Tuesday, 27 January 2015

Tipologi Leader

Tipologi dengan apa yang dimaksud dengan tipe, dalam hal ini membahas beberapa model atau tipikal kepemimpinan. Leader (khalifah) ada pada setiap diri manusia dengan dasar surat albaqarah ayat : 30, “waid qoola rabbuka lil malaikati inni jailun fil ‘ardhi khalifah, qoolu ataj ‘alu fiha man yufsidu fiiha wayasfiquddima’ u wa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisulak, qoola inni a’lamuma laa ta’lamuun”.
Dari jenis kepemimpinan ada yang disebut dengan :
1.     Man of ideas
2.     Man of eksecutor
3.     Man of all (ideas and eksecutor)
Dari ketiga hal tersebut muncul atas realitas serta analisis fenomonologis dengan hal yang berhubungan dengan tersebut. Dari street of leader, terdapat tiga perjalanan mulai PRA=> Masa=>Pasca. Dalam proses ini pemimpin tidak diharuskan bermasalah meskipun hanya satu perjalanan tersebut, jika mau dikatakan berhasil dalam menjalankan.
Secara hubungan dengan pemimpin kepada bawahan pun juga secara tidak langsung diharuskan untuk ramah, terbuka dan sekaligus menerima keluhan dari apa yang selama itu dikeluhkan. Disisi lain pemimpin mengemban banyak amanat yang tidak hanya satu saja, meliputi pengawas, pembina, pelaksanaa, pengevaluasi, contoh sekaligus pengevaluasi.
Teknis kepemimpinan
  Leader bisa dipastikan manager, namun sebaliknya. Manager tidak mesti disebut leader. Dalam ruang lingkup tersebut menurut Jr.Tery harus melalui dibawah ini:
1.     P.O.A.C (Planing, Organizing, Actually and Controlling)

Menurut Donald:

1.     P.O.S.D.C (Planing, Organizing, Starting, Directing and Controlling)

Menurut Henry Fayol:

1.     P.O.C.C.C (Planing, Organizing, Coordination, Commando and Contolling)
Secara Mendalam Arti Kepemimpinan

Ditinjau dari segi pengertian secara luas, bisa menggunakan tinjauan 5W1H. dengan begitu akan mengerti secara keseluruhan.
Menurut Syekh Hasan Darwis dalam kitab sulamun mantiq diterangkan pengertian mengenai ruang lingkup leader:
1.     Al had (definisi)
2.     Al maudhu’ (obyek)
3.     Tamrah (manfaat atau buah)
4.     Fadlah (keutamaan)
5.     Wadi’ (peletak dasar)
6.     Al ism (nama)
7.     Istimdad (pengambilan keputusan hukum)
8.     Nisbat (hubungan)
9.     Masa’il (penyelesaian masalah, solutif)
10.  Ahkamus syar’I (menurut hukum syari’at).
(Iwan/Rnm/Ca)

Saturday, 24 January 2015

Kembali ke Bahrul Ulum

Akhir-akhir ini, wacana menyatukan visi dan misi organisasi mahasiswa alumni pesantren Bahrul Ulum menjadi hangat untuk dibicarakan. Pasalnya, wacana ini telah direncanakan mulai tahun 2011 atau kurang lebih 3 tahun silam. Menjadi tangan panjang kyai, organisasi mahasiswa mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang telah tersebar di penjuru kota seperti Malang, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, bahkan Jember dan Kediri pun ikut andil dalm pembentukan organisasi alumni. Disusul dengan Madura dan Pulau Dewata atau Bali yang tidak ingin ketinggalan, maka dibentuklah organisasi alumni tersebut.

Melihat perkembangan yang begitu pesat, IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum) mulai memiliki pandangan yang bagus untuk menyatukan dalam satu wadah Badan Otonom yang nantinya akan menjadi partner kerja bagi IKABU. Sehingga, wacana ini dirasa untuk dilaksanakan sesegera mungkin sebelum nanti MUNAS IKABU dilaksanakan.Dimaksut untuk menyatukan semuanya, agar ruang gerak bisa lebih jelas. Karena, selama ini pada devisi Kemahasiswaan IKABU kurang memiliki gerak yang segnifikan. Sehingga, Badan Otonom (BANOM) ini nanti bergerak dalam ruang lingkup mahasiswa saja dan menghapus Devisi Kemahasiswaan IKABU.

Dalam hal ini HIMMABA memiliki sudut pandang yang bagus untuk mensepakati wacana dibentuknya BANOM ini, ditinjau dari beberapa faktor yang memang memberikan manfaat yang bagus untuk masa depan organisasi mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum.Kenapa begitu? Mari kita ulas.

Pertama, Sanat Kepengurusan yang jelas. Selama ini Organisasi mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum yang telah berdiri menyatakan diri sebagai organisasi yang independent dengan mengesahkan legalitas hukumnya sendiri sebagai organisasi formal. Akan tetapi, sebagai anak cabang dari PP. Bahru Ulum kita tidak mendapatkan Surat Keputusan dari pusatnya dan hanya meletakkan mejelis pengasuh Oleh karena itu, dengan dibentuknya BANOM ini nanti diharapkan, kita selaku anak cabang dari PP. Bahrul Ulum akan memiliki Sanat Kepengurusan yang jelas.

Kedua, Menjadi rumah singgah bagi para mahasiswa alumni. Iya betul, seperti yang dikatakan Gus Taufiq selaku Ketua Umum IKABU dalam pertemuan antar organisasi mahasiswa; “Kita itu biasanya kalau main ke Tambakberas ini hanya ziaroh dan sowan ke Kyai masing-masing habis itu bingung mau ngapain. Nah, nanti ketika sudah ada BANOM ini setidaknya kita tidak bingung mau stay dimana untuk para alumni.” Memang, seperti itulah yang terjadi pada para alumni.

Ketiga, Mempermudah untuk melaksanakan kegiatan di PP. Bahrul Ulum. Dari beberapa kegiatan yang berlangsung, memang hanya sosialisai organisasi mahasiswalah yang menjadi tolak ukur kegiatan yang dilaksanakn di Bahrul Ulum. Dulunya, kegiatan apapun sangat sulit untuk dilaksanakan dan hanya beberapa organisasi alumni yang ikut selebihnya hanya berbagai kampus yang melaksanakan sosialisasi dan mensosialisasikan kampusnya masing-masing. Tapi baru-baru ini ada peraturan yang dirasa sangat membuat lega organisasi mahasiswa ini. Yakni, kampus tidak bolek melaksanakan sosialisasi tanpa melewati organisasi mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum. Secara tidak langsung ini sangat menguntungkan organisasi alumni karena organisasi alumni akan lebih berkembang lagi dan akan lebih dipermudah dengan adanya BANOM tersebut.
Maka dari itu, mari sama-sama kita sukseskan rencana menyatukan visi dan misi organisasi mahasiswa alumni ini. Karena, dengan seperti inilah kita bisa mengabdi pada Bahrul Ulum yang telah membesarkan kita. dan sampai sekarang kita tetap menjadi santri yang insyaAllah ilmu dari pesantren kita bermanfaat untuk kita dan orang-orang disekitar kita.
Salamun Qoulan min Robbirrohim, Assalamu’alaikum wr. wb.

@ginKsul – Wakil Ketua HIMMABA Komisariat UIN Periode 2012


Wednesday, 21 January 2015

Tak ada yang Minat, Salah Siapa?

Tak ada yang Minat, Salah Siapa?
Kaderisasi yang mulai surut akhir-akhir ini menjadi sebuah pembicaraan yang menarik di setiap organisasi, terlebih organisasi mahasiswa. Beberapa kegiatan mulai surut serta kegiatan yang mengalami stagnasi. Meskipun kita harus menghargai sejarah, tapi improvisasi serta eksplorasi sangat dibutuhkan dalam menunjang kemajuan organisasi tersebut.

Disusul dengan minat mahasiswa baru yang kian menurun mengikuti organisasi mahasiswa, zaman yang semakin modern seakan-akan membuat mereka lupa bahwasannya organisasi dikalangan mahasiswa itu penting. Mereka hanya sibuk didunia maya yang akhirnya mereka terkesan autis yang sangat jarang mempedulikan orang disekitarnya. Lha wong seng nang sandinge ae gak direken, opo maneh seng adoh?.

Sebenarnya tidak sepenuhnya salah mahasiswa baru yang tidak berminat ikut organisasi karena dunia ini yang semakin modern, tapi perlu dilihat lagi apakah dari internal organisasi tersebut yang memang tidak diminati. Karena, ada beberapa faktor yang kemudian menjadi timbulnya minat yang kurang.

Banyak sekali faktor yang menjadikan organisasi itu tidak diminati oleh mahasiswa, tapi disini saya akan menjelaskan beberapa saja yang menjadi faktor utama menurunnya minat mahasiswa  terhadap organisasi tersebut. Pertama, kualitas pelaku di organisasi tersebut. Demi tercapainya tujuan organisasi tentunya diperlukan orang-orang ataupun kader-kader yang memiliki kualitas bagus. Nyatanya, pada hari ini semakin banyak para pelaku organisasi itu yang hanya pandai berbicara hal-hal yang tidak penting, jarang melakukan diskusi dengan sesama anggota organisasi maupun antar organisasi.

Ditambah lagi, para pelaku organisasi tersebut sangat minim prestasi akademik. Mengaku sebagai organisatoris, akhirnya jarang masuk kuliah dengan alasan kegiatan organisasi yang ternyata hanya berakhir di warung kopi. Selain itu, mereka tidak memiliki skill yang menonjol dalam bidang tertentu yang seakan-akan mereka ikut organisasi tanpa mengikuti kegiatan itu secara detil tapi kuliah pun jarang.

Kedua, kurangnya SDM yang bagus. Sehingga, roda kepengurusan organisasi tersebut tidak berjalan efektif dan efisien serta terjadi stagnasi pada organisasi tersebut yang akhirnya berimbas pada menejemen organisasi yang kian terpuruk. Selain itu, banyak program-program organisasi tersebut tidak terarah. Sehingga, mahasiswa-mahasiswa tidak mengerti apa pentingnya ikut organisasi karena kurangnya komunikasi daan kurangnya penyampaian informasi tentang organisasi tersebut. Hal itu yang mungkin menjadikan kurangnya minat mahasiswa untuk ikut organisasi.

Ketiga, kepentingan ideologi yang fanatis. Menjadi salah satu anggota organisasi memang harus mencintai organiasi tersebut dan tentunya memberikan yang terbaik untuk organisasi. Akan tetapi, fakta menunjukkan adanya idelogi terhadap organisasi yang terlalu fanatik malah menjadikan blunder terhadap perkembangan organisasi. Imbasnya, pelaku organisasi hanya akan mengedepankan kemenangan organisasi tanpa pandang bulu. Baik dalam hal politik, sosial, bahkan kaderisasi yang akhirnya menjadikan kader-kader saling membenci. Pembacaan dan diskusi menjadi ajang rasan-rasan untuk membicarakan kelemahan tanpa memperhatikan tujuan.Karna kepentingan ideologi itulah yang menjadikan mahasiswa-mahasiswa enggan mengikuti organisasi. Jika kita mencintai organisasi, maka cintailah kekurangannya untuk menutupinya bukan untuk menjadikan organisasi itu sesuai apa yang kita mau hanya gara-gara kepentingan ideologi.

Keempat, lain-lain. Kenapa lain-lain? Karena faktor ini murni dari mahasiswa itu sendiri. Entah malas, entah tak mau repot, entah beda fokus, yang jelas banyak sekali faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa untuk enggan mengikuti organisasi.

Bagi dulur-dulur HIMMABA khususnya, mari kita lihat pada diri organisasi kita ini. Apakah HIMMABA seperti ini? Apakah HIMMABA mulai enggan diminati? Apakah HIMMABA mulai turun kualitas dan SDMnya? Apakah HIMMABA sudah tidak jelas arah geraknya? Mari kita membaca diri...

Muhammad Zaim Affan, S. Pd. I – Wakil Ketua HIMMABA Komisariat UIN Periode 2012

Friday, 2 January 2015

SOSOK: Kepahlawanan KH Wahab Hasbullah



Nama Abdul Wahab di Indonesia tentu banyak sekali. Sebuah nama yang seringkali dipakai orang, baik orang awam, pemimpin, maupun kalangan ulama. Akan tetapi, kalau disebut nama KH Wahab Hasbullah maka hampir dipastikan bahwa yang dimaksut adalah KH Wahab Hasbullah yang dikenal luas di masyarakat. KH Wahab Hasbullah dilahirkan di Tambakberas Jombang Tawa Timur  pada tanggal 31 Maret 1888, dari seorang ayah yang bernama Kiai Hasbullah. Menurut orang yang pernah bergaul dengannya, KH Wahab Hasbullah adalah sosok seseorang yang bertubuh kecil langsing, tetapi bersikap gagah, memiliki ketangkasan, ramah tamah, serta berwibawa. 

 KH Wahab Hasbullah memiliki latar belakang pesantren dan juga darah pejuang yang mengalir dalam dirinya. Ia memiliki cakrawala  pengetahuan yang sangat luas untuk ukuran kelas pemuda saat itu dan memiliki kesadaran nasionalisme untuk terbebas dari kungkungan penjajahan. Pengetahuan yang diperoleh dari pesantren ke pesantren se- nusantara menjadi basis kesadaran dirinya. Sampai pada akhirnya ia  melanjutkan belajar kepada para ulama terkemuka di kota makkah selama lima tahun.

     Di kota makkah inilah kesadaran nasionalismenya semakin memuncak. Sebagai anak bangsa yang kesadaran nasionalismenya tergugah akibat penjajahan, ia sangat merasakan sakitnya menjadi negeri jajahan, di mana banyak rakyat menderita, kemiskinan, hancurnya tatanan budaya dan adat istiadat  yang telah mapan, serta kekayaan alam terkuras. Yang lebih meringis nurani kebangsaannya adalah kebodohan merajalela akibat system atau kebijakan penjajah yang tidak memihak pada peningkatan kecerdasan bangsa Indonesia.

Bukti kongkret dari semangat nasionalisme dari Mbah Wahab sendiri terlihat jelas pada keseharian beliau, dimana beliau bersama KH. Mas Mansyur merupakan penggagas forum diskusi Tashwirul Afkar atau “Potret Pemikiran” pada tahun 1914, Sebuah forum diskusi untuk membangun kesadaran keagamaan dan kebangsaan. Bersama KH. Mas Mansyur pula beliau juga bersepakat mendirikan kelompok kerja Nahdlatul Tujjar dan Nahdlatul Wathan sebuah forum yang bertujuan mengembangkan kesadaran aspek ekonomi dan aspek Pendidikan di kalangan rakyat jelata.

KH. Wahab Hasbullah terus bergerak, pada periode 1920-an bersama Abdullah Ubaid beliau berinisiatif membentuk sebuah organisasi pemuda muslim bernama Syubbanul Wathon (Pemuda tanah air) di Surabaya, dimana organisasi ini didirikan sebagai upaya untuk menjalin persatuan dikalangan muda dalam menyikapi dan menghadapi politik kolonialisasi.

Salah satu peran dari Mbah Wahab yang tergolong vital bagi peradaban umat islam Indonesia bahkan dunia tampak sekitar tahun 1926, dimana Mbah wahab bersama Syeikh Ahmad Ghana’im lewat sebuah badan bentukan para ‘Ulama bernama Komite Hijaz berhasil meyakinkan Raja Saud di Kerajaan Saudi Arabiyah untuk tetap memberlakukan kebebasan bermadzab empat (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali) dan agar tidak membongkar makam Nabi Muhammad SAW. Melalui badan tersebut itulah yang pada akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Nahdlatul ‘Ulama, dimana Mbah Wahab Hasbullah menjadi motor penggerak organisasi tersebut dengan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai otak dari organisasi tersebut.

Ketika fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy'ari, dalam pertemua ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan  Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945, Kiai Wahab yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan. Fatwa tersebut akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA yang dipimpin oleh pasukan Inggris.

Berkenaan dengan jasa-jasa Mbah Wahab Hasbullah yang sedemikian besar bagi bangsa Indonesia, pada akhirnya tanggal 8 November 2014 KH Wahab Hasbullah resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional karena dilihat dari peran- peran yang sudah dilakukan KH Wahab Hasbullah baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan ataupun hasil kajian secara akademik dan ilmiah, beliau memang pantas disebut dengan Pahlawan Nasional.



Lailatus Shoimah –Angkatan 2014 HIMMABA Koms. UM