Monday, 29 February 2016

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Studi Kasus Pada Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul Ulum (HIMMABA)
 Oleh: M. Arif Luqman Hakim
(Ketua HIMMABA Koms UIN Maliki Periode 2013)



ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses, fungsi, dan jaringan komunikasi dalam sebuah organisasi. Di lain sisi, peneliti juga ingin mengetahui seberapa penting komunikasi dalam sebuah organisasi. Sampel penelitian ini adalah salah satu organisasi ekstra kampus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yaitu Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul Ulum (HIMMABA). Dalam pengumpulan data, kami melakukan wawancara mendalam terkait dengan komunikasi dan organisasi pada ketua dan beberapa anggota HIMMABA. Dari hasil penelitian kami dapat memperoleh data organisasitentang bagaimana proses, fungsi dan jaringan komunikasi dalam organisasi. Sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa komunikasi itu sangat penting bagi sebuah organisasi.

Kata Kunci : Komunikasi, Organisasi, Proses, Fungsi, Jaringan


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai makhluk sosial, setiap manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lainnya, bahkan cenderung hidup berkelompok atau berorganisasi untuk mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin dicapai bila ia sendiri. Interaksi dan kerja sama ini akan terus berkembang dengan teratur sehingga membentuk wadah yang disebut dengan organisasi. Interaksi atau hubungan antar individu-individu dan kelompok/tim dalam setiap organisasi akan memunculkan harapan-harapan. Harapan ini kemudian akan menimbulkan peranan-peranan tertentu yang harus diemban oleh masing-masing individu untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasi/kelompok. Sebuah organisasi memang dibentuk sebagai wadah yang didalamnya berkumpul sejumlah orang yang menjalankan serangkaian aktivitas tertentu secara teratur guna tercapainya tujuan yang telah disepakati bersama. Terlebih dalam kehidupan masyarakat modern, manusia merasa bahwa selain mengatur dirinya sendiri, ia juga perlu mengatur lingkungannya, memelihara ketertiban, mengelola dan mengontrolnya lewat serangkaian aktifitas yang kita kenal dengan manajemen dan organisasi. William (1956) menyebutnya dengan istilah “The Organisation Man”. 

Dalam setiap organisasi yang diisi oleh sumber daya manusia, ada yang berperan sebagai pemimpin, dan sebagian besar lainnya berperan sebagai anggota/karyawan. Semua orang yang terlibat dalam organisasi tersebut akan melakukan komunikasi. Tidak ada organisasi tanpa komunikasi, karena komunikasi merupakan bagian integral dari organisasi. Komunikasi ibarat sistem yang menghubungkan antar orang, antar bagian dalam organisasi, atau sebagai aliran yang mampu membangkitkan kinerja orang-orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut.

Efektivitas organisasi terletak pada efektivitas komunikasi, sebab komunikasi itu penting untuk menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim informasi dengan penerima informasi pada semua tingkatan/level dalam organisasi. Selain itu komunikasi juga berperan untuk membangun iklim organisasi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi dan produktivitas organisasi. 

Sebuah interaksi yang bertujuan untuk menyatukan seluruh aspek kepentingan bersama sangat dibutuhkan dalam sebuah tujuan berorganisasi. Dengan kata lain, tanpa adanya sebuah interaksi yang baik di dalam sebuah organisasi tidak akan mencapai tujuannya. Interaksi disini adalah mutlak meliputi seluruh anggota organisasi yang dapat berupa penyampaian-penyampaian informasi, instruksi tugas kerja atau mungkin pembagian tugas kerja. Interaksi sebenarnya adalah proses hubungan komunikasi antara 2 orang atau lebih dimana orang yang satu bertindak sebagai pemberi informasi dan orang yang lain berperan sebagai penerima informasi. Intinya, korelasinya harus melibatkan dan terfokus kepada orang-orang itu sendiri dalam suatu organisasi.

Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi dalam organisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek organisasi.  Atau dengan meminjam definisi dari Goldhaber, komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of interdependent relationships).

Kerangka Kerja Teoritik

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya adalah memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Komunikasi dalam organisasi adalah juga dapat diartikan sebagai komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Effendy,1989: 214).

Price (1997) mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai derajat atau tingkat informasi tentang pekerjaan yang dikirimkan organisasi untuk anggota dan diantara anggota organisasi. Tujuan komunikasi dalam organisasi adalah untuk membentuk saling pengertian (mutual understanding) sehingga terjadi kesetaraan kerangka referensi (frame of references) dan kesamaan pengalaman (field of experience) diantara anggota organisasi. Komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi yaitu pertama komunikasi antara atasan kepada bawahan, kedua antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain, ketiga adalah antara karyawan kepada atasan.

A.    Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

1. Fungsi informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.

 2.  Fungsi Regulatif
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu: Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau instruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.

Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

3.   Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu:Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi.

Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

B. Proses Komunikasi dalam Organisasi
Terdapat 2 proses komunikasi dalam organisasi, yaitu proses komunikasi internal dan proses komunikasi eksternal:

1.  Komunikasi Internal
Merupakan pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan (operasi dan manajemen).
Adapun Empat Dimensi Komunikasi dalam organisasi, yaitu :


a). Downward Communication

    Yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah:
  1. Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction)
  2. Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale.
  3. Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices)
  4. Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
 b). Upward Communication
     Yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:
  1. Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan
  2. Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat   diselesaikan oleh bawahan
  3. Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan
  4. Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya
Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah.

Sharma (1979) mengemukakan 4 alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit:
  1. Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka
  2. Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai
  3. Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai
  4. Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai
c). Horizontal Communication
     Yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah:
  1. Memperbaiki koordinasi tugas
  2. Upaya pemecahan masalah
  3. Saling berbagi informasi
  4. Upaya pemecahan konflik
  5. Membina hubungan melalui kegiatan bersama
d).   Interline communication
       Yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karenabiasanya tanggung jawab mereka berhubungan dengan jabatan fungsional.Karena terdapat banyak komunikasi lintas-saluran yang dilakukan spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu berhubungan dalam rantai-rantai perintah lain, diperlukan kebijakan organisasi untuk membimbing komunikasi lintas-saluran.

2.   Komunikasi Eksternal
      Adalah komunikasi antara pimpinan organisasi (perusahaan) dengan khalayak audience di luar organisasi. Contoh dari komunikasi eksternal, yaitu :
  1. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak yang bersifat informatif. Contohnya adalah Majalah, Press release/media release, Artikel surat kabar atau majalah, Pidato, Brosur, Poster, Konferensi pers, dll.
  2. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi.

C.    Bentuk komunikasi:
        Dalam kehidupan organisasi terdiri dari berbagai unsur, yang mempunyai maksud dan tujuan agar organisasi yang dimilikinya tetap dipertahankan dan diarahkan demi untuk perkembangan yang lebih dinamis.

Pada dasarnya komunikasi di dalam organisasi, terbagi kepada tiga bentuk:
1.    Komunikasi vertikal
     Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik.Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk:
  • Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan.
  • Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
  • Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif.
Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya. Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya. Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk:

  • Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
  • Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.
Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan.

2.    Komunikasi horizontal
        Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal.Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan tertulis.

3.    Komunikasi diagonal
      Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain. Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain.

METODE PENELITIAN

      Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Prof. Mudjia Rahardjo menjelaskan bahwa penelitian studi kasus adalah penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. (Arios, 2011) Penelitian ini akan melibatkan sebuah organisasi ekstra kampus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yaitu Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul Ulum (HIMMABA). Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus yang kami dapatkan diperoleh dari wawancara mendalam pada ketua dan beberapa anggota HIMMABA.

       Teknik analisis data yang kami gunakan adalah teknik analisis dan interpretasi data Stevick-Colaizzi-Keen yang telah dimodifikasi oleh Moustakas. Adapun teknik verifikasi data dilakukan dengan menggunakan triangulasi data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004 : 330). Kami melakukan triangulasi data dengan melakukan wawancara terkait dengan komunikasi dalam organisasi pada mantan pengurus HIMMABA.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
          Dalam kehidupan sehari-hari, individu menghadapi situasi sosial bersama individu lain dan hal ini telah terbukti bahwa  dalam situasi sosial, masing-masing individu mengadakan komunikasi dengan individu lain melalui bahasa (bicara), atau gerakan tubuh yang lain. Komunikasi dilakukan individu sejak bayi dengan menggunkan bahasa atau lambang-lambang yang lain, seperti yang dinyatakan Floyd Allport, “gesture language the earlest type of communication and the first stage in the child languisticdevelopment” (bahasa tubuh atau gerak tubuh merupakan bentuk komunikasi paling awal dari langkah atau tingkatan pertama) 

    Dalam (Santoso : 2010) David dan Ricard Crutchfiel berpendapat : “a simple definition of communication would refer  to the use of symbols to achieve common or shared information about an object. (definisi komunikasi sederhana akan berhubungan dengan penggunaan simbol atau lambang untuk mecapai atau membagi informasi tersebut tentang suatu tujuan). Dalam pengertian tersebut terkadang makna adanya orang-orang yang menggunakan simbol informasi yang di sampaikan, dan orang-orang yang menerima informasi tersebut (Santoso : 2010).

1.    PROSES KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
     Yang dimaksud dengan proses komunikasi adalah proses yang menggambarkan kegiatan komunikasi antar manusia yang bersifat interaktif, relasional, dan transaksional dimana komunikator mengirimkan pesan kepada komunikan melalui media tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu.
Sejalan dengan pendapat Gibson (1994) proses komunikasi terdiri dari lima unsur yakni: Komunikator, pesan, perantara, penerima, dan balikan. Adapun Lasswell (1984), yaitu orang pertama yang mengajukan model proses komunikasi membuat formula sebagai berikut: siapa, mengatakan apa, bagaimana caranya, kepada siapa, dan apa hasilnya. Hal ini juga didapatkan dalam organisasi HIMMABA. Dalam rapat organisasi HIMMABA yang berperan sebagai komunikator adalah ketua, pesan yang di sampaikan adalah pembahasan progres  program kerja per divisi, ketua menyampaikan pesan pada anggota dalam rapat dengan melalui komunikasi ke bawah dengan tujuan untuk memberikan pengertian mengenai apa yang harus dikerjakan oleh para anggota sesuai dengan kedudukannya, dan hasil dari komunikasi dalam rapat tersebut adalah berjalannya program kerja. (Wawancara, 15 April 2013)

       Dalam konteks organisasi, proses komunikasi di atas yang digambarkan lewat model dapat disimpulkan bahwa, komunikasi merupakan aktivitas yang menghubungkan antarmanusia dan antar kelompok dalam sebuah organisasi. Komunikasi antar individu dan kelompok/tim dalam organisasi menciptakan harapan. Harapan ini kemudian akan menghasilkan peranan-peranan tertentu yang harus diemban untuk mencapai tujuan bersama/ organisasi. Agar pimpinan dapat mempengaruhi dan memotivasi para pekerja/karyawan agar secara bersama-sama mewujudkan tujuan organiasasi maka perlu dikembangkan sistem komunikasi yang efektif. Apabila komunikasi efektif, ia dapat mendorong timbulnya prestasi kerja dan kemudian akan memunculkan kepuasan kerja.

2.   FUNGSI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

       Sebuah organisasi akan bubar karena ketiadaan komunikasi. Coba bayangkan jika komunikasi tidak ada dalam organisasi? Para pengurus tidak akan tahu apa yang akan dikakukannya dan apa yang dikerjakan rekannya. Pemimpin tidak bisa memberikan instruksi dan menerima masukan dari bawahannya. Koordinasi tidak berjalan, kerja sama tidak terjadi, masing-masing orang tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya, kebutuhannya, masalah yang dihadapinya dalam pekerjaan kepada rekannya/ timnya, atau kepada pimpinannya. 

       Komunikasi merupakan aktivitas yang menghubungkan antar manusia dan antar kelompok dalam sebuah organisasi. Kalau  berbicara tentang komunikasi organisasi maka yang terbayang adalah peranan dan status dari setiap orang dalam organisasi, karena peranan dan status itu juga menentukan cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain. Dalam masyarakat luas kita mengenali seseorang karena peran dan status yang beragam. Dalam organisasi keragaman tersebut dapat dilihat melalui pembagian kerja berdasarkan bakat dan kemampuan masing-masing orang dalam organisasi tersebut. Jika jenis dan pembagian pekerjaan demikian banyak, beragam, dan berbeda-beda, maka dibutuhkan sebuah jalinan. Jalinan yang dimaksud di sini adalah komunikasi. Komunikasi antara seorang pimpinan dengan bawahan, antara bawahan dengan atasan, atau komunikasi sesama bawahan. Dalam komunikasi organisasi ini dikenal dengan istilah Downward communication,  Upward communication, dan  Horizontal communication.

        Menurut Scott dan T.R. Mitchell (1976) komunikasi mempunyai empat fungsi dalam organisasi, yakni: 1) kendali (kontrol/ pengawasan), 2) motivasi, 3) pengungkapan emosional, dan 4) informasi. Sebenarnya banyak sekali hasil penelitian para ahli yang menemukan fungsi komunikasi (pesan) dalam organisasi. Seperti pendapat Khan dan Katz yang mengatakan ada empat fungsi utama yaitu: yang berkenaan dengan produksi, pemeliharaan, penerimaan, dan pengelolaan organisasi.

      Sementara Redding mengemukakan ada tiga alasan diperlukannya komunikasi dalam organisasai yakni: Untuk pelaksanaan tugas-tugas dalam organisasi, untuk pemeliharaan, dan untuk kemanusiaan. Sedangkan menurut Thayer ada lima yaitu: untuk memberi informasi, membujuk, memerintah, memberi instruksi, dan mengintegrasikan organisasi. Terakhir Greenbaumn mengemukakan bahwa fungsinya adalah untuk mengatur, untuk melakukan pembaruan, integrasi, memberikan informasi dan instruksi. Tidak satupun dari masing-masing fungsi tersebut dilihat lebih penting dari pada fungsi lainnya.

         Setiap organisasi mempunyai hirarkhi wewenang dan panduan formal yang harus dipatuhi oleh para karyawannya. Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan setiap individu dan kelompok untuk membuat/mengambil  keputusan. Agar kinerja efektif masing-masing kelompok perlu mempertahankan berbagai kontrol terhadap anggotanya, merangsang dan memotivasi para anggota untuk bekerja, menyediakan sarana untuk mengungkapkan emosi, dan mengambil keputusan. Dapat disimpulkan bahwa setiap interaksi komunikasi dalam organisasi menjalankan satu atau lebih dari lima fungsi di atas.

3.    JARINGAN KOMUNIKASI
       Menurut De Vito (1997), jaringan komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain dalam organisasi. Jaringan organisasi ini berbeda besar dan strukturnya pada masing-masing organisasi, dan biasanya disesuaikan dengan kepentingan dan tujuan organisasi tersebut. Secara umum jaringan komunikasi dapat dibedakan atas dua bagian yaitu: a.Jaringan Komunikasi  Formal dan b. Jaringan Komunikasi Informal. Dengan kata lain hubungan yang terjadi dalam organisasi dapat terjadi secara formal dan informal.  a.  Komunikasi Formal adalah komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi yang secara tegas telah direncanakan dan ditentukan dalam struktur organisasi formal. Komunikasi formal ini mencakup susunan tingkah laku organisasi, pembagian departemen atau tanggung jawab tertentu, posisi jabatan, dan distribusi pekerjaan. 

        Ada tiga bentuk arus komunikasi dalam jaringan komunikasi formal seperti yang tertera dalam struktur yakni: a.  Downward communication (komunikasi ke bawah), b.  Upward communication (komunikasi ke atas), c.  Horizontal communication (komunikasi horizontal).

        Komunikasi ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari atas ke bawah. Komunikasi ke bawah biasanya diberikan oleh pimpinan kepada bawahan atau kepada para anggota organisasi dengan tujuan untuk memberikan pengertian mengenai apa yang harus dikerjakan oleh para anggota sesuai dengan kedudukannya. Pesan-pesan tersebut dapat dijalankan melalui kegiatan: Pengarahan, petunjuk, perintah, teguran, penghargaan, dan keterangan umum. Menurut Lewis (dalam Arni, 2002), komunikasi ke bawah juga dimaksudkan untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan, dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Komunikasi ke bawah ini dapat diberikan secara lisan, tertulis, dengan gambar atau simbol-simbol, dalam bentuk surat edaran, pengumuman atau buku-buku pedoman karyawan/anggota.

      Komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari bawah ke atas, yakni pesan yang disampaikan oleh para anggota organisasi/ bawahan kepada pimpinan. Komunikasi ini dimaksudkan untuk memberikan masukan, saran  atau bahan-bahan yang diperlukan oleh pimpinan agar pimpinan dapat melaksanakan fungsi dengan sebaik-baiknya. Selain itu komunikasi ke atas ini juga menjadi saluran bagi para anggota/karyawanuntuk menyampaikan pikiran, perasaan yang  berkaitan dengan tugas-tugasnya. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan: pemberian laporan, pemberian saran/pendapat, baik secara lisan, tertulis atau dengan menggunakan simbol dan gambar.

     Komunikasi horizontal atau mendatar terjadi diantara orang-orang yang mempunyai kedudukan sederajat atau  satu level. Pesan yang disampaikan biasanya berhubungan dengan tugas-tugas, tujuan kemanusiaan, saling memberi informasi, penyelesaian konflik, dan koordinasi. Koordinasi diperlukan untuk mencegah tendensi-tendensi, selain itu juga dimaksudkan untuk memelihara keharmonisan dalam organisasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara; rapat-rapat komite, interaksi informal, memo dan nota, dan lain-lain.

     Komunikasi Informal  adalah komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi atas dasar kehendak pribadi, tanpa memperhatikan posisi/kedudukan mereka dalam organisasi. Informasi dalam komunikasi informal ini mengalir ke atas, ke bawah, atau secara horizontal, dan ini terjadi jika komunikasi formal kurang memuaskan anggota akan informasi yang diperlukan. Komunikasi informal disebut juga dengan grapevine (desas desus) cenderung berisi laporan rahasia mengenai orang, atau kejadian-kejadian di luar dari arus informasi yang mengalir secara resmi. Namun walaupun informasinya bersifat informal,  grapevine ini bermanfaat bagi organisasi. Bagi pimpinan grapevine dapat menjadi masukan tentang perasaan karyawannya, sedangkan bagi sesama karyawan komunikasi informal ini bisa menjadi saluran emosi mereka. Agar komunikasi berjalan efektif maka diperlukan jaringan komunikasi (network) baik yang bersifat formal maupun informal.

KESIMPULAN
    Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain dalam lingkungan oraganisasi. Dalam penyelenggaraan organisasi komunikasi sangat diperlukan sebab dengan komunikasi akan muncul hal-hal positif seperti:
1.    Timbulnya kemahiran dalam bekerja.
2.    Timbulnya semangat dalam bekerja.
3.    Timbulnya kerja sama.

    Dengan adanya hal-hal positif di atas, maka dalam sebuah organisasi, komunikasi harus terselenggara dengan  baik dan efektif. Komunikasi dapat dikatakan berjalan baik dan efektif apabila setiap anggota memperoleh keterangan-keterangan yang jelas dalam melaksanakan pekerjaannya. Lewat komunikasi rasa ingin tahu dapat tersalurkan, hal ini mampu mendorong semangat kerja. Selain itu komunikasi juga membantu menyatukan anggota organsisasi untuk bekerja sama. Oleh karena itu komunikasi mutlak diperlukan demi tercapainya tujuan organisasi.

SARAN
      Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa komunikasi dalam organisasi itu mutlak diperlukan demi tercapainya segala tujuan dalam organisasi. Dalam berbagai bentuk kontekstualnya, komunikasi merupakan peristiwa psikologi dalam diri masing-masing peserta komunikasi, seperti yang terungkap dalam berbagai teori seperti teroi simbolis atau yang lainnya. Dengan kata lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan, psikologi menganalisis karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi prilaku komunikasinya. Sedangkan pada diri komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya, apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain, sementara sumber komunikasi yang lain tidak. Oleh karena itu, disini peneliti ingin menyarankan komunikasi yang efektif dalam organisasi yang didalamnya terdapat unsur psikologis. Ada lima ciri-ciri komunikasi efektif:
  1. Psikologi komunikasi dapat memberikan pengertian, yakni penerimaan yang cermat dari isi stimulus seperti yang dimaksudkan oleh komunikator.
  2. Psikologi komunikasi dapat memberikan kesenangan, yakni komunikasi fatis (phatis communication), dimaksudkan memenimbulkan kesenangan. 
  3. Psikologi komunikasi dapat mempengaruhi sikap, dimana komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikate.
  4. Psikologi komunikasi dapat membentuk hubungan sosial yang baik, dalam hal ini manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. 
  5. Psikologi komunikasi mampu mempengaruhi tindakan, seperti sifat persuasif yang juga ditunjukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki.


DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri. 2004. Wacana Komunikasi Organisasi. Bandung: Mandar maju.

Dan B.Curtis – James J. Floyd – Jerry L. Winsor. 1998.  Komunikasi Bisnis dan   Profesional. Bandung: Rosdakarya.

Dydiet Hardjito.1995.  Teori Organisasi dan Tehnik Pengorganisasian. Jakarta: Raja Grafindo

http://tryisnumberone.blogspot.com/2013/03/peran-komunikasi-dalam-organisasi_29.html

Joseph A. DeVito. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional Books.

Miftah Thoha.1993. Perilaku Organisasi. Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

R.Wayne Pace & Don F. Faules. 1998. Komunikasi Organisasi (Terj). Bandung: Rosdakarya.

Redi Panuju. 2001. Komunikasi Organisasi. Yokjakarta: Pustaka Pelajar.

Richard M.Streers.1985. Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlangga.

S. Djuarsa Sendjaja. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sendjaja. 1994. Teori-Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Monday, 15 February 2016

OPINI: PANDANGAN MAKNA PENGABDIAN DALAM LINGKUP PONDOK PESANTREN

Oleh: M. Amirur Rijal Arifin  
 (Opini dari pengurus HIMMABA Pusat 2014)

Dengan adanya Proker dalam  Devisi Pengembangan Organisasi yakni pengadaan Buletin HIMMABA dan  News Latter. Pengurus HIMMABA PUSAT  mengadakan  silaturrahmi serta wawancara kepada orang yang berpengaruh berpengaruh besar dalam mengembangkan Organisasi ini dan mengabdi kepada HIMMABA. Oleh karena itu pengurus HIMMABA PUSAT mengangkat  tema tentang Esensi Makna Pengabdian Dahulu dan Sekarang dalam Lingkup Pondok Pesantren.

Dalam wawancara yang dilaksanakan di kediaman Bapak M. Masyhur terletak di Desa Laren Kabupaten Lamongan. Yang dilaksanakan pada tanggal 09-02-2015. Dalam wawancara ini dari Pengurus HIMMABA PUSAT menugaskan  Sedulur M. Riris El-Yusi dengan Sedulur M.Amirur Rijal A  guna melakukan wawacara tentang tema tersebut dengan tujuan agar para alumni lebih mengenal antara makna pengabdian dahulu dan sekarang.  Dan tidak hanya mengartikan mengabdi hanyalah hormat kepada guru, patuh terhadap perintahnya atau dalam bahasa Pesantren  menyebutkan سمعًا وَ طًاعَةً  yang berarti mendengar dan ta’at dalam artian mendengarkan nasehat dari ustad atau kiyai dan ta’at dalam melaksanakan apa yang mereka perintah. Akan tetapi dalam  pandangan Bapak M. Masyhur yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisariat HIMMABA UIN Malang pada Tahun (2004-2005)  menurut beliau pada dasarnya pengabdian itu mempunyai makna luas, dan kita bisa mengabdi kepada siapa saja dan dimana saja. Akan tetapi alangkah lebi baiknya kita dapat mengabdi dalam pondok pesantren  di dalam HIMMABA tidak bisa lepas dari 3 hal yaitu :

1.  Tentang keilmuan

Dalam artian bagaimana kita bisa mengamalkan ilmu yang kita dapat apalagi kita adalah alumni pondok pesantren alangkah baiknya kita mengamalkan ilmu yang kita peroleh layaknya dalam suatu maqola yang masyhur dikalangan pesantren
"العلم بلا عملِ كَالشَجَرِ بِلاَ ثَمَرِ"
Yang artinya Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon  yang tidak berbuah.

2.    Sebagai Uswatun Khasanah

Dalam artian kader HIMMABA diharuskan menjadi suri tauladan yang baik dalam melaksanakan setiap kegiatan yang berhbungan dengan masyrakat, baik bersifat agama dan sosial . Kader HIMMABA siap untuk terjun dalam masyrakat dan memberikan pengaruh yang signifikan dalam masyrakat tersebut sehingga alumni Pesantren dapat diandalkan  dalam  segala hal baik kegiatan yang bersifat sosial dan keagamaan. Dan disegani oleh masyarakat sekitar.

3.    Sebagai  رحمة للعالمين
Makna رحمة للعلمين menurut beliau kader HIMMABA bisa menjadi orang yang dapat mensejahterakan dalam kehidupan masyrakat sekitar dan menjadi pelopor dalam segala kegiatan. Dan kader siap dalam mengabdikan dirinya dalam pesantren maupun masyrakat. Menuangkan segala ide yang baik dalam mensejahterakan masyrakat serta menjadi motivator dalam kegiatan yang bersifat religius. Dan HIMMABA  juga harus berkhidmat dalam masyarakat.

Adapun beberapa kutipan Wawancara sedulur Yusi dengan Bapak M. Masyhur :

Sedulur Yusi : pak bagaimana cara menghindari rasa minder dalam diri kader menurut pandangan jenengan?

Bapak Masyhur : 
dengan cara memaksa kader tersebut untuk mengikuti segala kegiatan yang diadakan HIMMABA baik dikampus atau diluar kampus. Dengan contoh : mendelegasikan salah satu kader menjadi khotib di  suatu daerah maka dengan sindirinya rasa minder tersebut akan hilang dan membuat kita menjadi lebi pede dan berani tampil dalam segala kegiatan dan disertai dengan niat dalam diri kita bahwa kita bisa melakukannya. Atau bisa mendelegasikan 4-5 kader dalam kegiatan masyarakat. Atau ketika dibutuhkan oleh masyarakat.

Dalam pesan beliau mengatakan bahwa HIMMABA harus bisa berkhidmat dalam masyrakat khususnya dengan khidmat kepada Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras  Jombang yang telah memberikan segala ilmunya kepada kita. Dan waktunya kita untuk membalas dengan cara mengabdikan diri kita terhadap pondok Pesantren degan cara mengabdikan diri kepada Organisasi HIMMABA dan membawa nama baik namanya. Walaupun tidak terasa sekrang pasti kita akan merasakan setelah mengabdi kepada HIMMABA khususnya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Dan ingat tidak ada kata udzur dalam berjuang

Wednesday, 30 December 2015

LIGKUNGAN SOSIAL PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan hal yang urgent kehadirannya bagi suatu bangsa, hal ini dikarenakan pendidikan mempunyai peranan yang besar dalam membangun suatu bangsa kearah yang lebih baik. Dalam sistem sosial, pendidikan memiliki peran sebagai fasilitator dalam mengantarkan suatu individu menemukan posisinya di lingkungan sosial, mengingat pengelompokan status sosial, kelas sosial, serta stratifikasi sosial juga dipengaruhi oleh suatu pendidikan yang telah ditempuh oleh seseorang.

Bagi bangsa Indonesia, Pendidikan merupakan alat untuk merealisasikan tujuan bangsa Indonesia sebagaimana tertera dalam pembukaan undang-undang dasar (UUD) Republik Indonesia tahun 1945, disana dikatakan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan menciptakan ketertiban umum. Dengan demikian satu cara alternatif yang dapat dilakukan pemerintah khususnya, dan umumnya seluruh rakyat Indonesia untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah pengelolaan pendidikan. Pendidikan merupakan jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga melalui kualitas SDM yang tinggi, diharapkan mampu menciptakan ketertiban umum dalam bangsa Indonesia sebagaimana disebut dalam pembukaan UUD 1945.

Paparan diatas memberikan isyarat pada kita semua bahwasahnya pengelolaan pendidikan merupakan hal yang vital bagi suatu bangsa, oleh karenanya sesungguhnya suatu pendidikan bukanlah tanggungjawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab segenap warga Indonesia. Dengan demikian nantinya diharapkan akan muncul budaya pendidikan dikalangan warga Negara Indonesia, mengingat pendidikan merupakan suatu hak yang melekat pada seluruh masyarakat Republik Indonesia. segenap warga republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk menerima suatu pendidikan, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, pihak pemerintah pun berusaha semaksimal mungkin mengikutkan serta melibatkan masyarakat dalam sebuah pendidikan, baik itu menyangkut sistem atau pun yang lain. Salah satu bukti yang megafirmasi argument tersebut adalah peraturan Departemen Pendidikan Nasional  (Sekarang: Kementerian Pendidikan dan Budaya) tentang guru dan dosen. Dalam peraturan peraturan tersebut dikatakan bahwa sebagai sebuah profesi, seorang guru dituntut untuk menguasai empat kompetensi antara lain: Pertama Kompetensi Pedagogig, kompetensi ini mengharuskan seorang guru untuk memiliki kemampuan-kemampuan yang berkenaan dengan metode, strategi, serta pendekatan dalam hal mengelola sebuah pembelajaran. Dengan demikian nantinya diharapkan akan tercipta sebuah pembelajaran yang efektif, efisien, serta berkembang, baik itu berlaku bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Kedua Kompetesi Kepribadian, kompetensi ini wajib hukumnya untuk dikuasai oleh seorang guru, meningat seorang guru sejatinya merupakan sebuah “uswah”, panutan, rujukan, serta suri tauladan yang menjadi contoh bagi para murid-muridnya. Ketiga Kompetensi Profesional, kompetensi ini mengharuskan seorang guru memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi, intelektual, serta sumber daya mereka , sehingga nantinya hal ini akan menjadi sebuah modal bagi seorang guru dalam mengarungi lautan pendidikan. Dan keempat kompetensi Sosial, kompetensi ini menghruskan seorang guru untuk dapat berinterkaksi dan berkomunikasi secara baik dengan segala hal yang berkenaan dengan lingkungan sosial, seperti dengan murid ketika dikelas, dengan kepala sekolah sebgai seorang pimpinan, atau bahkan dengan warga masyarakat selaku objek utama pendidikan. Kompetensi terakhir inilah yang menjadi sebuah wujud konkret bahwasahnya pendidikan mempunyai kaitan yang erat dengan sebuah sistem sosial masyarakat, mengingat sistem pendidikan dibangun berdasarkan pada kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.

Sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan khusus dalam hal mengelola sistem pendidikan. diantaranya adalah peraturan Menteri pendidikan nasional nomor 09 tahun 2010 tentang pengadaan program pelatihan profesi guru dalam jabatan. Diberlakukannya PPG merupakan sebuah media sertifikasi yang ditujukan pada para guru, kebijakan tersebut tiada lain bertujuan untuk meningkatkan keprofesionalan guru. Mengingat dizaman globalisasi ini sangatlah kompleks akan tantangan-tantangan baik yang bersifat inter ataupun ekstern.

Sebagaimana tertera dalam peraturan tersebut pada pasal 1 nomor 1 dikatakan bahwa Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian seorang guru dikatakan benar-benar menjadi guru yang legal jika ia sudah mendapatkan sertifikat kependidikan yang ia dapatkan dari pendidikan profesi guru (PPG), jadi lulusan Strata 1 program pendidikan tidalah cukup untuk menjadi seorang guru yang dilegalkan Negara. Kebijakan pemerintah tersebut tiada lain bertujuan untuk  meningkatkan keprofesioanalisme guru yang nantinya diharapkan akan mampu membangun pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah sebenarnya tidak hanya menitik beratkan pembenahan  pada para guru, pembenahan juga perlu dilakukan pada sektor kepala sekolah sebagai seorang yang memimpin sekolah. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu para kepala sekolah adalah mengelurkan  undang-undang nomor 13 thun 2007 tentng standar kepala sekolah/ madrasah yang dikeluarkan oleh pihak kementerian pendidikan. Dalam peraturan yang ditandatangani oleh Bambang Sudibyo selaku ketua kementerian pendidikan pada saat itu, terdapat beberapa hal yang menjadi titik perhatian bagi para kepala sekolah, dimana seorang kepala sekolah juga dituntut harus memiliki kompetensi-kompetensi pokok, sepertihalnya seorang guru. Kompetensi-kompetensi tersebut terdiri atas lima hal. Pertama yakni Kompetensi Kepribadian, kompetensi ini diikutsertakan mengingat kepala sekolah merupakan seorang leader yang menjadi uswah dalam suatu lembaga pendidikan. Kedua Kompetensi Manajerial, melalui kompetensi ini diharapkan agar seorang Leader di suatu lembaga pendidikan mampu menjadi seorang manager yang mampu mengelola sistem sosial masyarakat,. Ketiga Kompetensi Kewirausahaan, dengan adanya kompetensi ini diharapkan seorang kepala sekolah melakukan inovasi-inovasi bagi keberlangsungan suatu lembaga pendidikan, sehingga nantinya suatu lembaga tersebut akan mapan baik finansial, akademik, maupun sarana prasarana. Keempat Kompetensi Supervisi, adanya kompetensi ini memberikan tambahan tugas  untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi kinerja para pendidik dilembaga tersebut, sehingga nantinya diharapkan akan meningkatakan keprofesionalitas para pendidik dalam lembaga tersebut. Kelima Kompetensi Sosial, Kompetensi ini hukumnya wajib untuk  mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan sebaik-baiknya dengan stekholder-stekholder suatu organisasi, termasuk dalam organisasi pendidikan

Tuesday, 29 December 2015

NOSTALGIA: DIKJUR HIMMABA UIN 2013, STAMINA MENULIS MUNCUL DI HIMMABA

NOSTALGIA: DIKJUR HIMMABA UIN 2013, STAMINA MENULIS MUNCUL DI HIMMABA
FOKUS: Peserta Diklat Jurnalistik mendengarkan materi yang disampaikan jurnalis Radar Malang
HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum) merupakan salah satu dari organisasi mahasiswa ekstra kampus UIN Maliki Malang, Organisasi ini berdiri pada tanggal 13 Desember 1983. Sebagai organisasi alumni tujuan organisasi ini tiada lain yakni demi mempererat tali ukhuwah antar alumni. Akan tetapi sejatinya dibalik itu, adanya organisasi bernama HIMMABA mempunyai nilai kesakralan tersendiri. HIMMABA berdiri atas dawuh pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, “KH. Najib Wahab”, agar membimbing para adik-adik alumni yang meneruskan jenjang pendidikan di luar bumi Bahrul ‘Ulum.  Uniknya mereka dalam kesehariannya menggunakan “Sedulur-seduluri” sebagai panggilan khusus anggotanya. 

Perjuangan dalam mengembangkan dan memajukan organisasi ini dari seumur jagung hingga dewasa ini tidak lepas dari jerih payah pengurusnya. Kemarin, tanggal 30 November 2013, dilaksanakanlah sebuah event menarik sebagai bukti adanya keaktifan sebuah organisasi, yang cukup menyedot rasa keingintahuan para anggota. Event yang diberi nama “Diklat Jurnalistik” tersebut dilaksanakan di Wisma Café Metro.

Suasana diklat semakin lengkap dengan kehadiran pemateri yakni Abdul Mutholib sang redaktur Pelaksana Jawa Pos, Radar Malang. Kunjungannya selain memberi motivasi dan kiat-kiatnya dalam hal tulis-menulis, beliau juga ingin bertatap langsung dengan wajah-wajah anggota HIMMABA Angkatan 2013, serta dalam rangka reuni (temu kangen) dengan para pengurus karena memang sang redaktur dahulunya merupakan anggota HIMMABA angkatan ’90-an, dapat dikatakan pula sebagai saksi bisu perjuangan HIMMABA.

Event tersebut dilakukan selama dua hari yang meliputi ceramah motivasi, dialog santai seraya mengajak anggota untuk giat dan membangun budaya menulis.

Salah satu ungkapan bapak. Abdul bahwa “Sebuah tulisan itu layaknya penceramah abadi yang tak lekang oleh zaman. Seorang tokoh Al-Ghozali pun dapat tersohor namanya dengan karya-karya tulisnya yang membumi melintang di seluruh dunia dan dijadikan panutan setiap orang sampai saat ini.” Begitulah ungkapan motivasi yang terngiang-ngiang di telinga pendengar.

Ia pun mengatakan, pada dasarnya kunci keberhasilan menulis itu terletak dari dalam diri manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, menulis sangatlah membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra serta seringnya latihan. Dengan itu, kita dapat terbiasa melakukan tulis-menulis hingga lancar. 

“Menulis itu seni, gabungan dari otak, tangan, dan perasaan yang harus terus menerus diasah kemampuannya” tutur sedulur Abdul Mutholib. Inilah uniknya sebuah tulisan, setiap patah katanya dipenuhi dengan sastra, ungkapnya lagi. Ungkapan-ungkapanya itu menyihir anggota untuk terus mengikuti setiap kata yang diucapkan sang Redaktur. Munculah kesadaran dari para anggota bahwa menulis itu sesuatu yang sangat unik, menarik, dan patut dicoba.

Menurutnya, hal pertama kali yang harus diperhatikan saat memulai menulis adalah dalam pemilhan kata (diksi) pertama. “Mengapa bisa demikian??” Karena disitulah letak “Angel” seorang penulis. Angel merupakan sisi atau sudut pandang seseorang yang membedakan sebuah tulisan dengan penulis lain. Dapat dikatakan pula kalimat pertama sebagai mutiara yang paling berharga dalam sebuah tulisan.

Beliau melanjutkan, “Adapun perihal pemilihan kata bagi seorang jurnalis terletak dari segi bahasanya. Diantaranya; keefektifan, simpel, lugas, dan mudah dipahami ” Ujarnya.

Menurutnya prinsip seorang pembaca tiada lain ingin paham dengan tulisan anda, maka dari itu penulis tidak boleh egois. Dalam artian penulis jangan mentang-mentang seorang yang akademis sehingga penggunaan katanya begitu tinggi. Justru, gunakanlah pilihan kata yang sekiranya dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Setelah materi dipaparkan, diklat ini menjadi lebih efektif yaitu dengan adanya praktek langsung di lapangan. Karena sebuah materi saja tidaklah cukup, apalagi dilihat dari pendengarnya sebagian besar berasal dari mahasiswa baru yang tentu saja masih pemula dan awam dalam perihal tulis-menulis. 

Dengan sistem yang sangat menggelitik ini, para anggota mencoba menumpahkan segala idenya dalam sebuah tulisan yang hanya diberi waktu sekitar setengah jam saja. Ternyata hal ini cukup mengasah kemampuan anggota. Setiap kesalahan hasil tulisan anggota, sedulur Abdul Mutholib mencarikan solusi-solusi jitu beserta kiat-kiat yang menjadikan tulisan benar-benar menggambarkan jati diri seorang jurnalis. Ia juga menyampaikan trik-trik tulisan agar layak dimuat di media massa..

“Banyaknya kesalahan-kesalahan dalam tulisan itu tidak menjadi penghalang untuk terus melanjutkan sebuah karya-karya cemerlang selanjutnya”. Kata ini menutup pembicaraan sang Redaktur itu.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penyerahan cenderamata dari pengurus HIMMABA sebagai ucapan terima kasih kepada sang redaktur. Dilengkapi pula dengan makan dan berfoto bersama yang sangat meriah serta penuh dengan rasa kekompakan.  

Oleh: Siti Wahyuni - Istimewa HIMMABA 2013
(Tulian pernah dimuat di newsletter Lensa HIMMABA Komisariat UIn Maliki 2013 bulan November 2013)

Sunday, 20 December 2015

REFLEKSI: Antusiasme Anggota HIMMABA UM

      Memang tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan pergerakan organisasi kemahasiswaan semakin marak pasca reformasi 1998, hal ini dibuktikan dengan menjamurnya organisasi bersifat kemahasiswaan diberbagai lembaga pendidikan tingkat tinggi, mulai dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang terlahir dari rahim Nahdlatul ‘Ulama, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah) yang menjadi tombak organisasi Muhammadiyyah, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslaim Indonesia), hingga GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Organisasi mahasiswa sebagaimana diatas merupakan organisasi yang membudayakan diri dalam rana “pergerakan nasional”. Selain maraknya organisasi pergerakan, di era reformasi kini juga semakin marak organisasi kemahasiswaan dalam rana yang berbeda, sebut saja MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) yang memfokuskan diri dalam rana pelestarian alam, KOMMUS (Komunitas Mahasiswa Musik) dalam bidang pengembangan musik, hingga menjamurnya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)  di berbagai lini kehidupan mahasiswa.

Menjamurnya eksistensi organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi pasca reformasi juga berimbas pada HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul ‘Ulum) yang sudah berdiri sebelum reformasi 1998. Menghadapi pergolakan organisasi kemahasiswaan pada akhirnya menuntut HIMMABA mengembangkan diri kearah yang lebih progresif, sepetihalnya pembentukan pengurus FK-2 (Forum komunikasi Komisariat) sebagai cikal bakal HIMMABA Cabang, hingga pembentukan pengurus Komisariat di berbagai perguruan tinggi Malang Raya, hingga berkontribusi dalam pembentukan IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul ‘Ulum) di tahun 2004.

Pembentukan Komisariat HIMMABA UM pada bulan April 2001 merupakan salah satu langkah konkrit kepengurusan HIMMABA Cabang periode pertama untuk mengembangkan nilai sosial kemasyarakatan di kampus Universitas Negeri Malang (UM) yang berjuluk “the learning university”. Mengingat di kampus yang sebelumnya dikenal dengan nama IKIP (Institut Kegurusan Ilmu Pendidikan) Malang  tersebut semakin marak akan organisasi kategori intra kampus (OMIK) dan organisasi ekstra kampus (OMEK).

Organisasi intra kampus seperti UKM, HMJ, DMF, DPM, BEM di tingkat Fakultas ataupun tingkat Universitas, selama ini di pandang negatif dikarenakan dalam pencarian keanggotaan hanya selalu mengambil anggota yang hanya dalam oposisi pengkaderan perpolitikannya, sebut saja OMEK, sehingga posisi OMEK disini seakan di pandang sebuah organisasi yang asing tanpa identitas yang jelas bagi kalangan netral, yang di pandang juga hanya memiliki sebuah visi misi dalam perpolitikan kampus yang hanya mementingkan kelompoknya, namun lain halnya dengan HIMMABA yang masih hanya terdengar dikalangan “teman sekelas” atau kalangan organisasi ke-Al Quranan dan  kerohanian islam kampus. Sehingga kiprah HIMMABA Komisariat UM seakan-akan kurang menonjol.

Tidak luput dari itu HIMMABA termasuk Komisariat UM sendiri dalam perkembangannya memang selalu mengalami pasang surut seperti laut, ketika malam akan pasang dan ketika pagi mengalami surut, tetapi pasang surutnya HIMMABA bukan dilihat dari malam dan paginya melainkan dilihat dari siapa yang memimpin? Bagaimana cara menjalankan program kerjanya?, bagaimana dalam mengkader / mejaga adik adiknya? Serta bagaimana ketertarikan anggota terhadap ketua?. Dalam konteks pemimpin di HIMMABA sendiri  kita mendengar dua istilah yakni ketua cabang yang membawahi komisariat dan ketua komisariat yang merupakan bagian dari cabang.

Melihat dari sisi ketua komisariat, contoh ketua HIMMABA Komisariat UM di tahun 2015 ini, sedulur Ahmad Mufid yang merupakan ketua putra pertama yang sempat beberapa tahun selama 2 periode kepengurusan di ketuai oleh putri, yaitu seduluri Imroatus Sholihah ditahun 2013-2014 dan seduluri Rahma Fitriana ditahun 2014-2015. Dalam perkembangan setiap periode memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Menginjak ke tahun 2015 ketika pertama kalinya di ketuai oleh sedulur Ahmad Mufid yang memiliki watak pendiam tanpa banyak bicara, santai terkadang bertindak cepat, tidak mudah (sulit) dalam bercanda, sehingga memiliki kekurangan diantaranya antara lain:
  1. Kesulitan dalam mengkader anggota sesama alumni Bahrul ‘Ulum yang berada di UM (HIMMABA UM)
  2. Kurang memiliki kemampuan dalam hal ketegasan ketika sebuah organisasinya mengalami masalah tertentu.
  3. Disisi lain juga kurang komunikasi yang nyata dalam interaksi keakraban sehingga di khawatirkan banyak anggota yang sudah tidak aktif.
  4. Serta kurang tanggap terhadap proker proker yang besar sehingga dalam program kerjanya masih relatif level menengah kebawah.

       Namun, tidak lepas dari kelemahan pasti memiliki sebuah kelebihan walaupun kurang menonjol di tingkat cabang atau komisariat lain, HIMMABA Komisariat UM yang dipimpin oleh sedulur Ahamd Mufid memiliki beberapa kelebihan antara lain :
  1. Mudah diingat oleh anggota HIMMABA UM baik dari segi penampilan ataupun gaya kepribadiannya sehingga bisa menjadi sedikit panutan dalam berorganisasi
  2. Ketika menyandang kurang gaya serta sedikit bicara pasti tidak lepas pula kecakapan dalam bertindak, sehingga memiliki ketangkasan bagaimana dan apa yang harus dilakukan sekarang tanpa harus berpikir panjang dan berlama lama berfikir.
  3. Dalam hal proker, memiliki hal tingkat keaktifan dan peningkatan yang lebih jelas semisal dalam ke-Istiqomahan rutinan yang dilakukan setiap malam jumat, bisa dilihat di periode periode yang lalu ketika dalam rutinan anggota yang datang masih di kisaran 5-8 anggota yang hadir, tetapi di kepemimpinan yang saat ini bisa lebih dari 8 anggota yang hadir bahkan 10 keatas yang terdiri dari beberapa angkatan.
  4. Keefisienan waktu dalam melaksanakan program kerja lebih tertata sehingga istilah “jam karet” yang seringkali dijumpai pada beberapa organisasi perlahan lahan mulai terkikis.

        Terlepas dari kelemahan dan kelebihan sebenarnya masih banyak program kerja yang memang harus terealisasikan untuk kalangan umum ataupun kalangan sesama anggota HIMMABA se Malang raya, sehingga yang menjadi harapan bagi pribadi adalah perlu adanya dukungan dari pengurus, anggota, ataupun dari yang lebih tinggi di tingkat cabang agar terjadi istilah mlaku ‘’bareng, maju bareng’’ bisa berjalan sebagaimana tujuan yang di harapkan. 

Thursday, 17 December 2015

CERPEN: Aku Tidak Gila

Semua menjadi berubah setelah kejadian yang mengenaskan itu. Peristiwa naas itu merenggut segalanya dari hidupku, perusahaanku, kebun, villa dan semuanya. Entah bagaimana seolah lepas dari anganku, bukan hanya itu keluargaku tak ada satupun yang peduli diriku lagi. Kini tinggal hanya diriku disebuah rumah besar dengan taman yang luas dan teman cewek yang bernama Cantika.

Orang-orang disekitarku nampak aneh, jarang yang mengajakku bicara bahkan kuajak bicarapun tidak ada yang merespon, aku sendiri tidak mengerti mungkin karena sekarang aku sudah tidak berdasi dan sudah tidak naik mersi lagi. Terkadang yang membuat aku sebel tak seorangpun yang menjawab ketika kutanya tentang keadaan kekasihku Inay, ada yang seperti sedih, murung, manangis lalu pergi, bahkan ada yang seperti mentertawakanku. Aku tinggal sendiri didunia ini, temanku hanya rumah, tempat tidur, kursi, taman, kamar mandi dan semua benda mati, hingga hanya pada mereka aku berbagi, aku selalu menumpahkan segalanya dengan Cantika, sebab hanya gadis itu yang setia mendengarku, namun ia juga tidak mau cerita kemana kekasihku Inay pergi, dan selalu bilang besok ia pasti datang tapi hari demi hari kutunggu Inay tidak kunjung datang.

Suatau hari akau tak mampu lagi menahan rasa riduku padanya, sebab sudah berhari-hari aku tidak nyenyak tidur dan makanpun tak enak, selalu teringat Inay. Karnanya pagi hari sebelum subuh saat semua masih terlelap dalam mimpinya, aku mengendap-endap meninggalkan rumah, tak tahu akan kemana yang jelas ku telusuri jalan menurutkan langkah kaki untuk mencari pujaan hati, sampailah aku disuatu tempat yang banyak kerumunan orang entah dimana yang jelas semua melihat kearahku mungkin karena aku memakai kaos oblong putih celana pendek dan tanpa alas kaki, hingga mereka merasa aku tidak layak disekitar mereka, maka dengan pura-pura cuek dengan keadaan. Aku menuju kamar mandi umum dan menukar baju disana, ketika aku keluar dari kamarmandi tiba-tiba orang-orang ramai-ramai mendatangiku dan tanpa banyak bicara semua mengayunkan tinjunya padaku, entah mengapa mereka begitu jahat padaku, tapi karena tidak merasa bersalah aku hanya tersenyum-senyum saja, mungkin karena melihatku yang seperti tidak kesakitan sama sekali mereka berhenti memukuliku, kemudian mundur satu persatu dan salah satu dari mereka melempar kaos oblong yang tadi kupakai dan seteleh itu dua orang berpakaian seperti hansip menggandeng tanganku dan membawaku keluar.

Setelah kejadian itu aku kembali menelusuri trotoar menurutkan kemana kakiku berjalan, sampailah aku didepan sebuah pusat pertokoan, dan alangkah girangnya hatiku begitu melihat seorang  gadis keluar dari toko, aku yakin itu dirimu walau sudah berusaha untuk melupakanmu, menghapus reliefmu dari hatiku namun sampai saat ini dirimu selalu mengisi relung-relung hatiku, karnanya tanpa menunggu komando dari apapun dan siapapun aku langsung mendekatinya, namun alangkah terkejutnya saat kulihat ada seorang laki-laki menjajari langkahmu, tapi aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini ‘Inay..... sapaku padanya dengan tatapan penuh harap dia memandangku seperti merasa ada keanehan ‘namaku bukan Inay’ ucapnya, namun aku terus mengejarnya bahkan berani mnarik tasnya lalu tiba-tiba plak.. tiju laki-laki disamping Inay mengenai wajahku dan mereka berdua lari meninggalkanku yang kesakitan. Arus kebahagiaan dan penderitaan manusia senantiasa timbul tenggelam tiada hentinya, tiada perasaan bahagia yang abadi semua perasaan bahagia sesungguhnya telah mengandung benih-benih penderitaan, seperti halnya kebahagiaanku berjumpa dengan Inay harus berakhir dengan kehilangan tuk selama lamanya.
Dengan langkah lunglai kutinggalkan tempat itu menyusuri jalan entah berapa jauh aku berjalan hingga tak terasa malampun tiba dan kakikupun sudah tidak mampu lagi menopang tuguhku, kuhentikan langkahku di bawah jembatan berkumpul bersama anak-anak jalanan yang sedang melepas lelah dan kantukpun mneyerangku, tak terasa aku sudah berbaring diantara anak-anak jalan dan tumpukan sampah. Siapa yang mengira aku yang dulu tidur di kamar ber AC dengan fasilitas yang serba elit kini berada di kolong jembatan demi mencari seorang kekasih yang ternyata tidak setia.

Tak terasa sinar matahari menyengat kulitku dan ku tengok sekelilingku tinggal diriku sendiri. Oh.. ternyata aku sendirian lagi.. dari sini timbuk keinginanku untuk mencari Inay lagi. Kembali ku lsusuri jalan yang membangun harapan menemukan kebahagiaan, hingga sampailah aku di toko baju yang besar, aku yakin Inay pasti disini, dia gemar sekali belanja baju-baju model terkini, aku menunggunya di depan toko, ternyata harapanku tidak sia-sia, menjelang tengah hari kulihat seorang gadis berbaju merah keluar dari mobil, yach... itulah Inay, aku tetap mengenalnya meski dia merubah penampilan dengan menanggalkan jilbabnya dan tidak lagi memakai baju panjang, tanpa babibu aku berlari mendekatinya, namun alangkah terkejutnya saat kulihat lelaki setengah baya yang keluar dari mobil itu langsung merangkul pinggangnya. Betapa hanvur hatiku ternyata orang yang dulu berhasil meruntuhkan hatiku dengan kelembutan kasih sayang dan perhatiannya kini telah berganti profesi. Aku snagat kecewa sekali, tapi walau begitu entah kengapa hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya hingga aku mendekatinya dan apa yang terjadi benar-benar di luar dugaanku, sebelum kupanggil namanya hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya hingga aku mendekatinya dan apa yang terjadi benar-benar di luar dugaanku, sebelum kupanggil namanya Inay dan laki-laki itu sudah berlari memasuki toko. Kembali ada tanya dihatiku, mengapa Inay tidak mengenalku..? ataukah Inay pura-pura tidak kenal, kupandangi wajahku di spion, ternyata aku memang berubah manakutkan, rambut yang acak-acakan, wajah yang kotor dan banyak bekas memar, apalagi aku kelihatan sangat kurus, memang semenjak keluar dari rumah aku belum makan sama sekali, tapi bukankan semua kulakukan karena kau Inay, tapi mengapa kau harus menghukumku demikian.

Kembali air mataku berlinang, namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan datangnya dirimu lagi yang tetap memakai baju ciri khas merah menyala, tapi kali ini pasanganmu beda lagi, 6 tahun mungkinkah Inay menjadi wanita panggilan...? pilu rasa hatiku seperti tersayat, tubuhku tak mampulagi bergerak wlau hanya sekedar menyapa dan tersenyum aku seperti terpaku di tempat itu ditempatku, hanya dengan menatap dengan pandangan takut berharap, mengapa harus begini gila seseorang mencari-cari kebahagiaannya mengapa harus menemukan kekecewaan dalam kebahagiaan, ataukah aku sudah mengartikan kebahagiaan...!

Hari ini kuputuskan untuk menghapus semua kenangan yang pernah ada antara aku dengan Inay biarlah aku jalani hidup tanpa dirinya lagi, walau sebenarnya sedikitpun dirinya tak terkikis dari ruang hatiku namun sebelumnya aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya untuk itu aku mendatangi sebuah supermarket yang tak jauh dari sebuah jalan. Aku duduk didepannya aku yakin kau pasti akan kesini kutunggu dirimu mulai matahari memancarkan sinarnya sampai saat ia tenggelam namun ternyata harapanku sia-sia dirimu tak hadir disini wlau hanya seberkas bayangan, wujudmu seperti ditelan bumi tiada berbekas sama sekali namun tak goyah aku menunggu sampai saat matahari kembali menyapa permukaan bumi dan saat itulah kesabaranku mendapatkan titik terang kulihat dirimu datang bersama ayah dan ibumu tapi kali ini kulihat kau berbeda dari biasanya, tubuhmu terlihat kecil dengan memakai singlet merah dan rok pendek kulitmupun terlihat putih, dan matamu juga agak sipit tidak seperti biasanya, dan kamupun terlihat ceria dan lincah dengan rambut berkepang dua, kau bergelayut manja di lengan ayah dan ibumu, tapi aku tidak peduli kau berubah atau tidak aku harus menemuimu dan menghilangkan kerinduanku sebelum akau pergi, karenanya aku ikuti dirimu dari belakang dan begitu ada kesempatan aku langsung memelukmu, kau meronta-ronta dan menjerit sementara laki-laki setengah baya yang kupikir adalah ayahmu mencoba membantumu sedangkan ibumu berteriak meminta tolong dan tak lama kemudian orang-orang datang memukuliku, disaat itulah Cantika datang menyelamatkanku dan berjata pada mereka ‘ma’af pasien kami lari dari RSJ, kekasihnya meninggal saat kecelakaan dan ia suka memakai baju merah, karenanya ia menganggap setiap orang berbaju merah adalah kekasihnya’ serentak semua orang berkata oh.. gila.. tapi aku hanya senyum-senyum sendiri siapa bilang aku gila, mereka yang gila buktinya aku masih ingat Inay tapi kenapa aku lupa namaku, siapa namaku..? tak peduli yang penting aku selalu ingat Inay mesti tanganku dipegang orang-orang berbaju putih aku tetap berteriak, ‘Inay.......! I LOVE YOU...!

oleh: Naimah, AR (Himmaba 2001-2002) -