Monday, 23 February 2015

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?
Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Tanya: apakah suami menyentuh istrinya dapat membatalkan wudhu? Saya pernah melihat seorang suami menyentuh istrinya, lalu shalat tanpa  berwudhu lebih dahulu.

Jawab: seperti kita maklumi bersama bahwa salah stu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas dan najis. Untuk menghilangkan hadas kecil, kita diwajibkan berwudhu, dan untuk menyucikan diri dari hadas besar kita diharuskan mandi.

Ketika kita menanggung hadas kecil dan hendak melaksanakan shalat diharuskan wudhu terlebih dahulu. Sebaliknya dalam keadaan suci yang perlu kita perhatikan adalah mempertahankan atau menjaga status kesucian itu dengan cara menghindari semua perkara yang membatalkan wudhu. Atau secara umum hal ini dinamakan mubthilat al-wudhu atau asbab al-hadats.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah menyentu istri oleh suami termasuk perkara yang membatalkan wudhu? Permasalahan ini diajukan setelah dalam satu kesempatan penanya melihat seorang lelaki menyentuh istrinya langsung shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.
Kebimbangan penanya sangat wajar sekali karena dalam banyak hal istri itu secara hukum dibedakan dari perempuan lain. Perlu kita ketahui bahwa para ulama’ berbeda pendapat tentang batalnya wudhu akibat persentuhan kulit antar laki-laki dan perempuan secara umum.
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab: II, 30” menjelaskan paling tidak ada 7 pendapat dalam masalah tersebut.

Pertama, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan bukan mahram secara langsung (tanpa penghalang) dapat membatalkan wudhu baik dengan ataupun tidak sengaja disertai atau tanpa syahwat.

Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’i. Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Umar demikian halnya Makhul al-Sya’bi, al-Nakhai dan lain-lain.

Kedua, tidak membatalkan secara muthlak. Pendapat ini kebalikan dari pendapat pertama. Para pelopornya antara lain Ibn Abbas, Atho, Masruq, dan Abu Hanifah termasuk beberapa tokoh yang mendukung pendapat kedua ini.

Ketiga, persentuhan tersebut membatalkan jika disertai syahwat. Dengan demikian persentuhan itu tidak batal kalau terjadi tanpa dengan syahwat.

Keempat, persentuhan tersebut membatalkan jika dilakukan dengan sengaja.

Kelima, membatalkan jika menyentuhnya dengan anggota wudhu.

Keenam, membatalkan jika disertai syahwat walaupun disertai dengan penghalang yang tipis.

Ketujuh, kalau menyentuh perempuan yang halal (istri) tidak batal. (Lihat pula al-Mizan al-Kubra: I,120)

Dari keterangan Imam Nawawi tampak jelas bahwa menurut madzhab Syafi’i yang selama ini kita amalkan menyentuh perempuan membatalkan wudhu. Tentu saja yang dimaksud disini adalah perempuan yang sudah cukup dewasa dalam arti sudah dapat menarik lawan jenisnya, serta tidak tergolong mahram, yakni perempuan yang haram dinikahi akibat hubungan nasab, hubungan perkawinan dan susuan.

Adapun istri, karena termasuk mahram, menyentuhnya tetap membatalkan wudhu.
Kalau ditelusuri lebih dalam, salah satu penyebab timbul perbedaan di atas adalah ketidak samaan dalam memakai kata lamastun pada ayat 43 surat an-Nisa’ yang artinya:

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik(suci), sauplah muka kamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi  Maha Pengampun. (QS. al-Nisa’: 43)

Terhadap ayat ini, sebagian ulama mengartikannya dengan “menyentuh”. Sedangkan sebagian yang lain mengintreprestasi-kannya dengan “bersetubuh”. Keduanya dari segi bahasa memang dimungkinkan. Keterangan lebih lanjut misalnya dapat dilihat pada kitab Rawa’i al-Bayan: I, 477-490.

Dengan demikian, jika penanya pernah melihat suami menyentuh istrinya langsung shalat ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskannya.

Pertama, persentuhan tersebut tidak secara langsung dalam arti terdapat penghalang antara kulit suami dan istri berupa kain, plastik, dan lain sebagainya.

Kedua, dia mengikuti Madzhab yang tidak menganggap kejadian tersebut membatalkan wudhu, misalnya pendapat kedua.

Ketiga, orang tersebut lupa bahwa dia menyentuh istrinya. Keempat, suami tersebut tidak mengetahui tindakannya dapat membatalkan wudhu.

Kalau dirasa sulit menghindari persentuhan kulit dengan istri khususnya atau perempuan pada umumnya, dapat kita berpindah madzhab dengan mengikuti madzhab Hanafi yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah.

Sudah barang tentu mengikutinya harus secara total dalam satu qadhiyah, dalam hal ini meliputi tata cara wudhu dan hal yang bersangkutan dengannya secara komplit, yag meliputi rukun, syarat dan perkara yang membatalkan.

Rukun wudhu menurut Madzhab Hanafi ada empat, yakni membasuh muka, kedua tangan dan kaki dan mengusap seperempat kepala. Sedangkan perkara yang membatalkan meliputi keluarnya sesuatu dari jalan depan dan belakang, hilangnya kesadaran, tertawanya orang shalat dengan terbahak-bahak, bersetubuh, mengalirnya barang najis seperti darah dan nanah dari badan, muntah-muntah tanpa memenuhi mulut. (Khulashah al-Kalam fi Arkam al-Islam,33-34)

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 6

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?
Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Tanya: Bagaimana hukumnya jika sedang wudhu menyahuti panggilan orang lain. Apakah itu membatalkan wudhu yang sedang dilakukan?

Jawab: Memang dalam kenyataan sehari-hari, kita sering menjumpai sebagian kaum muslim berbicara dengan orang lain di tengah-tengah melaksanakan wudhu. Kenyataan tersebut tidak hanya terjadi pada anak-anak kecil yang masih sulit melepaskan diri dari kebiasaan guyonan, tapi orang dewasa pun melakukannya, meski sangat jarang.

Mengingat keabsahan wudhu berkaitan langsung dengan keabsahan shalat yang hendak dikerjakan, sudah sepatutnya fenomena yang kurang layak tersebut tidak dipertahankan. Sejauh manakah dampaknya? Apakah dapat membatalkan wudhu? Ataukah sekedar mengurangi kesempurnaan wudhu itu sendiri?

Kalau kita kembali ke literatur-literatur fiqih, khususnya kitab I’anah al-Thalibin dijumpai keterangan bahwa di tengah mengerjakan wudhu disunnahkan untuk tidak berbicara tanpa ada keperluan. Jika terdapat keperluan yang mendesak, berbicara malah bisa berubah menjadi wajib. Misalnya saat berwudhu kita melihat orang buta berjalan sendirian, padahal di depannya terdat lubang yang membahayakan dirinya. Dalam kondisi seperti itu tentu wajib bicara seraya berteriak membrikan peringatan kepadanya. Menyelamatkan orang buta jelas lebih diutamakan daripada memenuhi anjuran untuk diam saat mengerjakan wudhu. Anjuran diam tersebut sangatlah beralasan. Bagaimanapun wudhu adalah ibadah yang sedapat mungkin kita laksanakan dengan penuh kekhusyu’an dan konsentrasi agar terlaksana sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan syari’at sebagaimana terumus dalam kitab-kitab fikih. Sebagaiman dimaklumi, membasuhi kaki, tangan dan muka harus betul-betul merata. Jangan sampai ada bagian yang tidak tersentuh air, termasuk perbuatan dosa. Melakukan aktivitas tentu membutuhkan ketenangan, kehati-hatian dan konsentrasi secukupnya.

Dari keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan, berbicara saat berwudhu, meski kurang layak, tidak sampai membatalkan. Lain halnya dengan shalat. Berbicara pada saat mengerjakannya bisa membatalkannya.

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 4

Wednesday, 11 February 2015

Tepatkah HIMMABA Dependen pada IKABU...???

Dewasa ini, wacana penyatuan organisasi mahasiswa alumni pesantren Bahrul Ulum menjadi hangat untuk dibicarakan. Pasalnya, wacana ini telah direncanakan mulai tahun 2011 atau kurang lebih 3 tahun silam. Hingga saat ini organisasi mahasiswa alumni pondok pesantren Bahrul ‘Ulum semakin marak bermunculan, setelah tahun lalu berdiri HIMAJU di jember dan HISAB di kediri, awal tahun ini juga berdiri organisasi yang sama yaitu HIMABARA di Madura dan HIMAPUTA di Bali.

Melihat perkembangan yang begitu pesat, IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum) mulai memiliki pandangan yang bagus untuk berusaha kembali menyatukan organisasi Himpunan mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum dalam satu wadah Badan Otonom yang nantinya akan menjadi partner kerja bagi IKABU. Sehingga, wacana ini dirasa untuk dilaksanakan sesegera mungkin sebelum nanti MUNAS IKABU dilaksanakan. Dimaksut untuk menyatukan semuanya, agar ruang gerak bisa lebih jelas. Karena, selama ini pada devisi Kemahasiswaan IKABU kurang memiliki gerak yang segnifikan. Sehingga, Badan Otonom (BANOM) ini nanti bergerak dalam ruang lingkup mahasiswa saja dan menghapus Devisi Kemahasiswaan IKABU.

Bagi HIMMABA sendiri ide penyatuan organisasi Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum sebenarnya tidaklah asing mengingat sekitar 3 tahun silam juga pernah muncul ide serupa yang digagas oleh IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul ‘Ulum) yang baru terbentuk sejak tahun 2010. Dengan demikian sejak saat itu HIMMABA bersama organisasi Himpunan Mahasiswa Malang Alumni ‘Ulum lainnya seperti HIMABU Jogja, IMABAYA Surabaya, dan HIMABI Jakarta digadang-gadang akan dependen dengan IKABU. Akan tetapi bagi HIMMABA sendiri ide untuk dependen dengan IKABU terbantahkan, sejak tahun 2011 melalui Kongres HIMMABA Ke-IV HIMMABA resmi memutuskan diri untuk kembali menjadi organisasi yang Independent tanpa terikat dengan struktur IKABU. Hal ini disebabkan karena sebelumnya saat HIMMABA dependen dengan IKABU seringkali terdapat ketidak cocokan dan kurang komunikasi. Keputusan untuk independen semakin di gagas HIMMABA tatkala Kongres HIMMABA VI di Songgoriti Batu, melalui Kongres tersebut dirubahlah nama Pengurus Cabang HIMMABA sebagai kepengurusan tertinggi HIMMABA di Malang Raya menjadi Pengurus Pusat, langkah ini ditempuh untuk menyesuaikan AD-ART HIMMABA sendiri yang memutuskan diri untuk independen melalui kongres sebelum-belumnya.

Pada awal tahun ini IKABU yang diketuai oleh Gus Taufiq kembali mencanagkan penyatuan Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Bedanya pada tahun ini IKABU membuat sebuah terobosan baru dimana nantinya tatkala Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum bergabung dengan IKABU maka organisasi mahasiswa dari berbagai daerah tersebut akan dimasukkan dalam sebuah badan otonom milik IKABU. Mekanisme kerjanya seperti halnya Nahdlatul ‘Ulama yang merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, dalam struktur organisasi NU terdapat sebuah badan-badan khusus diluar struktur kepengurusan NU yang meliputi Lajnah, Lembaga, serta Badan Otonom. Ketiga badan khusus tersebut sebenarnya hanyalah sebutan saja, dimana dalam tiga badan tersebut sebenarnya terdapat sebuah organisasi-organisasi yang bergelut dibidang masing-masing, sebut saja Lajnah yang meliputi Lajnah Falakiyah yang berfokus pada pengembangan ilmu falaq, Lajnah Ta’lif Wan Nasr yang menangani masalah penerbitan buku, sementara Lembaga sepertihalnya Lembaga Ma’arif NU yang menangani bidang pendidikan, Lembaga Kajian Pengembangan Sumber daya Manusia (LAKPESDAM) yang menangani bidang pengembangan seni dan budaya, sementara Badan otonom sendiri seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama (IPNU) dan Ikatan Pealajar Puteri Nahdlatul ‘Ulama (IPPNU) yang mengorganisir pelajar putra dan putri, ANSOR yang mengorganisir para remaja. Kesemua organisasi-organisasi diatas oleh Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) diberi otoritas penuh untuk mengembangkan alur organisasi masing-masing selagi tidak bertentangan dengan AD-ART Nahdlatul ‘Ulama. Dengan demikian tatkala IKABU berhasil menggandeng organsiasi Mahasiswa Alumni bahrul ‘Ulum diberbagai daerah maka IKABU berencana membentuk sebuah badan otonom khusus IKABU yang bertugas menghimpun para mahasiswa alumni pondok pesantren Bahrul ‘Ulum di pelosok nusantara.

Keinginan IKABU diatas terwujud usai tercapainya Mou antara IKABU dengan berbagai Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum di beberapa daerah, termasuk HIMMABA sendiri. Bagi HIMMABA sendiri menjadi organisasi yang dependen tentu akan menimbulkan efek pada pengelolahan sistem, alur, serta laju organisasi, mengingat sebelumnya HIMMABA merupakan organisasi yang independen, berdiri sendiri tanpa terikat dengan organisasi atau badan lain. Diantara hal yang diprediksikan akan berdampak pada HIMMABA tatkala badan otonom Himpunan Mahasiswa terbentuk adalah terkait AD-ART HIMMABA yang diantaranya membahas tentang persyaratan kepengurusan, Batas akhir kepengurusan, pengangkatan kepengurusan.

Selama ini batas akhir kepengurusan HIMMABA pusat (Cabang:dulu) adalah bulan april sedangkan kepengurusan HIMMABA Komisariat adalah tiap bulan februari. Sementara persyaratan ketua HIMMABA pusat sendiri minimal semester 6 sedangkan persyaratan pengurus Komisariat minimal semester empat. Jika HIMMABA resmi dependen dengan IKABU tentu hal tersebut mempunyai peluang untuk berubah sesuai dengan PDPRT Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum yang belum ditetapkan kesepakatan nama organisasi, dimana perumusan PDPRT tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada bulan agustus mendatang melalui sebuah Kongres Nasional Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum se-Indonesia yang bertempat di PP. Bahrul ‘Ulum sendiri

Selain hal diatas hal lain yang dipastikan akan berubah pada alur kerja HIMMABA ketika Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum terbentuk adalah dalam hal nama kepengurusan, dependennya HIMMABA dengan IKABU sudah tentu akan membuat embel-embel Pengurus Pusat HIMMABA kembali berganti menjadi Pengurus Cabang HIMMABA, dan bahkan ada kemungkinan akan ada penyamaan nama organisasi Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Selain terkait nama hal lain yang akan berimbas pada HIMMABA adalah dalam hal pengangkatan pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang) dimana selama ini Surat keputusan pengangkatan Kepengurusan Pusat (Cabang:dulu) dikeluarkan oleh Panitia Kongres HIMMABA, akan tetapi tatkala Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum terbentuk sudah dipastikan SK pengangkatan pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang) akan dikeluarkan oleh Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Selain itu Pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang)  juga mempunyai sebuah tanggung jawab untuk melaporkan Laporan Pertanggungjawaban pada  Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum usai berakhirnya kepengurusan.

Tercapainya Mou antara HIMMABA bersama organisasi Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum di daerah lain dengan IKABU tentu membuat HIMMABA sedikit banyak akan mengalami dampak positif dan dampak negatif, mengingat segala sesuatu didunia ini tentu ada segi positif dan segi negatif termasuk dengan kebijakan HIMMABA untuk dependen dengan IKABU.

Melalui Mou dengan IKABU HIMMABA maka akan terjalin Sanat Kepengurusan yang jelas. Selama ini Organisasi mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum yang telah berdiri menyatakan diri sebagai organisasi yang independen dengan mengesahkan legalitas hukumnya sendiri sebagai organisasi formal. Akan tetapi, sebagai anak cabang dari PP. Bahru Ulum kita tidak mendapatkan Surat Keputusan dari pusatnya dan hanya meletakkan mejelis pengasuh Oleh karena itu, dengan dibentuknya BANOM ini nanti diharapkan, kita selaku anak cabang dari PP. Bahrul Ulum akan memiliki Sanat Kepengurusan yang jelas.

Tercapainya Mou antara HIMMABA dengan IKABU membuat HIMMABA mau tidak mau harus tunduk dengan legitimasi IKABU lewat Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Kebijakan sekecil pun dari IKABU maupun Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum tentu sedikit banyak akan menimbulkan sebuah efek bagi HIMMABA sendiri, efek yang ditimbulkan bisa bersifat postif yang membangun atau bahkan efek neegatif yang cenderung merusak. Hal ini merupakan sebuah resiko bagi organisasi yang terikat dengan organisasi lain secara struktural. Semoga langkah HIMMABA untuk dependen dengan IKABU merupakan langkah yang tepat. Amin…



Tuesday, 10 February 2015

Syair Cinta Tanah Air KH Wahab Chasbullah



 Ya ahlal wathon ya ahlal wathon
Hubbul wathon minal iman
Wahai anak bangsa wahai anak bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman

Hubbul wathon ya ahlal wathon
Wa la takun ahlal hirman
Cinta tanah air wahai anak bangsa
Dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal

Innal kamala bil a'mali
Wa laisa dzalika bil aqwaali
Sesungguhnya kesempurnaan (Cinta tanah air) itu diringi perbuatan
tidak hanya sekadar ucapan

Fa'mal tanal ma fil amal 
Wa la takun mahdhol qawal
Berbuatlah, akan kau dapatkan semua angan-angan
Dan jangan hanya bisa berucap belaka

Dunyakumu ma lil maqorr 
Wa innama hiy lil mamarr
Duniamu hanyalalah tempat untuk lewat
Bukan tempat untuk menetap

Fa'mal bimal maula amar
Wala takun baqorozzimar
Maka amalkan apa pun perintah Tuhan
Dan jangan jangan jadi sapi para peniup seruling

Lam ta'lamuu man dawwaruu
Lam ta'qilu maa ghoyyaru
Kamu tidak tahu siapa yang mengendalikan
Kamu juga tidak mengerti apa saja yang mereka ubah

Aiyna intihau ma sayyaru
Kaifa intihau ma shoyyaru
Tak tahu dimana perjalanan mereka akan terhenti
(Juga) Tak jelas bagaimana semuanya ini akan mereka akhiri

Am humu fihi saaqokum
Ilal madzabihi dzabhakum
Tak tahu, apakah mereka sedang menggiringmu
ke tempat jagal untuk menyembelihmu

Am i'taqoukum uqbaakum
Am yudiymuu a'baakum
Ataukah mereka membebaskan leher kalian
Atau malah melanggengkan beban kalian

Ya ahlal uqul assalimah
Wa ala alqulubi al a'zimah
Wahai yang memiliki akal waras
Wahai yang memiliki hati kokoh

Kuunu bi himmah a'liyah
Wa la takun kassaimah
Tetaplah kalian dengan spirit menggelora
Dan jangan menjadi laksana hewan piaraan

Monday, 9 February 2015

Nonton Film di Gedung Bioskop

Nonton Film di Gedung Bioskop
Nonton Film di Gedung Bioskop - Nonton film di gedung bioskop biasa disingkat “Nonton”. Aktivitas ini merupakan kelaziman masyarakat masa kini baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dengan harga terjangkau, pengunjung gedung bioskop bisa menikmati film terbaru sebelum tayang umum di televisi. Kendati demikian, ada juga bioskop kelas kere yang memutar film lama.

Nonton di gedung bioskop, menurut banyak pengunjungnya, lebih asyik daripada nonton film sendirian di televisi atau di laptop. Efek sound sistem yang menggelegar luar biasa ini memberikan pengalaman istimewa bagi mereka yang nonton. Ditambah lagi suasana gelap ruangan saat film diputar. Sementara nonton film di rumah akan mengganggu kenyamanan tetangga bila volume sound sistem dikuatkan seperti lazimnya di gedung bioskop.

Lalu bagaimana kedudukan nonton di mata hukum. DR Yusuf Qaradhawi dalam karyanya Al-Halal wal Haram fil Islam menerangkan sebagai berikut.

ولا شك أن السينما وما ماثلها أداة هامة من أدوات التوجيه والترفيه. وشأنها شأن كل أداة فهي إما أن تستعمل في الخير أو تستعمل في الشر فهي بذاتها لابأس بها ولاشئ فيها والحكم في شأنها يكون بحسب ما تؤديه وتقوم به

Tidak perlu ragu bahwa pertunjukkan film dan sejenisnya merupakan sarana penting dari sekian banyak sarana hiburan. Sebagai sarana, kedudukan film bioskop sama seperti sarana lainnya. Artinya, ia bisa jadi digunakan untuk kebaikan. Tetapi ada kalanya film dimanfaatkan untuk keburukan. Secara substansi, pertunjukan bioskop tidak masalah. Kedudukan hukumnya didasarkan pada pesan dan isi film.

Kami, kata Qaradhawi, memandang aktivitas nonton di gedung bioskop halal dan baik-baik saja. Lalu, Qaradhawi menyebutkan sejumlah syarat antara lain agar pengunjung menjauhkan film-film yang menampilkan kefasikan atau menafikan aqidah, syariah, maupun adab Islam.

Begitu juga film-film yang membangkitkan kesenangan-kesenangan duniawi, dosa, atau mendorong orang untuk berbuat kriminal.

Selain itu, aktivitas nonton tidak melalaikan pengunjung gedung bioskop dari kewajiban duniawi seperti aktivitas sekolah atau mencari nafkah, dan kewajiban agama seperti sembahyang lima waktu. Terakhir, kata Qaradhawi, pengunjung gedung bioskop mesti menjauhkan diri dari kerumunan dan desakan-desakan yang membangkitkan syahwat laki-laki dan perempuan. Wallahu a‘lam.

Sumber: http://nu.or.id/ | Jumat, 16/01/2015 15:04

Sunday, 8 February 2015

Tayamum dan Shalat di Pesawat

Tayamum dan Shalat di Pesawat
Tayamum dan Shalat di Pesawat
Tanya: Di pesawat terbang, kami di anjurkan bertayamum dengan debu yang (mungkin) melekat disandaran kursi depan tempat duduk kita. Lalu kami di ajak shalat berjamaah dengan imam yang hanya kami dengar suaranya tapi kami tidak melihat sosoknya. Sahkah sahalat itu? Sebab menurut kiai saya, tayamum seperti itu tidak sah. Shalat sambil duduk seperti itu juga tidak di bolehkan karena kita orang yang mampu berdiri. Apalagi shalat jamaah sepperti itu, tidak sah pula, katanya. Mana yang benar?

Jawab: Dalam kondisi apa dan bagaimanapun seorang muslim tetap terkena kewajiban menunaikan shalat lima waktu pada waktunya secara sempurna. Namun dalam kondisi tertentu seperti sakit, sedang berada dalam perjalanan, tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dipergunakan untuk bersuci atau karena faktor yang lain, seseorang diperkenankan menunaikannya sesuai dengan kemungkinan dan kemampuan yang ada saat itu. Ini sebagaimana firman allah SWT dalam Surat Al-Baqarah: 286, yang artinya:

“Allah tidak akan memberikan beban kewajiban kepada seseorang kecuali bedasarkan kemampuannya” (QS.Al-Baqarah: 286)

Salah satu praktiknya seperti yang di alami oleh jamaah haji di dalam pesawat ketika sudah masuk wktu shalat.

Salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas –besar dan kecil– serta najis.  Untuk menjaga dari hadas besar dan najis, barangkali banyak orang yang bisa melakukannya, tapi sebaliknya sedikit orang yang bisa menjaga diri tetap suci dari hadas kecil sehingga untuk menjalankan shalat mereka harus berwudhu dengan air yang suci mensucikan atau tayamum dengan debu terlebih dahulu.

Melihat fasilitas air di pesawat dengan kapasitaspenumpangnya, rasanya tidak mungkin para jamaah haji mendapatkan air wudhu, begitu pula ketika akan tayamum, sulit mendapatkan debu –meski disandaran kursi sekalipun- sesulit mendapatkan air di pesawat.

Dengan demikian tayamum di pesawat memang belum memenuhi syarat, dengan kata lain tidak sah karena tidak terdapat debu yang bisa digunakan untuk bersuci.

Kondisi semacam ini di mana seseorang tidak bisa mendapatkan alat untuk bersuci (air dan debu) dalam terminologi fikih disebut Faqidu al-thahurain. Dalam kondisi ini seseorang tetap wajib menjalankan shalatnya sendiri-sendiri. Karena hurmatu al-wakti bukan liada’i al-fardhi. Olehkarena itu mereka di wajibkan i’adah (mengulang shalatnya) ketika sudah memungkinkan bersuci.

Adapun masalah berjamaah di pesawat bisa dibuat dua asumsi. Asumsi pertama, semua penumpang baik yang imam maupun makmum dalam keadaan Faqidu al-thahurain. Jamaah dengan imam yang Faqidu al-thahurain tidak sah karena shalatnya wajib i’adah.

Asumsi kedua, dalam pesawat penumpang masih dalam keadaan suci karena memiliki wudhu, mereka dapat menjalankan shalat sendiri atau berjamaah. Bolehkah menjalankannya dengan duduk? Menurut syafi’iyah apabila tidak memungkinkan dengan berdiri karena kesulitan atau kepayahan (‘ajzu) atau kemungkinan mabuk udara maka boleh shalat dengan duduk. (Al-Fiqhu al-islami: II, 826).

Kalau diteliti lebih lanjut, ’ajzu itu tidak bisa dilihat dari faktor internal individu ansich, tapi juga fakor eksternal meliputi ruang dan jalannya tumpangan, dalam hal ini pesawat yang tidak memungkinkan seseorang shalat dengan berdiri.

Jadi, jamaah dengan duduk bagi penumpang pesawat boleh-boleh saja sepanjang dipenuhi syarat-syaratnya yang meliputi, Pertama, niat makmum bagi makmum. Kedua, shalat yang dijalankan antara imam dan makmum adalah shalat yang sama. Ketiga, makmum tidak berada di depan imam, yang dalam praktiknya yang menjadi standar adalah pantat imam (makmum tidak maju melebihi pantat imam). Keempat, jamaah berada di suatu tempat sehingga makmum bisa melihat dan mendengarkan suara imam. Melihat dan mendengar imam tidak harus secara langsung karena syarat itu bisa terpenuhi dengan melihat makmum di depan atau sampingnya yang secara bersambungan dapat melihat imam. Dan yang kelima, makmum mengikuti imam. (Al-Fiqhu al-islami: I, 1240-1252).

Sumber: Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 2