Saturday, 18 April 2015

HIMMABA Pusat Canangkan Pembaharuan Sejarah HIMMABA

MUSYTABA III : Sebuah Perjalanan HIMMABA yang belum sempat tercatat sejarahnya
 “JAS MERAH”, itulah ucapan yang sering digalakkan oleh Proklamator Indonesia, Ir Soekarno. Istilah tersebut merupakan kependekan dari salah satu pesan Presiden Pertama Indonesia, “jangan sekali-kali melupakan sejarah” itulah kepanjangannya. Pesan dari Bung Karno diatas tentu akan menimbulkan sebuah pertanyaan dibenak kita, Mengapa sejarah menjadi hal yang urgen bagi suatu bangsa..?”.

Perlu kita ketahui bersama bahwa sejarah memiliki posisi yang vital bagi suatu bangsa atau suatu kelompok, hal ini disebabkan karena kehadiran sejarah mampu menjadi sebuah ilmu tersendiri dalam persiapan meyongsong hari esok. Pengalaman-pengalaman yang telah dialami pada masa-masa lalu itulah yang dapat menarik sebuah hikmah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan kedepan.
Paparan diatas itulah yang pada akhirnya mendorong pengurus pusat HIMMABA berencana untuk membukukan sejarah HIMMABA yang belum sempat diperbarui. “ Selama ini perjalanan sejarah HIMMABA hanya berkutat antara awal berdirinya HIMMABA ditahun 1983, setelah itu tidak ada cerita yang jelas mengenai perjalanan HIMMABA sendiri. Penulisan lanjutan sejarah HIMMABA sendiri barulah dilanjutkan awal tahun 1999 sejak kepengurusan HIMMABA berubah menjadi sistem-sistem Komisariat di tiap kampus” Papar sekretaris HIMMABA Pusat.

Menanggapi kondisi tersebut, Pengurus HIMMABA Pusat berencana membuat Tim Pembukuan sejarah HIMMABA yang belum sempat dibukukan. Terkait apa yang mendorong HIMMABA Pusat membukukan sejarah HIMMABA, Slow mengungapkan alasannya, “Inspirasi kami membukukan sejarah HIMMABA berasal dari buku Antologi NU yang berisi perjalanan sejarah NU , profil tokoh-tokoh, serta istilah-istilah dalam NU, oleh karena itu kami atas nama pengurus meminta doa pada segenap dulur-dulur agar rencana tersebut terwujud”, papar mantan sekretaris HIMMABA UIN Periode 2013 tersebut. (Rnm/red)

Thursday, 16 April 2015

REVIEW: BAKTI SOSIAL HIMMABA 2015, SATU LANGKAH KECIL MENUJU PERUBAHAN BESAR.



FIGHT: Langkah Kecil HIMMABA di Jajang 


Berbicara mengenai eksistensi HIMMABA sebagai organisasi alumni pesantren maka tentu kita akan dihadapkan dengan fenomena yang menarik, dimana organisasi yang kini berusia 31 tahun ini senantiasa menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi sosial masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya kegiatan Bakti Sosial HIMMABA oleh pengurus Pusat HIMMABA. Kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari tersebut (9-12/4) bertempat di Dusun Jajang, sebuah dusun terpencil di Desa Sumberejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Dusun Jajang merupakan satu dari lima dusun di Desa Sumberejo, Kecamatan Poncokusumo. Untuk mencapai Dusun ini harus melewati jalan berupa tanah pegunungan yang tidak rata, sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai Dusun yang terletak 17 Km dari Gunung Semeru tersebut. Pemilihan Dusun Jajang sebagai lokasi Bakti Sosial bukan dipilih tanpa pertimbangan, melainkan melalui berbagai pertimbangan yang cukup mendalam diantaranya adalah kondisi geografis dan sosiologis masyarakat setempat. Kondisi geografis yang cukup memprihatinkan serta kondisi masyarakat yang membutuhkan pemahaman pendidikan inilah yang menjadikan jajang terpilih sebagai tempat bakti sosial HIMMABA.

Bakti sosial yang termasuk rangkaian Harlah HIMMABA Ke-31 ini terdiri dari beberapa rangkaian acara, dimana semua acara bertujuan untuk mendekatkan anggota HIMMABA pada masyarakat setempat, meliputi Pembelajaran TPQ, Gebyar TPQ Jajang, pengadaan bimbingan belajar anak, kerja bakti, hingga pengadaan pengajian umum yang bekerja sama dengan warga setempat.

Hari pertama bakti sosial HIMMABA (9/4) diisi dengan kegiatan ta’aruf kepada warga setempat, terutama para tokoh masyarakat Dusun Jajang seperti Kepala Dusun, Ketua Ta’mir Masjid, Kepala Remaja Masjid, Ketua RT dan RW, serta para sesepuh Dusun Jajang. Adapun kegiatan ta’aruf ini bertujuan selain sebagai media sosialisasi juga berperan sebagai media pendekatan kepada jajaran tokoh masyarakat untuk dapat meningkatkan antusias warga mengikuti kegiatan yang akan dilaksanakan.

Pada Hari kedua bakti sosial HIMMABA (10/4) diisi dengan berbagai kegiatan bernuansa kependidikan seperti pembelajaran TPQ, dan pengadaan bimbingan belajar anak. Adapun tujuan utama pengadaan kegiatan bernuansa kependidikan tersebut adalah sebagai media pemberian motivasi pada para anak agar semangat dalam menuntut ilmu. Adapun pada hari sabtu (11/4) kegiatan bakti sosial HIMMABA diisi dengan pengadaan lomba TPQ yang terdiri dari lomba Adzan, MTQ, serta Fashion Show. Pada malam harinya diisi dengan pengajian umum yang bekerja sama dengan warga setempat.

Kegiatan bakti sosial bertemakan “Satu langkah kecil menuju perubahan besar” ini mendapat sambutan positif dari warga setempat. Hal ini dipaparkan langsung oleh Bapak Krismanto selaku Kepala Dusun Jajang, “Saya atas nama Kepala Dusun mengucapkan terima kasih atas pengabdian dari HIMMABA pada masyarakat Jajang meskipun hanya empat hari saja.”, tutur Kamituwo tersebut.

Meskipun terbilang sukses, kegiatan bakti sosial HIMMABA tersebut tidak lepas dari beberapa kendala diantaranya adalah kurangnya pembagian wilayah kerja, sehingga hal ini berimbas pada program kerja yang seakan-akan serabutan, papar Arifin selaku sekretaris Panitia. Ia juga berharap agar kekurangan tersebut tidak terulang lagi pada kegiatan serupa. (rnm/red)

Wednesday, 11 March 2015

Bintang dalam Kosong

Bintang dalam Kosong

Bintang dalam Kosong 

Beberapa orang di dalam kelas terdiam
Duduk di dunianya sendiri menunduk sepi
Sementara yang lain telah membagi warna
Mereka masih terdiam menghadap selembar kertas
Lembar yang kosong, putih, dan bersih
Hanya ada beberapa gores hitam di antara empat sudut
Sementara yang lain telah membagi kisah
Mereka masih memegang sebuah pena
Memperindah tetes tinta menjadi ukiran penuh cerita
Klasik yang mengharukan
Beberapa orang yang masih terdiam
Mengingat masa semalam larut bersama bintang
Bintang masih mewarnai langit
Celah pupil menciptakan refleksi cahaya lurus masuk ke dalam
Membekas jelas tertangkap di ujung retina
Namun bintang masih di atas, tak ikut jatuh beriringan cahaya
Bintang masih bersama bulan
Mereka masih saja terdiam
Sementara yang lain telah berikrar
Entah apa yang mereka pikirkan
Beberapa orang masih memandang satu lembar itu
Titik-titknya pun mulai tak jelas
Samar membentuk bayangan yang tak terbaca
Mungkinkah dia bintang cerah semalam?
Sementara yang lain telah bergegas pergi
Mereka masih menunggu bintang di hari lain

            Gedung A.105 FITK UIN Maliki

08.00 Malang, 28 Oktober 2014


@Syahdean_ar

Sunday, 8 March 2015

Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid

Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid
Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid - Tidak ada seorang pun yang ingin kehidupannya terganggu. Baik gangguan itu datangnya dari luar maupun dari dalam. Zaman makin ahir, tehnologi semakin canggih, tapi tindak kejahatan dan kekerasan semakin marak. Walaupun jenis undang-undang dan peraturan semakin banyak pula. Sepertinya undang-undang dan peraturan itu tidak lagi fungsi sebagai pencegah. Bahkan sebaliknya.

Oleh karena itu, orang sekarang hendaknya memiliki ‘pegangan’ masing-masing, selain iman dan taqwa pegangan itu bisa saja berupa kepiawaian bela diri, kepiawaian melindungi diri amupaun keahlian melarikan diri. Hal ini menjadi penting melihat makin maraknya jenis kejahatan diantaranya adalah pembegalan.

Barang siapa yang menjadi korban kejahatan lantas dia membela sekuatnya, maka ketika pembelaan itu menyebabkan kematian, maka hukum matinya adalah mati syahid. Karena termasuk dalam konteks membela diri, membela harta, keluarga dan membela kehormatan. Proses pembelaan inilah yang dalam istilah fiqih disebut daf’us shail, yaitu orang yang menyerang orang lain yang berniat jahat ingin merebut harta, jiwa atau kehormatan .

دفع الصائل أى المستطيل على غيره ظلما بقصد النيا من ماله أو نفسه أو عرضه

Sebagaimana diterangkan dalam al-Baqarah: 194

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ 

Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.

Tentang Sebuah hadits hukum mati syahid orang yang melawan kejahatan demi membela diri Rasulullah saw dengan sanagt jelas bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barang siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia mati syahid. Barang siapa yang dibunuh karena membela agamanya maka ia mati syahid. Barang siapa yang dibunuh karena membela darahnya, maka ia mati syahid. Dan barang siapa yang dibunuh karena membela keluarganya ia mati syahid.

Demikianlah jaminan bagi mereka yang berani melawan kejahatan demi membela diri, harta dan keluarganya. Demikian pula melawan kejahatan dalam rangka membela diri orang lain hukumnya adalah sama seperti membela diri sendiri. Jelas rasululah saw pernah bersabda

ن أُذلّ عنده مؤمن فلم يَنْصُرْه وهو قادرٌ على أن ينصُرَه أذله الله عزّ وجلّ على رؤوس الخلائق يوم القيامة

Barang siapa yang di depannya ada seorang mukmin dihinakan kemudian dia tidak menolongnya, padahal ia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakannya di depan pemuka para makhluk kelak di hari kiamat.

Demikian juga sebaliknya, jika dalam proses pembelaan diri itu seorang begal terbunuh maupun terpotong tangannya, ataupun tercierai, maka tidak ada dosa dan tidak ada hukuman untuknya. Demikian keterangan dalam taqrib:

ومن قصد باذى فى نفسه او ماله اوحريمه فقاتل عن ذلك فلا ضمان عليه

Barang siapa yang disakiti badannya atau hartanya atau keluarganya, lalu karenanya dia berkelahi (dan membunuh) maka tidak ada resiko baginya.

Sumber: nu.or.id | Jumat, 06/03/2015 07:00

Monday, 23 February 2015

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?
Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Tanya: apakah suami menyentuh istrinya dapat membatalkan wudhu? Saya pernah melihat seorang suami menyentuh istrinya, lalu shalat tanpa  berwudhu lebih dahulu.

Jawab: seperti kita maklumi bersama bahwa salah stu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas dan najis. Untuk menghilangkan hadas kecil, kita diwajibkan berwudhu, dan untuk menyucikan diri dari hadas besar kita diharuskan mandi.

Ketika kita menanggung hadas kecil dan hendak melaksanakan shalat diharuskan wudhu terlebih dahulu. Sebaliknya dalam keadaan suci yang perlu kita perhatikan adalah mempertahankan atau menjaga status kesucian itu dengan cara menghindari semua perkara yang membatalkan wudhu. Atau secara umum hal ini dinamakan mubthilat al-wudhu atau asbab al-hadats.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah menyentu istri oleh suami termasuk perkara yang membatalkan wudhu? Permasalahan ini diajukan setelah dalam satu kesempatan penanya melihat seorang lelaki menyentuh istrinya langsung shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.
Kebimbangan penanya sangat wajar sekali karena dalam banyak hal istri itu secara hukum dibedakan dari perempuan lain. Perlu kita ketahui bahwa para ulama’ berbeda pendapat tentang batalnya wudhu akibat persentuhan kulit antar laki-laki dan perempuan secara umum.
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab: II, 30” menjelaskan paling tidak ada 7 pendapat dalam masalah tersebut.

Pertama, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan bukan mahram secara langsung (tanpa penghalang) dapat membatalkan wudhu baik dengan ataupun tidak sengaja disertai atau tanpa syahwat.

Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’i. Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Umar demikian halnya Makhul al-Sya’bi, al-Nakhai dan lain-lain.

Kedua, tidak membatalkan secara muthlak. Pendapat ini kebalikan dari pendapat pertama. Para pelopornya antara lain Ibn Abbas, Atho, Masruq, dan Abu Hanifah termasuk beberapa tokoh yang mendukung pendapat kedua ini.

Ketiga, persentuhan tersebut membatalkan jika disertai syahwat. Dengan demikian persentuhan itu tidak batal kalau terjadi tanpa dengan syahwat.

Keempat, persentuhan tersebut membatalkan jika dilakukan dengan sengaja.

Kelima, membatalkan jika menyentuhnya dengan anggota wudhu.

Keenam, membatalkan jika disertai syahwat walaupun disertai dengan penghalang yang tipis.

Ketujuh, kalau menyentuh perempuan yang halal (istri) tidak batal. (Lihat pula al-Mizan al-Kubra: I,120)

Dari keterangan Imam Nawawi tampak jelas bahwa menurut madzhab Syafi’i yang selama ini kita amalkan menyentuh perempuan membatalkan wudhu. Tentu saja yang dimaksud disini adalah perempuan yang sudah cukup dewasa dalam arti sudah dapat menarik lawan jenisnya, serta tidak tergolong mahram, yakni perempuan yang haram dinikahi akibat hubungan nasab, hubungan perkawinan dan susuan.

Adapun istri, karena termasuk mahram, menyentuhnya tetap membatalkan wudhu.
Kalau ditelusuri lebih dalam, salah satu penyebab timbul perbedaan di atas adalah ketidak samaan dalam memakai kata lamastun pada ayat 43 surat an-Nisa’ yang artinya:

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik(suci), sauplah muka kamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi  Maha Pengampun. (QS. al-Nisa’: 43)

Terhadap ayat ini, sebagian ulama mengartikannya dengan “menyentuh”. Sedangkan sebagian yang lain mengintreprestasi-kannya dengan “bersetubuh”. Keduanya dari segi bahasa memang dimungkinkan. Keterangan lebih lanjut misalnya dapat dilihat pada kitab Rawa’i al-Bayan: I, 477-490.

Dengan demikian, jika penanya pernah melihat suami menyentuh istrinya langsung shalat ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskannya.

Pertama, persentuhan tersebut tidak secara langsung dalam arti terdapat penghalang antara kulit suami dan istri berupa kain, plastik, dan lain sebagainya.

Kedua, dia mengikuti Madzhab yang tidak menganggap kejadian tersebut membatalkan wudhu, misalnya pendapat kedua.

Ketiga, orang tersebut lupa bahwa dia menyentuh istrinya. Keempat, suami tersebut tidak mengetahui tindakannya dapat membatalkan wudhu.

Kalau dirasa sulit menghindari persentuhan kulit dengan istri khususnya atau perempuan pada umumnya, dapat kita berpindah madzhab dengan mengikuti madzhab Hanafi yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah.

Sudah barang tentu mengikutinya harus secara total dalam satu qadhiyah, dalam hal ini meliputi tata cara wudhu dan hal yang bersangkutan dengannya secara komplit, yag meliputi rukun, syarat dan perkara yang membatalkan.

Rukun wudhu menurut Madzhab Hanafi ada empat, yakni membasuh muka, kedua tangan dan kaki dan mengusap seperempat kepala. Sedangkan perkara yang membatalkan meliputi keluarnya sesuatu dari jalan depan dan belakang, hilangnya kesadaran, tertawanya orang shalat dengan terbahak-bahak, bersetubuh, mengalirnya barang najis seperti darah dan nanah dari badan, muntah-muntah tanpa memenuhi mulut. (Khulashah al-Kalam fi Arkam al-Islam,33-34)

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 6

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?
Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Tanya: Bagaimana hukumnya jika sedang wudhu menyahuti panggilan orang lain. Apakah itu membatalkan wudhu yang sedang dilakukan?

Jawab: Memang dalam kenyataan sehari-hari, kita sering menjumpai sebagian kaum muslim berbicara dengan orang lain di tengah-tengah melaksanakan wudhu. Kenyataan tersebut tidak hanya terjadi pada anak-anak kecil yang masih sulit melepaskan diri dari kebiasaan guyonan, tapi orang dewasa pun melakukannya, meski sangat jarang.

Mengingat keabsahan wudhu berkaitan langsung dengan keabsahan shalat yang hendak dikerjakan, sudah sepatutnya fenomena yang kurang layak tersebut tidak dipertahankan. Sejauh manakah dampaknya? Apakah dapat membatalkan wudhu? Ataukah sekedar mengurangi kesempurnaan wudhu itu sendiri?

Kalau kita kembali ke literatur-literatur fiqih, khususnya kitab I’anah al-Thalibin dijumpai keterangan bahwa di tengah mengerjakan wudhu disunnahkan untuk tidak berbicara tanpa ada keperluan. Jika terdapat keperluan yang mendesak, berbicara malah bisa berubah menjadi wajib. Misalnya saat berwudhu kita melihat orang buta berjalan sendirian, padahal di depannya terdat lubang yang membahayakan dirinya. Dalam kondisi seperti itu tentu wajib bicara seraya berteriak membrikan peringatan kepadanya. Menyelamatkan orang buta jelas lebih diutamakan daripada memenuhi anjuran untuk diam saat mengerjakan wudhu. Anjuran diam tersebut sangatlah beralasan. Bagaimanapun wudhu adalah ibadah yang sedapat mungkin kita laksanakan dengan penuh kekhusyu’an dan konsentrasi agar terlaksana sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan syari’at sebagaimana terumus dalam kitab-kitab fikih. Sebagaiman dimaklumi, membasuhi kaki, tangan dan muka harus betul-betul merata. Jangan sampai ada bagian yang tidak tersentuh air, termasuk perbuatan dosa. Melakukan aktivitas tentu membutuhkan ketenangan, kehati-hatian dan konsentrasi secukupnya.

Dari keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan, berbicara saat berwudhu, meski kurang layak, tidak sampai membatalkan. Lain halnya dengan shalat. Berbicara pada saat mengerjakannya bisa membatalkannya.

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 4