Wednesday, 11 March 2015

Bintang dalam Kosong

Bintang dalam Kosong

Bintang dalam Kosong 

Beberapa orang di dalam kelas terdiam
Duduk di dunianya sendiri menunduk sepi
Sementara yang lain telah membagi warna
Mereka masih terdiam menghadap selembar kertas
Lembar yang kosong, putih, dan bersih
Hanya ada beberapa gores hitam di antara empat sudut
Sementara yang lain telah membagi kisah
Mereka masih memegang sebuah pena
Memperindah tetes tinta menjadi ukiran penuh cerita
Klasik yang mengharukan
Beberapa orang yang masih terdiam
Mengingat masa semalam larut bersama bintang
Bintang masih mewarnai langit
Celah pupil menciptakan refleksi cahaya lurus masuk ke dalam
Membekas jelas tertangkap di ujung retina
Namun bintang masih di atas, tak ikut jatuh beriringan cahaya
Bintang masih bersama bulan
Mereka masih saja terdiam
Sementara yang lain telah berikrar
Entah apa yang mereka pikirkan
Beberapa orang masih memandang satu lembar itu
Titik-titknya pun mulai tak jelas
Samar membentuk bayangan yang tak terbaca
Mungkinkah dia bintang cerah semalam?
Sementara yang lain telah bergegas pergi
Mereka masih menunggu bintang di hari lain

            Gedung A.105 FITK UIN Maliki

08.00 Malang, 28 Oktober 2014


@Syahdean_ar

Sunday, 8 March 2015

Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid

Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid
Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid - Tidak ada seorang pun yang ingin kehidupannya terganggu. Baik gangguan itu datangnya dari luar maupun dari dalam. Zaman makin ahir, tehnologi semakin canggih, tapi tindak kejahatan dan kekerasan semakin marak. Walaupun jenis undang-undang dan peraturan semakin banyak pula. Sepertinya undang-undang dan peraturan itu tidak lagi fungsi sebagai pencegah. Bahkan sebaliknya.

Oleh karena itu, orang sekarang hendaknya memiliki ‘pegangan’ masing-masing, selain iman dan taqwa pegangan itu bisa saja berupa kepiawaian bela diri, kepiawaian melindungi diri amupaun keahlian melarikan diri. Hal ini menjadi penting melihat makin maraknya jenis kejahatan diantaranya adalah pembegalan.

Barang siapa yang menjadi korban kejahatan lantas dia membela sekuatnya, maka ketika pembelaan itu menyebabkan kematian, maka hukum matinya adalah mati syahid. Karena termasuk dalam konteks membela diri, membela harta, keluarga dan membela kehormatan. Proses pembelaan inilah yang dalam istilah fiqih disebut daf’us shail, yaitu orang yang menyerang orang lain yang berniat jahat ingin merebut harta, jiwa atau kehormatan .

دفع الصائل أى المستطيل على غيره ظلما بقصد النيا من ماله أو نفسه أو عرضه

Sebagaimana diterangkan dalam al-Baqarah: 194

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ 

Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.

Tentang Sebuah hadits hukum mati syahid orang yang melawan kejahatan demi membela diri Rasulullah saw dengan sanagt jelas bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barang siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia mati syahid. Barang siapa yang dibunuh karena membela agamanya maka ia mati syahid. Barang siapa yang dibunuh karena membela darahnya, maka ia mati syahid. Dan barang siapa yang dibunuh karena membela keluarganya ia mati syahid.

Demikianlah jaminan bagi mereka yang berani melawan kejahatan demi membela diri, harta dan keluarganya. Demikian pula melawan kejahatan dalam rangka membela diri orang lain hukumnya adalah sama seperti membela diri sendiri. Jelas rasululah saw pernah bersabda

ن أُذلّ عنده مؤمن فلم يَنْصُرْه وهو قادرٌ على أن ينصُرَه أذله الله عزّ وجلّ على رؤوس الخلائق يوم القيامة

Barang siapa yang di depannya ada seorang mukmin dihinakan kemudian dia tidak menolongnya, padahal ia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakannya di depan pemuka para makhluk kelak di hari kiamat.

Demikian juga sebaliknya, jika dalam proses pembelaan diri itu seorang begal terbunuh maupun terpotong tangannya, ataupun tercierai, maka tidak ada dosa dan tidak ada hukuman untuknya. Demikian keterangan dalam taqrib:

ومن قصد باذى فى نفسه او ماله اوحريمه فقاتل عن ذلك فلا ضمان عليه

Barang siapa yang disakiti badannya atau hartanya atau keluarganya, lalu karenanya dia berkelahi (dan membunuh) maka tidak ada resiko baginya.

Sumber: nu.or.id | Jumat, 06/03/2015 07:00

Monday, 23 February 2015

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?
Menyentuh Istri Batalkan Wudhu?

Tanya: apakah suami menyentuh istrinya dapat membatalkan wudhu? Saya pernah melihat seorang suami menyentuh istrinya, lalu shalat tanpa  berwudhu lebih dahulu.

Jawab: seperti kita maklumi bersama bahwa salah stu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas dan najis. Untuk menghilangkan hadas kecil, kita diwajibkan berwudhu, dan untuk menyucikan diri dari hadas besar kita diharuskan mandi.

Ketika kita menanggung hadas kecil dan hendak melaksanakan shalat diharuskan wudhu terlebih dahulu. Sebaliknya dalam keadaan suci yang perlu kita perhatikan adalah mempertahankan atau menjaga status kesucian itu dengan cara menghindari semua perkara yang membatalkan wudhu. Atau secara umum hal ini dinamakan mubthilat al-wudhu atau asbab al-hadats.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah menyentu istri oleh suami termasuk perkara yang membatalkan wudhu? Permasalahan ini diajukan setelah dalam satu kesempatan penanya melihat seorang lelaki menyentuh istrinya langsung shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.
Kebimbangan penanya sangat wajar sekali karena dalam banyak hal istri itu secara hukum dibedakan dari perempuan lain. Perlu kita ketahui bahwa para ulama’ berbeda pendapat tentang batalnya wudhu akibat persentuhan kulit antar laki-laki dan perempuan secara umum.
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab: II, 30” menjelaskan paling tidak ada 7 pendapat dalam masalah tersebut.

Pertama, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan bukan mahram secara langsung (tanpa penghalang) dapat membatalkan wudhu baik dengan ataupun tidak sengaja disertai atau tanpa syahwat.

Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’i. Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Umar demikian halnya Makhul al-Sya’bi, al-Nakhai dan lain-lain.

Kedua, tidak membatalkan secara muthlak. Pendapat ini kebalikan dari pendapat pertama. Para pelopornya antara lain Ibn Abbas, Atho, Masruq, dan Abu Hanifah termasuk beberapa tokoh yang mendukung pendapat kedua ini.

Ketiga, persentuhan tersebut membatalkan jika disertai syahwat. Dengan demikian persentuhan itu tidak batal kalau terjadi tanpa dengan syahwat.

Keempat, persentuhan tersebut membatalkan jika dilakukan dengan sengaja.

Kelima, membatalkan jika menyentuhnya dengan anggota wudhu.

Keenam, membatalkan jika disertai syahwat walaupun disertai dengan penghalang yang tipis.

Ketujuh, kalau menyentuh perempuan yang halal (istri) tidak batal. (Lihat pula al-Mizan al-Kubra: I,120)

Dari keterangan Imam Nawawi tampak jelas bahwa menurut madzhab Syafi’i yang selama ini kita amalkan menyentuh perempuan membatalkan wudhu. Tentu saja yang dimaksud disini adalah perempuan yang sudah cukup dewasa dalam arti sudah dapat menarik lawan jenisnya, serta tidak tergolong mahram, yakni perempuan yang haram dinikahi akibat hubungan nasab, hubungan perkawinan dan susuan.

Adapun istri, karena termasuk mahram, menyentuhnya tetap membatalkan wudhu.
Kalau ditelusuri lebih dalam, salah satu penyebab timbul perbedaan di atas adalah ketidak samaan dalam memakai kata lamastun pada ayat 43 surat an-Nisa’ yang artinya:

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik(suci), sauplah muka kamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi  Maha Pengampun. (QS. al-Nisa’: 43)

Terhadap ayat ini, sebagian ulama mengartikannya dengan “menyentuh”. Sedangkan sebagian yang lain mengintreprestasi-kannya dengan “bersetubuh”. Keduanya dari segi bahasa memang dimungkinkan. Keterangan lebih lanjut misalnya dapat dilihat pada kitab Rawa’i al-Bayan: I, 477-490.

Dengan demikian, jika penanya pernah melihat suami menyentuh istrinya langsung shalat ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskannya.

Pertama, persentuhan tersebut tidak secara langsung dalam arti terdapat penghalang antara kulit suami dan istri berupa kain, plastik, dan lain sebagainya.

Kedua, dia mengikuti Madzhab yang tidak menganggap kejadian tersebut membatalkan wudhu, misalnya pendapat kedua.

Ketiga, orang tersebut lupa bahwa dia menyentuh istrinya. Keempat, suami tersebut tidak mengetahui tindakannya dapat membatalkan wudhu.

Kalau dirasa sulit menghindari persentuhan kulit dengan istri khususnya atau perempuan pada umumnya, dapat kita berpindah madzhab dengan mengikuti madzhab Hanafi yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah.

Sudah barang tentu mengikutinya harus secara total dalam satu qadhiyah, dalam hal ini meliputi tata cara wudhu dan hal yang bersangkutan dengannya secara komplit, yag meliputi rukun, syarat dan perkara yang membatalkan.

Rukun wudhu menurut Madzhab Hanafi ada empat, yakni membasuh muka, kedua tangan dan kaki dan mengusap seperempat kepala. Sedangkan perkara yang membatalkan meliputi keluarnya sesuatu dari jalan depan dan belakang, hilangnya kesadaran, tertawanya orang shalat dengan terbahak-bahak, bersetubuh, mengalirnya barang najis seperti darah dan nanah dari badan, muntah-muntah tanpa memenuhi mulut. (Khulashah al-Kalam fi Arkam al-Islam,33-34)

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 6

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?
Berbicara Membatalkan Wudhu-kah?

Tanya: Bagaimana hukumnya jika sedang wudhu menyahuti panggilan orang lain. Apakah itu membatalkan wudhu yang sedang dilakukan?

Jawab: Memang dalam kenyataan sehari-hari, kita sering menjumpai sebagian kaum muslim berbicara dengan orang lain di tengah-tengah melaksanakan wudhu. Kenyataan tersebut tidak hanya terjadi pada anak-anak kecil yang masih sulit melepaskan diri dari kebiasaan guyonan, tapi orang dewasa pun melakukannya, meski sangat jarang.

Mengingat keabsahan wudhu berkaitan langsung dengan keabsahan shalat yang hendak dikerjakan, sudah sepatutnya fenomena yang kurang layak tersebut tidak dipertahankan. Sejauh manakah dampaknya? Apakah dapat membatalkan wudhu? Ataukah sekedar mengurangi kesempurnaan wudhu itu sendiri?

Kalau kita kembali ke literatur-literatur fiqih, khususnya kitab I’anah al-Thalibin dijumpai keterangan bahwa di tengah mengerjakan wudhu disunnahkan untuk tidak berbicara tanpa ada keperluan. Jika terdapat keperluan yang mendesak, berbicara malah bisa berubah menjadi wajib. Misalnya saat berwudhu kita melihat orang buta berjalan sendirian, padahal di depannya terdat lubang yang membahayakan dirinya. Dalam kondisi seperti itu tentu wajib bicara seraya berteriak membrikan peringatan kepadanya. Menyelamatkan orang buta jelas lebih diutamakan daripada memenuhi anjuran untuk diam saat mengerjakan wudhu. Anjuran diam tersebut sangatlah beralasan. Bagaimanapun wudhu adalah ibadah yang sedapat mungkin kita laksanakan dengan penuh kekhusyu’an dan konsentrasi agar terlaksana sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan syari’at sebagaimana terumus dalam kitab-kitab fikih. Sebagaiman dimaklumi, membasuhi kaki, tangan dan muka harus betul-betul merata. Jangan sampai ada bagian yang tidak tersentuh air, termasuk perbuatan dosa. Melakukan aktivitas tentu membutuhkan ketenangan, kehati-hatian dan konsentrasi secukupnya.

Dari keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan, berbicara saat berwudhu, meski kurang layak, tidak sampai membatalkan. Lain halnya dengan shalat. Berbicara pada saat mengerjakannya bisa membatalkannya.

Sumber: Dikutip dari buku Dialog Problematika Umat, Karya KH. MA. Sahal Mahfudh hal. 4

Wednesday, 11 February 2015

Tepatkah HIMMABA Dependen pada IKABU...???

Dewasa ini, wacana penyatuan organisasi mahasiswa alumni pesantren Bahrul Ulum menjadi hangat untuk dibicarakan. Pasalnya, wacana ini telah direncanakan mulai tahun 2011 atau kurang lebih 3 tahun silam. Hingga saat ini organisasi mahasiswa alumni pondok pesantren Bahrul ‘Ulum semakin marak bermunculan, setelah tahun lalu berdiri HIMAJU di jember dan HISAB di kediri, awal tahun ini juga berdiri organisasi yang sama yaitu HIMABARA di Madura dan HIMAPUTA di Bali.

Melihat perkembangan yang begitu pesat, IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum) mulai memiliki pandangan yang bagus untuk berusaha kembali menyatukan organisasi Himpunan mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum dalam satu wadah Badan Otonom yang nantinya akan menjadi partner kerja bagi IKABU. Sehingga, wacana ini dirasa untuk dilaksanakan sesegera mungkin sebelum nanti MUNAS IKABU dilaksanakan. Dimaksut untuk menyatukan semuanya, agar ruang gerak bisa lebih jelas. Karena, selama ini pada devisi Kemahasiswaan IKABU kurang memiliki gerak yang segnifikan. Sehingga, Badan Otonom (BANOM) ini nanti bergerak dalam ruang lingkup mahasiswa saja dan menghapus Devisi Kemahasiswaan IKABU.

Bagi HIMMABA sendiri ide penyatuan organisasi Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum sebenarnya tidaklah asing mengingat sekitar 3 tahun silam juga pernah muncul ide serupa yang digagas oleh IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul ‘Ulum) yang baru terbentuk sejak tahun 2010. Dengan demikian sejak saat itu HIMMABA bersama organisasi Himpunan Mahasiswa Malang Alumni ‘Ulum lainnya seperti HIMABU Jogja, IMABAYA Surabaya, dan HIMABI Jakarta digadang-gadang akan dependen dengan IKABU. Akan tetapi bagi HIMMABA sendiri ide untuk dependen dengan IKABU terbantahkan, sejak tahun 2011 melalui Kongres HIMMABA Ke-IV HIMMABA resmi memutuskan diri untuk kembali menjadi organisasi yang Independent tanpa terikat dengan struktur IKABU. Hal ini disebabkan karena sebelumnya saat HIMMABA dependen dengan IKABU seringkali terdapat ketidak cocokan dan kurang komunikasi. Keputusan untuk independen semakin di gagas HIMMABA tatkala Kongres HIMMABA VI di Songgoriti Batu, melalui Kongres tersebut dirubahlah nama Pengurus Cabang HIMMABA sebagai kepengurusan tertinggi HIMMABA di Malang Raya menjadi Pengurus Pusat, langkah ini ditempuh untuk menyesuaikan AD-ART HIMMABA sendiri yang memutuskan diri untuk independen melalui kongres sebelum-belumnya.

Pada awal tahun ini IKABU yang diketuai oleh Gus Taufiq kembali mencanagkan penyatuan Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Bedanya pada tahun ini IKABU membuat sebuah terobosan baru dimana nantinya tatkala Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum bergabung dengan IKABU maka organisasi mahasiswa dari berbagai daerah tersebut akan dimasukkan dalam sebuah badan otonom milik IKABU. Mekanisme kerjanya seperti halnya Nahdlatul ‘Ulama yang merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, dalam struktur organisasi NU terdapat sebuah badan-badan khusus diluar struktur kepengurusan NU yang meliputi Lajnah, Lembaga, serta Badan Otonom. Ketiga badan khusus tersebut sebenarnya hanyalah sebutan saja, dimana dalam tiga badan tersebut sebenarnya terdapat sebuah organisasi-organisasi yang bergelut dibidang masing-masing, sebut saja Lajnah yang meliputi Lajnah Falakiyah yang berfokus pada pengembangan ilmu falaq, Lajnah Ta’lif Wan Nasr yang menangani masalah penerbitan buku, sementara Lembaga sepertihalnya Lembaga Ma’arif NU yang menangani bidang pendidikan, Lembaga Kajian Pengembangan Sumber daya Manusia (LAKPESDAM) yang menangani bidang pengembangan seni dan budaya, sementara Badan otonom sendiri seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama (IPNU) dan Ikatan Pealajar Puteri Nahdlatul ‘Ulama (IPPNU) yang mengorganisir pelajar putra dan putri, ANSOR yang mengorganisir para remaja. Kesemua organisasi-organisasi diatas oleh Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) diberi otoritas penuh untuk mengembangkan alur organisasi masing-masing selagi tidak bertentangan dengan AD-ART Nahdlatul ‘Ulama. Dengan demikian tatkala IKABU berhasil menggandeng organsiasi Mahasiswa Alumni bahrul ‘Ulum diberbagai daerah maka IKABU berencana membentuk sebuah badan otonom khusus IKABU yang bertugas menghimpun para mahasiswa alumni pondok pesantren Bahrul ‘Ulum di pelosok nusantara.

Keinginan IKABU diatas terwujud usai tercapainya Mou antara IKABU dengan berbagai Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum di beberapa daerah, termasuk HIMMABA sendiri. Bagi HIMMABA sendiri menjadi organisasi yang dependen tentu akan menimbulkan efek pada pengelolahan sistem, alur, serta laju organisasi, mengingat sebelumnya HIMMABA merupakan organisasi yang independen, berdiri sendiri tanpa terikat dengan organisasi atau badan lain. Diantara hal yang diprediksikan akan berdampak pada HIMMABA tatkala badan otonom Himpunan Mahasiswa terbentuk adalah terkait AD-ART HIMMABA yang diantaranya membahas tentang persyaratan kepengurusan, Batas akhir kepengurusan, pengangkatan kepengurusan.

Selama ini batas akhir kepengurusan HIMMABA pusat (Cabang:dulu) adalah bulan april sedangkan kepengurusan HIMMABA Komisariat adalah tiap bulan februari. Sementara persyaratan ketua HIMMABA pusat sendiri minimal semester 6 sedangkan persyaratan pengurus Komisariat minimal semester empat. Jika HIMMABA resmi dependen dengan IKABU tentu hal tersebut mempunyai peluang untuk berubah sesuai dengan PDPRT Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum yang belum ditetapkan kesepakatan nama organisasi, dimana perumusan PDPRT tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada bulan agustus mendatang melalui sebuah Kongres Nasional Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum se-Indonesia yang bertempat di PP. Bahrul ‘Ulum sendiri

Selain hal diatas hal lain yang dipastikan akan berubah pada alur kerja HIMMABA ketika Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum terbentuk adalah dalam hal nama kepengurusan, dependennya HIMMABA dengan IKABU sudah tentu akan membuat embel-embel Pengurus Pusat HIMMABA kembali berganti menjadi Pengurus Cabang HIMMABA, dan bahkan ada kemungkinan akan ada penyamaan nama organisasi Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Selain terkait nama hal lain yang akan berimbas pada HIMMABA adalah dalam hal pengangkatan pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang) dimana selama ini Surat keputusan pengangkatan Kepengurusan Pusat (Cabang:dulu) dikeluarkan oleh Panitia Kongres HIMMABA, akan tetapi tatkala Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum terbentuk sudah dipastikan SK pengangkatan pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang) akan dikeluarkan oleh Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Selain itu Pengurus cabang HIMMABA (Pusat:Sekarang)  juga mempunyai sebuah tanggung jawab untuk melaporkan Laporan Pertanggungjawaban pada  Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum usai berakhirnya kepengurusan.

Tercapainya Mou antara HIMMABA bersama organisasi Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum di daerah lain dengan IKABU tentu membuat HIMMABA sedikit banyak akan mengalami dampak positif dan dampak negatif, mengingat segala sesuatu didunia ini tentu ada segi positif dan segi negatif termasuk dengan kebijakan HIMMABA untuk dependen dengan IKABU.

Melalui Mou dengan IKABU HIMMABA maka akan terjalin Sanat Kepengurusan yang jelas. Selama ini Organisasi mahasiswa alumni PP. Bahrul Ulum yang telah berdiri menyatakan diri sebagai organisasi yang independen dengan mengesahkan legalitas hukumnya sendiri sebagai organisasi formal. Akan tetapi, sebagai anak cabang dari PP. Bahru Ulum kita tidak mendapatkan Surat Keputusan dari pusatnya dan hanya meletakkan mejelis pengasuh Oleh karena itu, dengan dibentuknya BANOM ini nanti diharapkan, kita selaku anak cabang dari PP. Bahrul Ulum akan memiliki Sanat Kepengurusan yang jelas.

Tercapainya Mou antara HIMMABA dengan IKABU membuat HIMMABA mau tidak mau harus tunduk dengan legitimasi IKABU lewat Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum. Kebijakan sekecil pun dari IKABU maupun Banom Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum tentu sedikit banyak akan menimbulkan sebuah efek bagi HIMMABA sendiri, efek yang ditimbulkan bisa bersifat postif yang membangun atau bahkan efek neegatif yang cenderung merusak. Hal ini merupakan sebuah resiko bagi organisasi yang terikat dengan organisasi lain secara struktural. Semoga langkah HIMMABA untuk dependen dengan IKABU merupakan langkah yang tepat. Amin…



Tuesday, 10 February 2015

Syair Cinta Tanah Air KH Wahab Chasbullah



 Ya ahlal wathon ya ahlal wathon
Hubbul wathon minal iman
Wahai anak bangsa wahai anak bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman

Hubbul wathon ya ahlal wathon
Wa la takun ahlal hirman
Cinta tanah air wahai anak bangsa
Dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal

Innal kamala bil a'mali
Wa laisa dzalika bil aqwaali
Sesungguhnya kesempurnaan (Cinta tanah air) itu diringi perbuatan
tidak hanya sekadar ucapan

Fa'mal tanal ma fil amal 
Wa la takun mahdhol qawal
Berbuatlah, akan kau dapatkan semua angan-angan
Dan jangan hanya bisa berucap belaka

Dunyakumu ma lil maqorr 
Wa innama hiy lil mamarr
Duniamu hanyalalah tempat untuk lewat
Bukan tempat untuk menetap

Fa'mal bimal maula amar
Wala takun baqorozzimar
Maka amalkan apa pun perintah Tuhan
Dan jangan jangan jadi sapi para peniup seruling

Lam ta'lamuu man dawwaruu
Lam ta'qilu maa ghoyyaru
Kamu tidak tahu siapa yang mengendalikan
Kamu juga tidak mengerti apa saja yang mereka ubah

Aiyna intihau ma sayyaru
Kaifa intihau ma shoyyaru
Tak tahu dimana perjalanan mereka akan terhenti
(Juga) Tak jelas bagaimana semuanya ini akan mereka akhiri

Am humu fihi saaqokum
Ilal madzabihi dzabhakum
Tak tahu, apakah mereka sedang menggiringmu
ke tempat jagal untuk menyembelihmu

Am i'taqoukum uqbaakum
Am yudiymuu a'baakum
Ataukah mereka membebaskan leher kalian
Atau malah melanggengkan beban kalian

Ya ahlal uqul assalimah
Wa ala alqulubi al a'zimah
Wahai yang memiliki akal waras
Wahai yang memiliki hati kokoh

Kuunu bi himmah a'liyah
Wa la takun kassaimah
Tetaplah kalian dengan spirit menggelora
Dan jangan menjadi laksana hewan piaraan