Taufiq Djalil : HIMMABA organisasi Barokahi

Salah satu pemateri yang diundang untuk menyampaikan materi eL-OMt kemarin adalah Drs. H. Taufiq Djalil, MM. Beliau merupakan salah satu dari tokoh pendiri HIMMABA di tahun 1983 silam,

HIMMABA : Antara Kebosanan dan Nostalgia

Organisasi sejenis alumni pondok pesantren seperti HIMMABA patut untuk dipertahankan keberadaanya pada level perguruan tinggi.

Pengurus HIMMABA UIN Periode 2014 Resmi Dilantik

HIMMABA sebagai organisasi mahasiswa tentu memerlukan proses regenerasi

M. Masyhur : Komunikasi yang Terpenting

Pada eL-OMt kemarin (02/03) salah satu pemateri yang diundang untuk mengisi materi adalah M. Masyhur. Beliau merupkan ketua umum HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang periode 2005.

Diskusi HIMMABA : Urgensitas dan Fungsi Pendidikan

Atmosfir keintelektualan sangat kuat membahana tatkala sedulur/i HIMMABA melakukan kegiatan DIKA (diskusi dan kajian).

Sabtu, 22 Maret 2014

Urgensi Membangun Wacana Lewat Diskusi

Urgensi Membangun Wacana lewat Diskusi
Oleh: Roikhan Arif Pambudi

Aku berfikir maka aku ada, bukan sekedar kata-kata yang keluar dari lidah. Tersimpa makna yang luar biasa, subuah nilai filosofis yang diutarakan oleh Rene Descarte..
Mungkin ini, yang coba kita bangun di organisasi berkumpulnya Alumni Tambakberas (Bahrul Ulum) yang sering kita ketahui dengan nama HIMMABA. Berangkat dari sebuah diskusi perdana, kita menyoal masalah Urgensi Kajian di Kalangan Mahasiswa; Yang diisi langsung oleh sedulur Iwan (Direktur LKP2M/Demisioner CO HIMMABA 2012-2013) itu. Merespon gejala Apatis terhadap setiap situasi yang menjamur di kalangan mahasiswa. Budaya instan yang sering kali menggoda, ditambah lagi semakin canggihnya gadget masa kini. Kajian adalah hal yang usang, menjenuhkan dan bertele-tele. Akan tetapi semua itu bisa diatasi dengan inovasi-inovasi yang diberikan.
Atmosfer keintelektualan menjadi harga mati, yang harus dimiliki oleh HIMMABA. Supaya organisasi ini tidak hilang ditelan zaman. Meskipun berjuang di bidang yang satu ini bukanlah hal yang remeh - temeh.  Perlu tauladan, sungguh-sungguh dan istiqomah dalam menjalankannya. Di lain sisi forum diskusi ini juga sebagai wadah awal untuk saling bertukar informasi, belajar beretorika di depan khalayak umum dan melatih berbiara sistematis tentunya. Apalagi warga HIMMABA yang menjadi agent Aswaja di masa mendatang, harus siap dengan segala keadaan apabila serangan-serangan pemikiran maupun tulisan. Sehingga nantinya bisa menyeimbangi setiap gejala yang ada.
Sangat naif ketika kita alergi dengan diskusi, karena bagaimanapun juga proses berfikir yang diasa. Membuat hasil yang maximal ketika HIMMABA merealisasikan program kerjanya. Menganalisis setiap kendala yang menghadang. Membuat organisasi yang peka terhadap kebutuhan anggota maupun pengurusnya. Budaya yang sejatinya sudah kita lakukan sehari-hari, meski diberi batasan-batasan sehingga apa yang dihasikan sesuai keinginan.Dengan kajian rutinan ini pula, memberikan suntikan positive bagi partisipannya untuk lebih Percaya Diri dalam mengungkapkan pendapatnya. Kebutuhan sekelas mahasiswa, yang menuntut kita untuk mampu memberikan konstribusi untuk lingkungan sekitar kita. Lebih lanjut, diskusi perdana ini menjadi baromater untuk forum selanjutnya.
Kebiasaan baik yang harus dilestarikan, yang mencerdaskan pelaku di dalam organisasi ini; meskipun kadang harus dipaksa. Membentuk karakter warga HIMMABA yang haus akan ilmu, dan menggalinya sesuai kreatifitas masing-masing. Sebelum nantinya kembali ke masyarakat, kita sudah dibekali cara berkomunikasi yang baik. Wadah diskusi inilah yang menjadi ajang berlatih mengungkapkan sebuah pemikiran dalam bentuk dialektika. Meskipun seringkali ada saja yang membuat rutinan ini terasa monoton. Partisipasi dari anggota dan para warga juga menjadi pendorong efektifitas berjalannya diskusi ini.
  
* Kajian Umum HIMMABA  periode 2014 dilaksanakan pada hari Senin/10 Maret 2014, pada pukul 20.00 WIB bertempat di Gedung B lt. 2 sayap selatan UIN Maliki Malang bertema "Urgensi Kajian Pada Kalangan Mahasiswa ".

Selasa, 11 Maret 2014

Otonomi Daerah : Antara Peluang dan Tantangan


Otonomi daerah sebagai satu kesatuan
Sebagai bentuk pelaksanaan UUD 1945, tepatnya pada masa Orde Baru dibentuklah aturan Pemerintah Daerah yang diatur dalam UU No. 5 tahun 1974, yang menetapkan bahwa ‘daerah yang dibentuk berdasarkan asal desentralisasi disebut daerah otonom, adapun wilayah yang dibentuk berdasarkan asas dekonsentralisasi disebut wilayah administratif’. Dalan UU No. 5 tahun 1974, otonomi daerah secara tegas menganut prinsip yang nyata dan bertanggungjawab, bukan otonomi seluas-luasnya. Realita Otonomi Daerah ternyata pemerintah lebih mengarah ke sentralisasi dengan memberi aturan dan batasan-batasan tegas kepada daerah dalam menjalankan praktek UU No. 5 tahun 1974 untuk sebuah alasan demi keutuhan bangsa, akhirnya daerah-daerah tetap dalam pengawasan dan kontrol yang ketat dari pusat.

UU No. 22 dan 25  tahun 1999 menjadi tonggak pembenahan otonomi di era pemerintahan Habibi menggantikan UU No. 5 tahun 1974. Lahirnya undang-undang ini merupakan respon atas tuntutan daerah yang menginginkan hak-hak mereka yang selama ini tersedot sepenuhnya ke pusat untuk kembali dikelola daerah. Pemerintah Habibi yang mengeluarkan kabijakan otonomi daerah di bawah menteri otonomi baru ini ternyata masih menunjukkan kerancuan dan kesetengah hatian pemerintah pusat dalam memberikan hak otonomi kepada daerah. Hal ini disebabkan faktor ketidakjelasan aturan-aturan yang termuat dalan UU No. 22 dan 25  tahun 1999 yang menyatakan bahwa masih banyaknya pengecualian bidang-bidang yang tetap dikelola dan diatur oleh pusat.

UU No. 22 dan 25  tahun 1999 banyak memberi prospek dan peluang bagi daerah-daerah agar bisa memberikan mengembangkan potensi wilayahnya, mengelola aset-aset yang dimiliki sekaligus bisa memperoleh hasil kekayaan secara penuh tanpa campur tangan pusat. Namun demikian prospek ekonomi tidak hanya menjanjikan peluang dan prospek cerah, keluarnya UU No. 22 dan 25  tahun 1999 disaat keperpurukan ekonomi dan stabilitas politik menjadi hambatan terbesar untuk penerapan otonomi bagi seluruh daerah, terutama daerah-daerah yang yang kurang memiliki kelebihan potensi sumber daya alam dan kesiapan-kesiapan lainnya untuk bisa lepas dan mandiri.  Dari permasalahan tersebut, maka akan timbul masalah kesenjangan yang sangat mencolok antar daerah sehingga memunculkan gep-gep baru dan fanatisme kedaerahan yang berlebihan.

Realita lain yang terjadi, banyak daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam berlimpah, namun tidak memiliki penanganan yang baik dan profesioanl, maka untuk merealisasikan terwujudnya otonomi daerah hendaklah terlebih dahulu mengamati keadaan sosio kultur dan geografis suatu daerah, pengelolaan alam yang baik dan profesional, untuk mewujudkan itu perlu tenaga yang ahli pada bidangnya untuk menghasilkan daeah-daerah yang siap menyongsong otonomi seluas-luasnya demi terwujudnya asas desentralisasi.


Oleh : Fahliatun Nisa (Pimred Buletin Lensa dan peraih Juara I LKTI HIMMABA 2002
Diambil  dari Majalah lensa HIMMABA 2002-2003

Rabu, 05 Maret 2014

Sebuah Refleksi : Antara Ta’arruf dan eL-OMt

Kompak: Pengurus HIMMABA Edisi Awal 2000-an
Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum (HIMMABA) adalah merupakan Organisasi Ekstra Kampus (OMEK) yang mempunyai tujuan ‘Membentu pribadi alumni Bahrul ‘Ulum yang berbudi luhur, berilmu cakap, tanggap, bertanggung jawab dalam mengamalkan Ilmu Pengetahuan serta Taqwa kepada Allah SWT (Pasal 4 Ayat 2 AD HIMMABA)

      Untuk mewujudkan tujuan diatas, maka selayaknya untuk sebuah organisasi adanya proses pengkaderan yang formal dan jelas. Akan tetapi untuk sebuah organisasi HIMMABA yang nota bene adalah alumni Pondok Pesantren yang anggotanya juga menjadi anggota di organisasi Ekstra lainnya, maka untuk sebuah proses pengkaderan, boleh dikatakan cukup dengan program Ta’arruf dan Leadership and Organization Management  Training (eL-OMt) adalah proses pengakaderan yang ada di HIMMABA.

     Ketika ta’arruf dan eL-OMt dijadikan pijakan proses pengkaderan, maka sekarang kita harus bersama-sama berpikir, apakah dengan ta’arruf dan eL-OMt sudah bisa  menjadikan kader paham dan mengerti akan organisasi.. ? kadang kita hanya berpikir ta’arruf adalah sebuah kegiatan refresing dan sebatas ingin kenal lebih dekat pada anggota, pernahkah kita berpikir melalui ta’arruf kita benar-benar membentuk kader yang mempunyai self of bilonging pada organisasi, jangankan berpikir.. ! punya pikiran ikut ta’arruf saja kadang kita belum punya.

      Inti sebuah ta ‘arruf adalah penyiapan kader untuk mengetahui fenomena di organisasi, pemahaman awal pentingya aktif di organisasi, pemahaman sebagai mahasiswa yang harus peka terhadap keadaan sosial, pengenalan program kerja, dan forum penggalian minat, bakat serta potensi kader yang menjadikan sarana bagi pengurus untuk menfasilitasi keinginan kader. Setidaknya tanpa point-point diatas, maka boleh dikatakan bahwa ta’arruf adalah hanya sebatas rekreasi saja.

           Rangkaian proses pengkaderan setelah ta’arruf adalah eL-OMt, sebuah pelatihan Kepemimpinan dan Keorganisasian, idealnya ketika kita telah mengikuti eL-OMt kita sudah siap di organisasi, baik menjadi seorang anggota yang aktif atau siap ketika kita dituntut untuk menjadi seorang leader atau seorang pengurus, lagi-lagi kita hanya sebatas punya pikiran setelah eL-OMt sudah tidak ada pa-apa lagi. Padahal secara substansi out put eL-OMt harus siap menjadi seorang leader atau pengurus, khususnya di HIMMABA atau di organisasi lain pada umumnya.

            eL-OMt bukanlah sebuah acara yang asal-asalah, karena di eL-OMtlah pemahaman yang mendalam akan manajemen organisasi, mencetak kader yang siap dan siaga, pendalaman ke-ASWAJA-an, administrasi dll. Sebelum mendekati pencapaian tujuan tersebut rasanya percuma saja kita ikut atau menyelenggarakan eL-OMt.
          Dari fenomena diatas perlu kita renungkan bersama, kita cermati bersama, jangan menjadi kader yang ‘manja’ yang hanya bertumpu dan mengandalkan pengurus, jangan hanya menunggu bola tetapi jemputlah bola tersebut, pengurus hanyalah sebuah fasilitator dari keinginan warganya, dan berpikirlah apa yang dapat sedulur berikan pada HIMMABA, jangan berpikiran apa yang diberikan HIMMABA pada sedulur.

          Bagi seorang pengurus pantang untuk mundur dari setiap keadaan yang selalu berubah, pendampingan yang intensif pada anggota adalah pengkaderan non formal yang efektif, jangan hanya mengandalkan warga, tapi bagaimana antar pengurus bersama-sama saling membantu dan kompak di setiap kegiatan, berpikirlah apa yang bisa kita (HIMMABA) berikan pada warga.

Diambil  dari Majalah lensa HIMMABA 2002-2003

Minggu, 02 Maret 2014

Kepemimpinan dalam mewujudkan Sekolah Adiwiyata

Cinta Lingkungan: Konsep Sekolah Adwiyata

Minimnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar membuat lingkungan mengalami kerusakan. Hal ini sangat jelas kita lihat bahwa disekitar sungai di sekeliling kita banyak terlihat sampah yang menumpuk bahkan aliran sungai yang seharusnya mengalir menjadi tersendat. Upaya potensial yang dapat segera membendung kerusakan-kerusakan diatas yaitu dengan pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup akan mudah dimengerti dan dilakukan jika dimulai sejak tingkat dasar. Adiwiyata adalah program pemerintah untuk menciptakan sekolah berbudaya lingkungan.
Dalam Permendiknas no 13 tahun 2007 pada bagian B tabel manajerial dijelaskan bahwa pemimpin didalam pendidikan ialah dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. Rasa nyaman dapat diwujudkan pemimpin tersebut membuat sistem strategis yang syarat akan kebahagiaan peserta didik menuju pemahaman yang mudah melalui lingkungan yang mendukung. Barang ini menjadi wajib oleh lembaga pendidikan guna mengantarkan anak didiknya mencapai puncak kesuksesannya. Akan tetapi lingkungan yang seperti apa demi mewujudkan suasana yang kondusif  pada kegiatan belajar mengajar siswa. Hal apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin (kepala sekolah), guru juga harus sebagai pemimpin dikelasnya sebagai tokoh yang mampu menjadikan lingkungan menjadi temannya. Kalau saja semua ini tidak didasarkan pada kemampuan memahami karakter siswa, model kurikulum, strategi pembelajaran dan begitupun juga memahami lingkungannya. Maka pendidikan lingkungan hidup hanya sebatas wacana dengan kata lain menjadi sebuah kegiatan siswa yang tak dapat dimengerti tujuan diadakannya kegiatan tersebut.
Untuk mewujudkan peduli lingkungan hidup perlu adanya kerjasama antara pihak sekolah, orang tua serta masyarakat. Ini menjadi penting terkait dengan pemahaman anak dan kebiasaan mencintai sehingga muncul prilaku menjaga terhadap lingkungan. Dari ketiga dimensi ini diharapkan saling dukung mendukung demi terwujudnya anak yang berpendidikan lingkungan hidup. Jadi semacam menyamakan idealisme para guru dengan kebutuhan masyarakat termasuk keluarga atau lingkungan. Andaikata lembaga pendidikan dengan ngotot melakukan kegiatannya sendiri tanpa mencoba keluarganya atau orang tua maka sasaran dan tujuan pendidikan lingkungan hidup tersebut akan gagal total. Mereka semua bagaikan anggota tubuh manusia yang saling berkaitan sehingga dari salah satu anggota terkena masalah maka anggota lain di dalam tubuh tersebut juga merasakan dari dampak pengaruh masalah tersebut. Akan tetapi dari pemerintah sudah mengupayakan sedemikian rupa demi terwujudnya pendidikan yang mengedepankan pelestarian lingkungan hidup. Ini sangat jelas ada pada kebijakan pemerintah pada lembaran evaluasi mengenai komponen, standar dan implementasi sekolah adiwiyata Propinsi Jawa Timur Tahun 2012. Yaitu kebijakan mengenai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, rencana kegiatan dan anggaran pengupayaan perlindungan dan lingkungan hidup, tenaga pendidik memiliki kompetensi dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran lingkungan hidup, peserta didik yang melakukan kegiatan, lembaga sekolah menjalin pola kemitraan, melaksanakan perlindungan terhadap lingkungan hidup, sampai pada ketersediaan lingkungan hidup dan peningkatan (pengelolaan lingkungan hidup).
Setidaknya terdapat nilai-nilai  budaya lokal, kebiasaan hidup, serta alam lingkungan sekitar dapat dikembangkan di setiap daerah. Ini yang sedang dan mau dilakukan serta dikembangkan oleh lembaga pendidikan dinegara kita, contohnya saja di Poso Sulteng, Singkawang Kalbar. (Kompas, 01/03/2014). Mereka mengusung filosofi pendidikan Mior Dadin. Pendidikan di sekolah-sekolah dikembangkan untuk membentuk manusia yang berkarakter baik, cinta lingkungan, hemat dan mandiri. Untuk mengusung lingkungan hidup, siswa diajak untuk menanam bunga-bunga dan apotek hidup di lingkungan hidup. Semua model pendidikan baik formulasi dari pakar pendidikan sekalipun tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pemimpin, pemimpin yang dimaksudkan disini adalah kecakapan dalam melaksanakan  program sekolah berbasis lingkungan ini. Maka yang perlu diperhatikan ketika menjadi pemimpin pemahaman mengenai pendidikan lingkungan hidup harus dihayati dengan benar, terdapat enam hal. Pertama, pemahaman mengenai kebijakan pemerintah, meliputi kurikulum seputar pendidikan lingkungan hidup. Tanpa adanya pemahaman mengenai kebijakan ini, maka akan terjadi kesalahfahaman antara kebijakan pemerintah dan pelaku pendidikan lingkungan hidup itu sendiri. Kedua, perencanaan. meliputi anggaran dana, rencana kegiatan, sarana prasarana dan waktu yang dialokasikan. Ini penting berkenaan dengan berlangsungnya kegiatan dan proses belajar mengajar. Ketiga, Implementasi. Setelah pemahaman yang didapatkan oleh setiap pendidik kemudian dilanjutkan dengan perencanaan, maka tiba saatnya untuk pelaksanaan. Pelaksanaan dibutuhkan agar tidak hanya sebatas pengetahuan, terkesan sia-sia apabila pengetahuan diberikan akan tetapi tidak ada sikap peduli dengan lingkungan hidup. Keempat, evaluasi, proses yang keempat ini sangat penting guna penilaian secara angka dan prilaku keseharian. Kita dapat mengukurnya seperti kebiasaan peserta didik  ketika membuang sampah atau keikutsertaan dalam melestarikan pohon dan bunga didalam taman sekolah. Kelima, pelestarian dan penjagaan. Komponen yang kelima ini termasuk dari salah satu yang penting, secara tidak langsung menjadi sesuatu yang tidak mungkin utuk tidak dilakukan. Penjagaan sebagai bentuk akhir pengimplmentasian pendidikan berbasis lingkungan tersebut.
Kita harus mulai dari kecil membiasakan peserta didik untuk gemar melestarikan lingkungan dan tidak senang mencemarinya. Pemimpin dalam lembaga atau sekolah seperti kepala sekolah harus memberikan contoh sebelum memberikan pengertian kepada guru-guru yang menjadi anggotannya. Guru-guru juga menjadi uswah bagi peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun di dalam kelas. Karyawan mendapatkan pengertian demi terwujudnya pendidikan lingkungan hidup. Begitupun peserta didik, mereka dengan intens dibiasakan dengan informasi dan pembelajaran serta pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup. Ketika dari semua lini sudah secara minimal dapat dikatakan memahami dan mengetahui daripada konsep pendidikan berbasis lingkungan (Adiwiyata). Dengan demikian pemimpin lembaga pendidikan tinggal mengfungsikan setiap lini yang ada, sehingga iklim dari keinginan untuk mewujudkan terbangun dari dalam baik kepala sekolah, guru, karyawan dan peserta didik. Akhirnya pendidikan berbasis lingkungan akan terlaksana dengan baik.

Pengurus HIMMABA UIN Maliki Periode 2014 Resmi Dilantik

Pengurus HIMMABA UIN Maliki Periode 2014 Resmi Dilantik
Ikrar: Gus Asrori melantik pengurus HIMMABA UIN Periode 2014
HIMMABA sebagai organisasi mahasiswa tentu memerlukan proses regenerasi guna menjaga eksistensi organisasi seiring dengan perkembangan zaman. Hal itulah yang mendorong HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang terus menjaga tradisi regenerasi kepengurusan. Kemarin (19/02) HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang resmi mempunyai kepengusan baru di tahun 2014. Kepengurusan yang di ketuai oleh sedulur M. Dawud Zahiruddin tersebut resmi dilantik.

Pelantikan kepengurusan hasil Konferensi XV HIMMABA Komisariat UIN Maliki tersebut dilaksanakan di Aula Kantor HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang, dimana pengurus edisi ke XV tersebut dilantik  langsung oleh Dr. KH. Moh. Asrori Alfa, M.A selaku masayikh Pondok Pesantren Bahrul’Ulum Tambakberas. Tidak hanya Gus Asrori yang hadir dalam pelantikan tersebut, Ketua HIMMABA Komisariat UIN periode 2004 “Dwi Hidayatul Firdaus, M.H.I” juga tampak dalam agenda tersebut.

Dalam sambutanya Gus Asrori menekankan agar pengurus terbaru mampu menghimpun seluruh dulur-dulur HIMMABA terutama kader perempuan yang cenderung sulit dirangkul dalam kepengurusan sebelumnya.
“Saya berharap agar camp (Kantor) tidak hanya didatangi laki-laki, para kader perempuan juga harus sering-sering datang ke Camp, karena camp itu milik organisasi” papar Gus Asrori dalam sambutannya.

Mengenai dilantiknya pengurus HIMMABA UIN periode XV, ketua domisoner “Arif Luqman” berharap agar pengurus terbaru mampu melanjutkan sebuah perjuangan dari para pengurus terdahulu-terdahulu, sebagai perwujudan pesan dari mbah Najib Wahab. (red/rnm)