Tuesday, 20 June 2017

Memaknai Lailatul Qadar dengan Tekun Beribadah

Memaknai Lailatul Qadar dengan Tekun BeribadahMemaknai Lailatul Qadar dengan Tekun Beribadah - Sering kita ketahui, pada bukan ramadhan terdapat sebuah peristiwa dimana Allah menurunkan Al-Quran pertama kali kepasa nabi Muhammad SAW. Ya, pada tanggal 17 Ramadhan tepatnya, dan setelahnya kita memperingatinya sebagai malam Nuzulul Qur'an. Lalu selain itu, ada malam yang sangat kita yakini bahwa pada bulan Ramadhan terdapat malam yang lebih baik dari seratus bulan, malam yang penuh barokah, malam yang selalu ditunggu dan dicari oleh umat muslim yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Lantas, apa Lailatul Qadar sebenarnya? Mari kita kaji bersama.

Lailatul Qadar adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan. Ayat al-Qur’an yang pertama dipercayai diturunkan pada malam ini. Malam ini disebut di dalam al-Qur’an dalam surah Al-Qadr, dan diceritakan lebih baik daripada seribu bulan.

Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapa hadits, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. Malah ada sebahagian ulama yang menganggap ia berlaku pada malam genap seperti malam 24 Ramadan. Walau bagaimanapun, antara hikmah malam ini dirahsiakan agar umat Islam rajin beribadat di sepanjang malam khususnya di sepuluh malam yang terakhir. Sebahagian muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri agar berjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sambil beribadah sepanjang malam.

Allah SWT merahasiakan malam Lailatul Qadar seperti menyembunyikan segala sesuatu yang tak tampak di mata kita. Seperti menyembunyikan segala keridhoan-Nya atas segala ketaatan ibadah agar muncul kemurnian atas ketaatan makhluk itu sendiri. Seperti juga Allah menyembunyikan wali-waliNya agar umat manusia tidak terlalu bergantung kepadanya berdoa, supaya manusia berusaha sendiri dengan ikhlas dan sungguh-sungguh dan tak mudah putus asa. Atau seperti menyembunyikan segala kemurkaan-Nya agar kita lebih hati-hati dalam menjalankan segala aktifitas kehidupan kita dari segala kemaksiatan. Seperti Dia yang menyembunyikan mustajab doa hari jumat, menyembunyikan segala amal serta penerimaan taubat yang telah kita lakukan agar kita tetap berada pada keistiqomahan. Dan tentunya masih banyak lagi. Ini membuktikan bahwasannya malam Lailatul Qadar murni hanya Allah yang tahu dan hanya ditunjukkan kepada hambaNya yang sungguh-sungguh beribadah.

Tetapi inilah penyakit besar yang menimpa umat Islam yang menyebabkan malam-malam Ramadhan lesu kerana mereka hanya menanti malam yang dianggap malam lailatul qadar sahaja untuk beribadat. Kerana mengejar kelebihan Lailatul Qadar yang mana kita tidak mengetahui masanya yang tertentu menyebabkan kita terlepas dengan kelebihan Ramadhan itu sendiri yang hanya datang setahun sekali.

Maka, kita perlu merenungi serta mengolah kembali segala niat yang kita kerjakan di bulan suci. Mendapat malam Lailatul Qadar atau tidak tentunya kita haruslah senantiasa untuk bersungguh-sungguh serta ikhlas dalam beribadah. Ingat, kita tercipta hanya perlu beribadah kepadaNya tanpa perlu memikirkan apa yang kita dapat nanti. Jangan pernah berharap surgaNya ataupun takut terhadap nerakaNya. Tapi lakukan segala sesuatu untuk beribadah hanya kepadaNya dan mendapatkan RidhoNya.


Oleh: Muhammad Zaim Affan (Sedulur Himmaba 2010)

Sunday, 18 June 2017

Pertama Kali Nabi Muhammad Mendapat Lailatul Qodar

Pertama Kali Nabi Muhammad Mendapat Lailatul Qodar
Pertama Kali Nabi Muhammad Mendapat Lailatul Qodar - Malam lailatul qadar adalah malam datangnya keberkahan dan kemuliaan (QS Al-Qadr: 1). Malam yang lebih baik dari 1000 bulan (QS Al-Qadr: 3) ini memberikan jaminan kebaikan secara berkesinambungan di mana malaikat turun ke bumi melimpahkan segala kemuliaan dari Allah SWT bagi hamba yang dikehendaki-Nya.

Kemuliaan berkesinambungan tersebut dinyatakan dalam salah satu ayat Al-Qur’an berbunyi, Tanazzalul malaikat war ruh (QS Al-Qadr: 4). Kata Tanazzalul adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang. (M. Quraish Shihab, 1999).

Malam yang hadir pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan menurut beberapa riwayat jatuh pada tanggal-tanggal ganjil ini menuntut kesiapan dari manusianya itu sendiri untuk mendapatkan malam lailatul qadar. 

Artinya, apabila jiwa telah siap, kesadaran telah tumbuh dan bersemi, dan lailatul qadar datang menemui seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadi saat qadar, dalam arti saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang.

Saat itu bagi seorang hamba adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Sejak saat itu pula malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian.

Saat-saat menentukan dan mengubah seluruh kehidupan Nabi Muhammad dan umatnya ialah ketika beliau menyendiri di Gua Hira. Saat itu merupakan momen pertama kali Nabi SAW menemukan malam lailatul qadar. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing Nabi sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Sekilas dari kisah Nabi di atas, lailatul qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Malam lailatul qadar diraih oleh manusia ketika dia telah siap dengan segala kebaikan dan kemuliaan hatinya. Jadi, hadirnya malam yang akan mengubah perjalanan hidup seorang tersebut menuntut peran aktif manusia dalam beramal, beribadah, melakukan kebaikan untuk semua manusia, dan menyucikan jiwanya.

Tamsil dari datangnya malam yang mulia tersebut dapat dijelaskan yaitu ketika ada tamu agung yang berkunjung ke satu tempat tidak akan menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tak sudi mampir menemuinya?

Demikian juga dengan lailatul qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa. Sebab itu, diduga oleh Rasulullah lailatul qadar datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Karena ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinakan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Itu pula sebabnya Nabi SAW menganjurkan sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bisshowab.


Sumber : www.nu.or.id | Minggu, 18 Juni 2017 21.15 WIB

Wednesday, 14 June 2017

Kyaiku Aktivis

Kyaiku Aktivis
Kyaiku Aktivis - Beliau adalah sosok panutan. Bagaimana tidak, aku yang lumayan 'nganu' ini semoga masih dianggap santrinya. Semoga kemuliaan tetap diberikan kepada beliau. Amin.

Beliau adalah penggerak atas berdirinya organisasi yang barokah, Nahdlatul Ulama. Beliau adalah sosok yang piawai untuk menyatukan visi misi kyai-kyai pada waktu itu. Hasil yang kita nikmati saat ini, semuanya tidak lepas dari perjuangan beliau, sebab dawuh beliau sampai saat ini yang masih benar-benar teringat di benak adalah "Tiada kata udzur dalam berjuang".

Esensinya adalah bagaimana kita memperjuangkan sesuatu yang baik jangan pernah ragu. Curahkan segala apa yang kita punya, segala umur kita, dan niati segalanya sebagai ibadah kepadaNya. Bukankah saat kita nyantri di pondok dulu, kita dididik untuk membenahi akhlak masyarakat yang semakin kesini semakin riskan? Maka dengan mencoba meniru beliau, jadi santri haruslah 'strong'.

Nah, sampai titik ini saya -yang sempat nyantri dan insyaAllah masih santri- mencoba mengikuti jalan beliau dalam berjuang. Menjadi santri yang tanggap dan bertanggung jawab. Mempertahankan kearifan lokal seperti amanah beliau. Ibarat sekarang jadi cowok peka, meski sulit tapi harus dicoba.

Cara memulai ini dari yang ringan dulu, misalnya ngopi dan ngaji. Ngaji saya taruh belakang sebab lebih sering ngopi, mungkin tak apalah. Sebab dari ngopi kita akan menumbuhkan ide-ide segar. Mencoba bertukar pikiran untuk menganalisis apa yang menjadi kebutuhan dalam berjuang. Karena sebagai pemuda sangatlah sayang jika hanya menggunakan waktu untuk tidur saja. Begitu kira-kira.


Oleh : Muhammad Fahmi Anwar (Ketua Himmaba Komisariat UIN Maliki Malang Periode 2015)

Thursday, 8 June 2017

Irodah versi Kyai Wahab Chasbullah

Irodah versi Kyai Wahab Chasbullah
Irodah versi Kyai Wahab Chasbullah – Ditengah-tengah kesibukan beliau dalam dunia organisasi, beliau tetap tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang Kyai, yaitu ‘ngajeni’ para santri. Seperti biasa setiap ba’da isya’ beliau punya rutinan mbalah kitab ‘fathul majid’ yang bertempatan di serambi masjid jami’ pondok tambakberas. Kebetulan pada malam itu ngajinya sampai bab qodlo’ dan qodar.

Dengan panjangnya beliau menjelaskan masalah itu, kebetulan atau memang sudah menjadi kebiasaan, selalu saja ada santri yang saking keenakan mengaji atau mungkin karena lainnya, selalu terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur. Salah satu dari santri yang biasa ngantuk saat ngaji itu, sebut saja namanya “Abdul”.

Ketika Abdul terjaga dari tidurnya, pengajian sudah hampir selesai, dan ia juga sempat mendengarkan penjelasan dari Mbah Wahab, “bahwa segala sesuatu yang terjadi dan kita lakukan adalah tidak lepas dari takdir Allah SWT”.

Malam telah tiba, Abdul merasakan bahwa ada yang menjanggal di perutnya. Ia diprotes perutnya karena Abdul kelaparan. “hmm… iki weteng kok gak iso dijak kompromi blas yo?... bengi ngene golek mangan neng endi?... liwetan sore maeng yow is ludes…”. Tiba-tiba saja melintas di benaknya, “ mangga, yaa… mangga”. Pikirnya melayang pada sebuah pohon mangga di halaman ndalem Mbah Wahab yang kebetulan saat itu sedang musimnya. Segera saja Abdul menuju ke halaman ndalem Mbah Wahab, toleh kanan toleh kiri, dan aman. Abdul langsung beraksi memanjat pohon mangga itu, dilanjutkan tangan dan penciumannya yang juga ikut beraksi menyortir buah yang sudah masak.

Ketika sedang asyik-asyiknya Abdul bergerilya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat dikenalnya dari arah bawah, “hoi… sopo iku bengi-bengi ngene penekan wit?.. ayo ndang mudun…!”. Apa dikata, sesampai di bawah sudah menunggu Mbah Wahab  yang berdiri dengan gagah. Dan setelah ia mendekat, Mbah Wahab langsung mengintrogasi, dan terjadilah percakapan antara mbah wahab dan Abdul.
Mbah Wahab   : “sopo sampean?... lapo bengi-bengi ngene penekan wit?”
Abdul              : “kulo santri, Yai. Niki wau ngunduh pelem e panjenengan”.
Mbah wahab   : “lho??? Kok ora ngomong aku, berarti sampean nyolong yo..!?”
Abdul              : “ngapunten Yai… kulo nyolong niki wau lak nggeh sebab takdire Gusti Allah, sami ugi Gusti Allah maringi lesu dateng kulo.”

Mbah Wahab menganggut mendengar argument dan pembelaan Abdul. “ooo ngunu to kang, yowis nek ngunu tak ikhlasno…”. Plong perasaan Abdul seketika itu, tapi diluar dugaan Abdul tiba-tiba Mbah Wahab melepas bakiyak dan disamblokinya Abdul sampai kaing-kaing.

Abdul juga kaget kenapa Mbah Wahab menyamblokinya, padahal Mbah Wahab sudah mengikhlaskan. Sambil mesem Mbah Wahab menjawab kebingungan Abdul, “ikhlasno yo kang, aku nyamboli sampean iki yo takdire Gusti Allah…!”

Oleh : Mohammad Dendi Abdul Nasir (Santri PPBU Tambakberas Jombang)

Referensi : Afandi, M Thom. 2015. Ngopi di Pesantren. Kediri. Tetes Publishing

Wednesday, 7 June 2017

Himmaba Peringati Nuzulul Qur’an dan Santunan Fakir Miskin

Himmaba Peringati Nuzulul Qur’an dan Santunan Fakir Miskin
Himmaba Peringati Nuzulul Qur’an dan Santunan Fakir Miskin - Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul’ Ulum akan menggelar malam Nuzulul Qur'an, Kamis (15/6) mendatang. Acara tersebut juga bersamaan dengan santunan fakir miskin di wilayah Masjid Raden Rahmat Merjosari Malang.

Ketua Cabang Himmaba sedulur Dani menjelaskan, kegiatan tersebut akan diikuti warga dan anggota Himmaba.

"Karena Himmaba adalah organisasi yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, kami mengundang warga setempat untuk hadir pada acara peringatan nuzulul qur’an nanti" ujarnya, Rabu (7/6) saat dihubungi Tim Penulis Himmaba.

Malam Nuzulul Qur'an nanti rencananya akan menampilkan gema Sholawat Nabi oleh Group Al Banjari Himmaba. Kemudian dilanjutkan ceramah Nuzulul Quran yang insyaallah diisi oleh KH Sulthon Abd Hadi dari Jombang.

Lebih Lanjut, Ketua cabang Himmaba ini mengungkapkan momen peringatan Nuzulul Quran di masjid Raden Rahmat Merjosari nanti dilaksanakan secara singkat dan sederhana, karena mengingat waktu dimulai ba’da shalat tarawih. Dan yang terpenting esensinya tercapai.

"Oleh karena itu agar tujuan dan hajat terkabul sebelum mauidhoh hasanah, akan ada pembacaan tahlil bersama-sama, guna kirim doa atau wasilah kepada masyayikh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, ahli kubuh hadirin dan pendahulu Himmaba" pungkasnya. (Den/Red)