempar kaos oblong yang tadi kupakai dan seteleh itu dua orang berpakaian seperti hansip menggandeng tanganku dan membawaku keluar.

Setelah kejadian itu aku kembali menelusuri trotoar menurutkan kemana kakiku berjalan, sampailah aku didepan sebuah pusat pertokoan, dan alangkah girangnya hatiku begitu melihat seorang  gadis keluar dari toko, aku yakin itu dirimu walau sudah berusaha untuk melupakanmu, menghapus reliefmu dari hatiku namun sampai saat ini dirimu selalu mengisi relung-relung hatiku, karnanya tanpa menunggu komando dari apapun dan siapapun aku langsung mendekatinya, namun alangkah terkejutnya saat kulihat ada seorang laki-laki menjajari langkahmu, tapi aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini ‘Inay..... sapaku padanya dengan tatapan penuh harap dia memandangku seperti merasa ada keanehan ‘namaku bukan Inay’ ucapnya, namun aku terus mengejarnya bahkan berani mnarik tasnya lalu tiba-tiba plak.. tiju laki-laki disamping Inay mengenai wajahku dan mereka berdua lari meninggalkanku yang kesakitan. Arus kebahagiaan dan penderitaan manusia senantiasa timbul tenggelam tiada hentinya, tiada perasaan bahagia yang abadi semua perasaan bahagia sesungguhnya telah mengandung benih-benih penderitaan, seperti halnya kebahagiaanku berjumpa dengan Inay harus berakhir dengan kehilangan tuk selama lamanya.
Dengan langkah lunglai kutinggalkan tempat itu menyusuri jalan entah berapa jauh aku berjalan hingga tak terasa malampun tiba dan kakikupun sudah tidak mampu lagi menopang tuguhku, kuhentikan langkahku di bawah jembatan berkumpul bersama anak-anak jalanan yang sedang melepas lelah dan kantukpun mneyerangku, tak terasa aku sudah berbaring diantara anak-anak jalan dan tumpukan sampah. Siapa yang mengira aku yang dulu tidur di kamar ber AC dengan fasilitas yang serba elit kini berada di kolong jembatan demi mencari seorang kekasih yang ternyata tidak setia.

Tak terasa sinar matahari menyengat kulitku dan ku tengok sekelilingku tinggal diriku sendiri. Oh.. ternyata aku sendirian lagi.. dari sini timbuk keinginanku untuk mencari Inay lagi. Kembali ku lsusuri jalan yang membangun harapan menemukan kebahagiaan, hingga sampailah aku di toko baju yang besar, aku yakin Inay pasti disini, dia gemar sekali belanja baju-baju model terkini, aku menunggunya di depan toko, ternyata harapanku tidak sia-sia, menjelang tengah hari kulihat seorang gadis berbaju merah keluar dari mobil, yach... itulah Inay, aku tetap mengenalnya meski dia merubah penampilan dengan menanggalkan jilbabnya dan tidak lagi memakai baju panjang, tanpa babibu aku berlari mendekatinya, namun alangkah terkejutnya saat kulihat lelaki setengah baya yang keluar dari mobil itu langsung merangkul pinggangnya. Betapa hanvur hatiku ternyata orang yang dulu berhasil meruntuhkan hatiku dengan kelembutan kasih sayang dan perhatiannya kini telah berganti profesi. Aku snagat kecewa sekali, tapi walau begitu entah kengapa hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya hingga aku mendekatinya dan apa yang terjadi benar-benar di luar dugaanku, sebelum kupanggil namanya hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya hingga aku mendekatinya dan apa yang terjadi benar-benar di luar dugaanku, sebelum kupanggil namanya Inay dan laki-laki itu sudah berlari memasuki toko. Kembali ada tanya dihatiku, mengapa Inay tidak mengenalku..? ataukah Inay pura-pura tidak kenal, kupandangi wajahku di spion, ternyata aku memang berubah manakutkan, rambut yang acak-acakan, wajah yang kotor dan banyak bekas memar, apalagi aku kelihatan sangat kurus, memang semenjak keluar dari rumah aku belum makan sama sekali, tapi bukankan semua kulakukan karena kau Inay, tapi mengapa kau harus menghukumku demikian.

Kembali air mataku berlinang, namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan datangnya dirimu lagi yang tetap memakai baju ciri khas merah menyala, tapi kali ini pasanganmu beda lagi, 6 tahun mungkinkah Inay menjadi wanita panggilan...? pilu rasa hatiku seperti tersayat, tubuhku tak mampulagi bergerak wlau hanya sekedar menyapa dan tersenyum aku seperti terpaku di tempat itu ditempatku, hanya dengan menatap dengan pandangan takut berharap, mengapa harus begini gila seseorang mencari-cari kebahagiaannya mengapa harus menemukan kekecewaan dalam kebahagiaan, ataukah aku sudah mengartikan kebahagiaan...!

Hari ini kuputuskan untuk menghapus semua kenangan yang pernah ada antara aku dengan Inay biarlah aku jalani hidup tanpa dirinya lagi, walau sebenarnya sedikitpun dirinya tak terkikis dari ruang hatiku namun sebelumnya aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya untuk itu aku mendatangi sebuah supermarket yang tak jauh dari sebuah jalan. Aku duduk didepannya aku yakin kau pasti akan kesini kutunggu dirimu mulai matahari memancarkan sinarnya sampai saat ia tenggelam namun ternyata harapanku sia-sia dirimu tak hadir disini wlau hanya seberkas bayangan, wujudmu seperti ditelan bumi tiada berbekas sama sekali namun tak goyah aku menunggu sampai saat matahari kembali menyapa permukaan bumi dan saat itulah kesabaranku mendapatkan titik terang kulihat dirimu datang bersama ayah dan ibumu tapi kali ini kulihat kau berbeda dari biasanya, tubuhmu terlihat kecil dengan memakai singlet merah dan rok pendek kulitmupun terlihat putih, dan matamu juga agak sipit tidak seperti biasanya, dan kamupun terlihat ceria dan lincah dengan rambut berkepang dua, kau bergelayut manja di lengan ayah dan ibumu, tapi aku tidak peduli kau berubah atau tidak aku harus menemuimu dan menghilangkan kerinduanku sebelum akau pergi, karenanya aku ikuti dirimu dari belakang dan begitu ada kesempatan aku langsung memelukmu, kau meronta-ronta dan menjerit sementara laki-laki setengah baya yang kupikir adalah ayahmu mencoba membantumu sedangkan ibumu berteriak meminta tolong dan tak lama kemudian orang-orang datang memukuliku, disaat itulah Cantika datang menyelamatkanku dan berjata pada mereka ‘ma’af pasien kami lari dari RSJ, kekasihnya meninggal saat kecelakaan dan ia suka memakai baju merah, karenanya ia menganggap setiap orang berbaju merah adalah kekasihnya’ serentak semua orang berkata oh.. gila.. tapi aku hanya senyum-senyum sendiri siapa bilang aku gila, mereka yang gila buktinya aku masih ingat Inay tapi kenapa aku lupa namaku, siapa namaku..? tak peduli yang penting aku selalu ingat Inay mesti tanganku dipegang orang-orang berbaju putih aku tetap berteriak, ‘Inay.......! I LOVE YOU...!

oleh: Naimah, AR (Himmaba 2001-2002) - 

Monday, 14 December 2015

GALERI: 7 SEKRETARIS HIMMABA CABANG



Sekretaris merupakan hal yang terbilang urgen bagi suatu organiasi selain ketua dan bendahara dimana sekretaris mengemban amanat untuk senantiasa mendampingi ketua atau wakil ketua dalam segala macam urusan kepengurusan selain itu sekretaris juga mengemban amanat sebagai pimpinan tertinggi organisasi dalam rana sistem administrasi organisasi. Hal inilah yang membuat posisi ini terbilang penting bagi suatu organisasi termasuk bagi HIMMABA sendiri. Berikut admin sajikan tujuh Sekretaris HIMMABA Cabang sejak kepengurusan FK-2 hingga periode terakhir, simak ya !

1. Awwaluddin Susanto (UM) (2000-2004)
Cak Awwaluddin Susanto


Awwaluddin Susanto merupakan Sekretaris pertama Kepengurusan FK-2 (Forum Komunikasi Komisariat), adapun FK-2 atau FKK merupakan embrio dari Kepengurusan HIMMABA Cabang yang resmi terbentuk di tahun 2004.  Dalam kepengurusan FK-2, Cak Awwaluddin Susanto diberi mandat mendampingi Sedulur Abdullah Mudzakir sebagai ketua FK-2 guna mempersiapkan terbentuknya kepengurusan HIMMABA Cabang




2. Didik Zahid Fauzi (UIN) (2004-2005)

Cak Didik
Didik Zahid merupakan sekretaris HIMMABA Cabang Pertama yang diberi amanat mendampingi sedulur M. Ahsanuddin (UM) sebagai ketua HIMMABA Cabang Pertama. Kepengurusan periode pertama ini berhasil mewadahi terbentuknya sistem kepengurusan komisariat HIMMABA di kampus UM, UNISMA, dan UB.







3. Misbahul Munir (UIN) (2005-2006)

Cak Misbahul Munir
Misbahul Munir merupakan sekretaris HIMMABA Cabang ketiga yang mengemban amanat bersama sedulur Anang Sugiarto. Pada awal kepengurusan ini mulailah dikaji mendalam terkait AD-ART, mengingat sebelumnya AD-ART HIMMABA belum disempurnakan. diAkan tetapi disayangkan kepengurusan ini gagal melanjutkan mandataris organisasi hingga akhirnya di tahun 2005 kepengurusan HIMMABA Cabang vakum sampai tahun 2010 kembali dicanangkan pembentukan HIMMABA Cabang.





4. Ahmad Ulil Albab (UIN) (2010-2011)
GALERI:  7 SEKRETARIS HIMMABA CABANG
Cak Ulil (Kaji)

Ahmad Ulil Albab merupakan satu-satunya sekretaris HIMMABA Cabang yang berstatus sebagai anggota istimewa, mengingat ia bukanlah putra asli Bahrul ‘Ulum. Akan tetapi keberhasilannya membentuk gerakan HIMMABA Online menjawab keraguan atas dirinya sebagai pengemban amanat tertinggi administrasi HIMMABA. 







5. Siti Khoirun Na’imah (UM) (2011-2012)

GALERI:  7 SEKRETARIS HIMMABA CABANG
Mbak Choir (Better)
Sama sepertihalnya Ahmad Ulil Albab, Siti Khoirun Na’imah juga merupakan satu-satunya perempuan yang diberi amanat sebagai sekretaris HIMMABA Cabang. Dalam kepengurusan ia mendampingi Ali Ma’sum sebagai ketua HIMMABA Cabang Periode keempat.








6. Fahri Ahmad Safar (UIN) (2012-2013)

Cak Fahri
Pria yang disapa “Fahri” ini tahun sebelumnya merupakan ketua HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang Periode 2012. Setelah itu ia juga diberi mandat sebagai sekretaris Kongres HIMMABA V bersama M. Fadly sebagai ketua panitianya, hal inilah yang pada akhirnya membuatnya diberikan tanggung jawab sebagai sekretaris HIMMABA Cabang Kelima yang juga mendambingi M. Fadly sebagai ketua terpilih.






7. Rizal Nanda Maghfiroh (UIN) (2014-2015)

GALERI:  7 SEKRETARIS HIMMABA CABANG
 Rizal Nanda (Slow cilik)
Terpilihnya Rizal Nanda sebagai sekretaris HIMMABA Pusat (Pada Periode ini) bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat sebelumnya ia juga diberi tanggung jawab serupa sebagai juru tulis HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang masa abdi 2013 bersama M. Arif Luqman Hakim sebagai ketuanya. Keberhasilannya mengawal administrasi kepengursan dan menghidupkan gerakan HIMMABA Online lewat website HIMMABA membuat ia dipercaya kembali sebagai sekretaris kepengurusan bersama M. Riris El Yusi sebagai ketua HIMMABA Pusat (Cabang: Sekarang).



8. Syahdean Awifa Rozaqtana (UIN) (2015-2016)
GALERI:  7 SEKRETARIS HIMMABA CABANG
Cak Awifa
Pria asal mojokerto ini sebelumnya merupakan Koordinator Divisi Humas HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang Periode 2014-2015. Mandat pimpinan administrasi yang diamanatkan padanya tentu tidaklah lepas dari pengalamannya dalam organisasi HIMMABA. Selain pernah menjabat sebagai Koordinator Divisi Humas, ia juga pernah diberi amanat sebagai Ketua Konferensi HIMMABA UIN Maliki Malang (tahun 2013).

Day's HIMMABA 32Th Goncang UIN Maliki Malang

Day's HIMMABA 32Th Goncangkan UIN Maliki Malang
Pembacaan Maulud Diba Kubra  oleh Tim Banjari HIMMABA Feat ALBAMA
Day’s HIMMABA, itulah kata yang cocok untuk penggambaran tanggal 13 desember. Pada edisi 13 Desember di tahun 2015 kali ini HIMMABA telah menggenapkan dirinya dengan usia 32 tahun sejak organisasi tersebut didirikan pada 1983 silam. Dalam rangka menyambut even terbesar HIMMABA, pengurus cabang HIMMABA pun mempersiapkan beberapa rangkaian acara guna penghormatan akan kesakralan organisasi tercinta.

Ahad (13/12/2015) kemarin pengurus cabang resmi melaksanakan istighosah dan maulud dibaiyyah kubra sebagai wujud kongkret kecintaan pada almamater HIMMABA. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini tergolong unik mengingat pengurus HIMMABA menggandeng ALBAMA (Aliansi Banjari Malang Raya) dalam rangka mensukseskan acara yang dihadiri sekitar 100-an peserta tersebut. 
Ustadz Deni "Gendut" perwakilan PPBU menyampaikan Mauidha Hasanah

Acara yang dilaksanakan di aula gedung C UIN Maliki Malang tersebut diawali dengan penbacaan istighosah kubra yang dipimpin oleh sedulur Dawud Zahiruddin. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan maulud diba kubra oleh kolaborasi tim banjari HIMMABA dan ALBAMA. Acara ditutup dengan mauidha hasanah dan doa oleh ustadz deni gendut atas nama Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang. Dalam mauidhahnya Ustadz Deni berpesan pada seluruh alumni Bahrul ‘Ulum khususnya HIMMABA yang menginjak usia 32 untuk mampu menularkan virus Bahrul ‘Ulum pada rana sosial masyarakat sepertihalnya ular yang mampu menyemburkan bisa. Selain itu beliau juga berpesan pada segenap alumni untuk senantiasa menjaga nama almamater Bahrul ‘Ulum dan bersikap “Pede” kalau bagian dari santri Bahrul ‘Ulum.


Acara peringatan Harlah HIMMABA Ke-32 tersebut semakin meriah dengan kedatangan FORMABU dan HIMA-BU (Himpunan mahasiswa bahrul ‘Ulum) diberbagai wilayah sepertihalnya HIMAJU Jember, IMABAYA Surabaya, maupun HIMAKBU Kediri. Menanggapi acara tersebut sedulur Yusi selaku ketua FORMABU mengapresiasi akan kegiatan tersebut “Acara HARLAH HIMMABA Ke-32 sangat mantep sepertihalnya mantepnya Sound System dalam acara ini”

Terakhir, Happy Aniversarry 32Th for HIMMABA. Semoga mampu menjaga keistiqomahan komunikasi organisasi.
(red/rnm)